Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Alana menyambutku dengan senyum senang. “Wah, adikku tersayang! Angin apa yang membawamu ke sini sore-sore?” sapanya ceria. “Memangnya kau nggak lembur kayak abangmu yang gila kerja itu? Kau itu jangan terlalu santai. Nanti klien-klienmu kabur,” candanya.
“Aku sudah lama nggak ketemu Kakak,” sahutku sembari menghempaskan diri di sofa kulitnya yang empuk. “Aku kan, jadi khawatir.”
“Omonganmu persis Mama,” ujarnya. “Sampai-sampai tadi siang Mama ke sini bersama Ghea.”
“Bersama Ghea?”
“Lho, memangnya kamu nggak dikasih tahu istrimu? Mama dan Ghea pergi kontrol kandungan, lalu pulangnya mampir ke sini.”
Aku melongo. “Oh. Mereka ngapain aja?”
“Menurutmu ngapain? Ya, kami ngobrol dan makan siang bareng. Nadine memesankan masakan cina kesukaan Mama. Eh, masih ada sekotak bakmi tuh di kulkas. Kamu sudah makan malam, Cal? Makanannya tinggal dihangatkan sebentar.”
Aku tidak ingin mengecewakan kakak iparku yang baik, meskipun sebenarnya aku belum terlalu lapar karena lambungku masih penuh dengan bergelas-gelas kopi. Hari itu aku sibuk dengan banyak rapat, tetapi karena mengkhawatirkannya, aku membatalkan rapat terakhir agar bisa mengunjunginya.
Ketika aku mengangguk, Alana memanggil pembantunya dan menyuruhnya memanaskan bakmi untukku. Lalu, kami pindah ke meja makan.
Aku mengamatinya diam-diam sembari menyuap pelan-pelan. Ia duduk di depanku, menyeruput teh hangatnya dengan wajah yang tak terbaca. Ada ketegangan samar yang tampak dari garis bibirnya. Ia sedang menahan perasaannya. Pasti karena kedatangan Ghea. Tanpa harus diceritakan pun aku tahu, ia pasti bersikap ramah dan wajar kepada Ghea saat itu. Sekuat tenaga menyimpan segala kecurigaannya.
“Kak Lana baik-baik saja?”
Ia menatapku. “Tentu. Memangnya kenapa?”
“Kakak boleh menceritakan apa saja padaku. Kalau Elias tidak mau mendengarkan, biar aku saja yang meminjamkan kupingku.”
“Curhat maksudmu? Nggak ada yang perlu kukeluhkan, kok,” tukasnya cepat. Tiba-tiba, ia mengerutkan kening. “Oh, iya. Aku punya kabar tentang Padma.”
Aku begitu terkejut, sampai tersedak.
“Hei, hati-hati, ah. Minum dulu!” Ia menyodorkan gelasku. “Jadi kalian memang sudah nggak berkomunikasi lagi?” Tatapannya serius, mengandung kecaman. “Sudah seharusnya, sih. Kau kan, sudah suami orang. Padma juga wajar menutup komunikasi. Kau sudah sangat melukainya dengan kawin sama perempuan lain, Cal.”
“Aku mencarinya kemana-mana, dan nggak ketemu.”
“Untuk apa? Minta maaf sudah nggak ada gunanya lagi sekarang.”