5. GHEA (revisi)

815 90 3
                                        

Jakarta, 2013

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, 2013


Harus kukatakan, bahwa aku menyukai apa yang kulihat di depanku sekarang. Caleb yang menatapku dengan mata menyipit kejam, dan Padma yang wajahnya memucat lalu pelan-pelan merah padam. Aku tersenyum, berusaha bersikap tenang. Aku sudah memikirkan hal ini baik-baik. Jangan terbawa emosi, harus merasa santai, dan bicara dengan lemah lembut. Akulah yang harus memegang kendali situasi. Bukan mereka.

Well, hari ini adalah saatnya menjatuhkan bom.

“Ghea, untuk apa kau ke sini?”

Ah, tak kuduga. Padma langsung menyerangku. Persahabatan kami memang sudah putus sejak SMA. Namun, biasanya ia bersikap menahan diri dan sok sabar terhadap segala gangguan yang kutimpakan kepadanya. Kali ini, sepertinya ia sudah berubah.

“Aku boleh gabung, kan?” Aku tersenyum semanis mungkin. Mengabaikan wajahnya yang pucat dan merengut. “Tadi aku kirim pesan ke Caleb, ia bilang lagi ketemu kau di restoran ini. Kebetulan, aku sedang lewat daerah sini sepulang dari kantor klien. Ya sudah, aku belok ke sini. Aku yakin, kalian sedang membicarakan masalahku. Dan, Caleb pasti kesulitan menjelaskan. Jadi, biar aku saja yang menjelaskannya.”

“Kau mau menceritakan kebohongan apa lagi?” sahutnya dingin. “Memangnya sejak kapan kau punya niat baik terhadap orang lain, terutama terhadapku?”

“Kurasa kau harus mendengarkanku kali ini, supaya nanti kau tidak menyalahkanku atas keputusan yang akan kuambil.”

“Keputusan apa?” Padma melotot. Lalu, menoleh kepada Caleb.

Caleb menatapku dengan sorot mata dingin. “Sudah kubilang, aku akan menghubungimu lagi setelah meluruskan beberapa hal. Tetapi, kalau kau mau menjelaskannya langsung kepada Ima, itu adalah keputusanmu. Katakan semuanya. Waktu itu kau sedang curhat karena….”

“Iya, iya.” Aku mengibaskan tangan, memotongnya. “Sudah kubilang juga, kau tidak perlu meluruskan apa pun kepada orang yang bersangkutan. Kenapa tidak percaya padaku, sih?”

“Apa sih, yang sedang kalian bicarakan ini? Kalian sudah melakukan kejahatan apa?”

“Bukan kejahatan, Ima. Jangan berburuk sangka gitu, dong. Aku punya masalah besar. Kau seharusnya kasihan padaku dan membelaku. Kau kan, temanku.”

“Untuk apa aku membelamu? Aku tidak peduli kau punya masalah apa!” tukas Padma. “Dan, berhentilah berkhayal kalau kita masih berteman. Sudah lama aku tidak menganggapmu temanku.”

“Jahat sekali kau ini,” gerutuku. “Aku ini sedang hamil, Ima. Dan, lelaki yang melakukannya tidak mau bertanggung jawab. Sebagai sesama perempuan, apakah kau sungguh tidak punya empati?”

Padma tertegun. Kedua alisnya terangkat seraya menatapku lekat-lekat. “Siapa yang menghamilimu?”

***

Aku bertemu dengan lelaki itu di sebuah acara yang diselenggarakan sebuah merek ponsel ternama yang meluncurkan tipe terbaru mereka. Seorang klien, anak petinggi perusahaan yang mendistribusikan merek ponsel tersebut, mengundangku. Aku pernah bercerita kepadanya, bahwa aku suka berada di tengah keramaian. Aku suka bertemu banyak orang dengan berbagai macam karakter dan gaya berpakaian. Dari situlah aku sering mendapat inspirasi untuk menciptakan rancangan-rancangan baru. Gaya yang lebih up to date, yang kemudian menjadi trend di kalangan anak-anak muda, segmen pasarku.
Klienku itu lantas memberiku undangan VIP.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang