Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Sebuah surat kutemukan di inbox pagi itu, ketika aku mengecek e-mail yang selalu kulakukan setiap pagi.
Dear Ima,
Kau pasti terkejut menerima e-mail dariku. Aku pun terkejut dengan keinginanku menulis ini padamu. Dua hari yang lalu, ada kejadian yang membuatku sangat marah, sekaligus sedih. Aku tidak perlu menjelaskannya, karena kau pasti sudah tahu. Malam itu, aku pulang ke rumah orangtuaku dan melewati rumahmu. Kulihat lampu-lampu menyala dari dalam tanda kau sudah pulang lagi ke rumah. Tiba-tiba, aku ingin mampir menemuimu. Jangan tanya untuk apa. Mungkin saja untuk meminta maaf padamu, atau hanya sekedar melemparkan senyum mengejekku yang biasa. Pokoknya, malam itu aku begitu sedih dan ingin mampir. Namun, kulihat mobil Caleb di depan gerbang. Dia sedang menemuimu rupanya. Maka, aku tidak jadi menemuimu.
Itulah sebabnya, aku bilang tidak perlu menjelaskan kejadian yang menimpaku. Caleb pasti datang untuk menceritakannya padamu, berikut tuduhannya kepadaku. Bahwa aku mencoba membunuh istri Elias dengan membocorkan gas di rumahnya.
Aku tidak melakukannya, Ima. Itulah yang kukatakan pada Caleb, tetapi ia tidak mempercayaiku. Bahkan, Elias pun mencurigaiku ketika aku bertemu dengannya keesokan harinya di rumah sakit. Ketika tuduhan itu dilemparkan kepadaku, tiba-tiba aku menyadari betapa kesepiannya aku. Jika tuduhan itu diceritakan kepada teman-temanku, para kolega dan klienku, apakah mereka akan langsung percaya? Mungkin saja. Mereka tak mengenalku sedalam itu sehingga meyakini hal yang sebaliknya. Lalu, aku ingat padamu.
Kau dulu sahabatku. Kita bertetangga dan berteman sejak masih di Taman Kanak-Kanak. Kau mengenalku sebanyak aku mengenalmu. Kau tahu orang seperti apa aku. Karena itu, aku tahu kau satu-satunya orang yang tidak percaya kalau aku sanggup membunuh orang. Seperti halnya aku tahu orang yang seperti apa dirimu, bahwa kau tidak akan membalasku setiap kali aku merebut pacar-pacarmu. Dan, aku pun memnfaatkan itu.
Maafkan aku, Ima. Aku telah sangat jahat padamu. Aku menjauhimu dan membuangmu seperti sampah, lalu mulai berbuat kejam padamu. Pasti kau ingin tahu kenapa aku berbuat begitu. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Mungkin, itu karena iri. Aku sangat iri padamu.
Kurasa, sekarang ini adalah karmaku. Kau boleh kok, tidak memaafkanku. Itu hakmu, dan layak buatku. Namun, satu hal yang kuminta padamu, maafkanlah Caleb. Semua ini bukan salahnya. Aku telah menempatkan dalam situasi yang tidak bisa dia hindari. Caleb selalu mencintaimu, Ima. Seperti halnya aku selalu mencintai Elias. Betapa bodohnya aku telah mengacaukan semuanya.
Ima, sekali lagi, maaf beribu maaf.
Salam,
Ghea
Kubalas e-mail itu dengan isi yang lugas.
Dear Ghea,
Caleb memang sudah menceritakan apa yang terjadi pada Kak Alana, dan juga tuduhannya terhadapmu. Ia datang malam-malam dengan penuh emosi, dan aku tak menyalahkannya karena ia berpikiran negatif padamu.