Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Aku tidak ingat bagaimana aku bisa berada di dalam mobil Caleb, yang tengah melaju pelan. Aku menoleh ke samping. Ia sedang menyetir dengan serius. Keningnya sedikit terlipat. Ujung-ujung alisnya mendekat. Ia balas menoleh ketika merasakan tatapanku. Raut mukanya melembut.
“Ima, kau sudah merasa baikan?”
“Kenapa aku ada di sini? Kita mau ke mana?” Aku menoleh ke jok belakang, lalu kembali menatap ke luar jendela. Pandanganku agak kabur dan mengawang. Ingatanku yang terakhir adalah jeritan kemarahanku dan tubuhku yang meronta-ronta dalam rengkuhan lengan Caleb.
“Ah, sudah kuduga, kau pasti keberatan,” ujar Ghea sambil menggeleng-gelengkan kepala, berlagak prihatin. “Sayangnya, keputusan akhirnya ada di tangan Caleb kalau Elias masih tidak mau bertanggung jawab. Kuharap, kau mempertimbangkannya, Cal.”
Aku masih meronta-ronta dan memakinya dalam dekapan Caleb yang tak menjawab. Lalu, segalanya menjadi gelap.
“Kau pingsan di kafe tadi. Aku membopongmu ke mobil dan meninggalkan Ghea. Kita sedang menuju ke rumah sakit sekarang.”
“Tidak, tidak perlu ke rumah sakit.” Aku bergerak, duduk lebih tegak. Aku membenci segala hal tentang rumah sakit. Sampai sekarang aku masih bisa mencium kerasnya aroma obat, desinfektan dan formalin saat berlarian sepanjang lorong menuju kamar mayat, di mana kedua orangtuaku disemayamkan setelah kecelakaan itu. “Aku baik-baik saja. Mobilku kutinggalkan di kantor Lukas. Bisakah kita ke sana?”
Ia menggeleng. “Aku tidak bisa membiarkanmu menyetir sendiri, Ima. Kau bisa meminta Lukas mengantar mobilmu ke rumah.”
“Aku tidak mau merepotkannya.”
“Ia sudah biasa melakukan apa yang kau suruh, kan?”
Meski aku tidak mendengar nada sinis dalam suara Caleb, tetapi aku merasa perlu meluruskan pandangannya terhadap Lukas. “Aku tidak pernah menyuruhnya, karena ia temanku. Bukan pesuruhku. Ia melakukannya tanpa diminta.”
“Tentu saja aku tahu.”
“Aku tidak ingin kau salah mengerti tentang Lukas. Dan, kurasa aku tidak ingin kau menganggap keliru persahabatan kami. Kalau saat ini kau sedang cemburu, hentikan. Ingat, kau memeluk perempuan lain saat kau pikir aku tidak akan melihat.”
“Ima….” Ia mendesah. “Kupikir, semuanya sudah clear.”
“Apanya yang clear? Ghea hamil dan mengancam akan menuntut kau yang bertanggung jawab atas perbuatan berengsek abangmu. Itu yang kau sebut clear?” Aku merasa emosiku merambat naik lagi ke kepala. “Sepertinya, si jalang itu tidak akan berhenti mengganggu hidupku. Ia selalu merebut orang-orang yang kucintai, dan sekarang ia berusaha merebutmu.”
“Ima, tenang. Nanti kau pingsan lagi.”
“Bagaimana kau bisa menyuruhku tenang?” sentakku. “Kau tidak mengerti perasaanku! Sepanjang masa remajaku yang seharusnya menyenangkan, aku bergelut dengan rasa rendah diri, karena ia merebut semua orang yang dekat denganku. Ia dan teman-temannya merisakku setiap hari, sampai rasanya aku nyaris hilang kendali. Mereka membuatku merasa buruk rupa dan bodoh. Kalau tidak ada Lukas yang selalu menemaniku, aku mungkin sudah bunuh diri demi menghentikan semua ejekan itu. Seharusnya tadi kau tidak mencegahku menamparnya, Caleb. Sakitnya tamparanku tidak akan seberapa dibanding sakit hatiku!”
Caleb menghela napas. “Kalau kau tidak mau ke rumah sakit, kita ke apartemenku… ah, tidak. Ke rumah orangtuaku saja. Di sana lebih hangat. Kau benar-benar harus menenangkan dirimu.”