Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buitenzorg, 1896
Mama mengamati kebaya yang baru saja kuselesaikan hari ini dengan cermat. Ia menelusuri garis jahitan, tusukan benang, dan lipatan-lipatan di tepi kain. Kening berkerut sedikit. Aku menunggu komentarnya dengan tegang.
“Pekerjaanmu tidak rapi,” ujarnya kemudian. Mendongak dari kebaya itu ke mukaku dengan tatapan tak senang. “Garis jahitan tidak lurus, kelimnya terlalu lebar, dan ukuran jarum yang kau pakai salah.”
“Maaf, Mama.” Cuma itu yang bisa kukatakan.
Aku sedang tak ingin memberontak hari ini. Terutama karena belakangan ini aku merasa sikap Mama menjadi lebih pendiam. Suaranya yang tegas saat mengatur-atur pekerjaan para babu mulai jarang terdengar. Sikapnya kepada Papa pun dingin. Mama menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-temannya di luar rumah. Berburu, piknik, atau minum teh di rumah Tante Ursula yang pemandangan terasnya menghadap ke pegunungan. Papa tidak sekalipun melarangnya, karena sejak dulu Papa memang membiarkan Mama melakukan apa pun yang disukainya.
“Panggilkan Mirah ke sini, Mietje.”
Aku menatap Mama dengan perasaan ngeri. Apakah Mama akan memarahi Mirah karena jahitanku buruk? “Bukan salah Mirah kalau jahitanku tidak bagus, Ma!” sergahku. “Mirah sudah mengajariku dengan benar. Aku yang bodoh dan tidak sungguh-sungguh mendengarkan apa yang ia bilang.”
Mama balas menatapku dengan sorot mata dingin. “Aku tidak bermaksud memarahinya,” ujarnya. “Ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Kenapa kau berburuk sangka kepada Mama?”
Dalam hati aku merasa lega. Namun, aku jadi merasa tidak enak kepada Mama. Bukan salahku kalau aku berburuk sangka kepadamu, Ma. Demikian ujarku dalam hati. Aku tahu perasaanmu kepada Mirah. Kau membencinya karena kasih sayang Papa kepadanya.
Melihat aku masih diam saja, Mama menghela napas. “Mama harus berteriak dari sini?”
Aku bergegas beranjak. “Tidak perlu, Ma. Akan kupanggilkan!” Kutinggalkan Mama di beranda, dan berlari ke dalam.
Ternyata benar, Mama tidak bermaksud memarahi Mirah. Ia menyuruh Mirah mencarikan sehelai kebaya di lemari. “Yang berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga lonceng merah. Kau sudah mencucinya seminggu lalu. Kau ingat?”
“Tentu, Nyonya. Itu kebaya baru yang dibuat Nyonya untuk Non Mietje.”
Aku terperangah, karena tidak pernah tahu Mama membuatkan kebaya baru untukku.
“Ya, yang itu. Bawa ke sini.”
“Baik, Nyonya.”
“Mama membuatkan kebaya baru untukku? Kapan? Aku tidak pernah melihatnya.”
“Itu karena kau selalu kabur untuk bermain ke luar rumah, Mariana Cornelia,” omelnya. “Tentu saja kau tidak menyadari apa yang Mama kerjakan.”
Mirah kembali beberapa waktu kemudian dengan sebuah kebaya terlipat di tangannya. Mama menerimanya dan membentangkannya di depanku. Kebaya putih dengan hiasan yang cantik. Mama pasti menyulamnya sendiri, karena ia memang sangat suka menyulam bunga. Bunga-bunga lonceng itu tampak seperti bunga hidup. Cerah dan cantik.
“Oh, tidak! Ini bagus sekali!” pekikku senang.
Mama tersenyum. “Cantik, bukan? Maukah kau mencobanya, Schat? Aku harus melihat apakah bagian lengannya dan pinggangnya sudah pas.”
“Oh, Mama. Ini betul-betul bagus!” pekikku. Hatiku melambung melihat kebaya yang bagus itu. Aku bergegas pergi ke kamar untuk memakainya, dan kembali ke depan Mama beberapa saat kemudian. Biasanya, aku tidak terlalu suka memakai kebaya. Namun, untuk kebaya yang satu ini, perasaanku berbeda. “Aku suka sulaman bunganya.” Aku berputar-putar di depan Mama. “Dari mana Mama mendapat ide?”
“Dari bunga liar yang sering Mama lihat kalau sedang berburu,” jawab Mama. “Setiap kali melihatnya, Mama pikir bunga itu cocok denganmu.”
Mendadak aku terharu. Karena sikapnya yang keras kepadaku akhir-akhir ini, aku sempat berpikir, Mama sudah tak peduli lagi padaku. Ternyata, ia masih memikirkan aku.
“ Kau harus membersihkan kamar tamu hari ini.” Kali ini, Mama menoleh kepada Mirah. “Pastikan semuanya bersih. Seprainya harus diganti dengan yang bagus, selimutnya juga. Bantal-bantalnya harus dijemur dari sekarang. Oh, dan periksa apakah lemari pakaiannya sudah dikosongkan. Kurasa tamu kita akan menginap lebih dari satu malam.”
“Baik, Nyonya.”
“Siapa yang akan berkunjung?” Aku terperangah karena sebelumnya tidak pernah mendengar apa pun tentang hal itu. “Apakah Oma Lena akan datang dari Dramaga?”