Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bogor, 2013
Sepeninggal Lukas yang kembali ke Jakarta sendirian, hari terasa bergulir cepat menuju sore. Aku menghabiskan waktu dengan mengobrol. Mencari tahu tentang kehidupan di kampung kecil yang agak terpencil itu dari Ceu Umi, sembari memperhatikannya memasak di dapur untuk makan malam. Aku menawarinya bantuan, tetapi ia menyuruhku duduk saja dan membiarkan ia memasak sendiri untuk menghormati tamu.
“Saya kan, jadi nggak enak, Ceu. Masa saya cuma menonton.”
Ia menepuk-nepuk lenganku. “Neng Padma nggak usah repot-repot. Ini sudah mau selesai. Tinggal menunggu nasi matang. Lagi pula yang saya masak juga seadanya. Semoga Neng Padma suka. Soalnya beda sama masakan kota.”
“Itu semuanya kesukaan saya kok.” Aku menunjuk tumis kangkung yang baru saja matang, sepiring ikan asin goreng, dan sambal terasi di cobek, yang sudah disiapkan di atas balai bambu di sebelahku.
Perempuan itu tertawa lega.
Ceu Umi mengatakan bahwa kebiasaan mereka makan malam lebih cepat, sebelum hari gelap. Bagiku itu adalah makan malam yang menyenangkan dan terasa hangat. Pertanyaan-pertanyaan Ceu Umi tentang pekerjaanku dan kehidupanku di Jakarta sama sekali tidak menggangguku, juga celoteh Wulan yang menceritakan ini-itu tentang orang-orang kampung dan teman-temannya. Aku teringat makan malam yang sama menyenangkannya ketika masih ada kedua orangtuaku. Makan malam yang dulu bahkan mengikutsertakan Ghea, ketika kami masih berteman. Juga makan malam bersama Caleb dan kedua orangtuanya di rumah mereka.
Kusingkirkan jauh-jauh rasa sakit dan sedih yang melintas dan kuhapus dengan senyuman ketika menatap Ceu Umi dan Wulan. Dua perempuan kampung yang hidupnya jauh lebih sederhana dari hidupku, tetapi lebih bahagia.
Rumah panggung besar itu terasa nyaman dan hangat meski kurang terawat. Maklum, tidak ada lelaki yang bisa segera membetulkan atap atau lantai lapuk, kata Ceu Umi padaku. Kemudian aku tahu kenapa mereka makan malam sebelum hari gelap. Di rumahnya sudah tak ada listrik. PLN mencabut listrik di rumah Ceu Umi karena menunggak iuran bulanan.
“Yang penting Wulan bisa sekolah, Neng.” Ceu Umi menyalakan sebuah lampu petromak dan beberapa lampu minyak yang akan ia taruh di sudut-sudut rumah. “Sejak bapaknya Wulan meninggal, penghasilan satu-satunya cuma dari pekerjaan saya membantu di sawah dan kebun orang.”
“Ceu Umi kan, masih punya saudara.” Aku teringat pemilik warung yang disebut Wulan sebagai uwaknya. “Tidak ada yang bisa membantu?”
“Orangtua saya sudah meninggal, Neng. Saudara-saudara lelaki saya merantau jauh, kecuali Ceu Eni, kakak perempuan saya yang sering dibantu Wulan menjaga warung. Kehidupan mereka juga tidak berlebihan. Kalau sedang punya rezeki lebih saja paman-pamannya yang merantau mengirim uang sedikit untuk Wulan.” Ia mengusap kepala Wulan yang kini duduk bersimpuh di depan meja rendah, menulis sesuatu. Di samping bukunya, sebuah lampu minyak memberinya cahaya. “Wulan pintar. Nilai-nilainya selalu paling tinggi di sekolahnya. Itu yang menjadi semangat saya. Saya sedang menabung untuk uang masuk Wulan ke SMP Negeri di kecamatan.”