49. PADMA

349 72 1
                                        

Pulau Onrust, 2013

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pulau Onrust, 2013

“Apa kabar, Padma Amala?”

“Mariana! Kau kemana saja? Banyak sekali pertanyaan yang ada di kepalaku. Kau nggak bisa meninggalkan aku begitu saja dengan teka teki anehmu. Peti itu sudah kutemukan. Lalu apa?”

“Ah, kau cerewet sekali, schat.” Mariana tersenyum. “Aku hanya menunggu saat yang tepat. Sekaranglah waktunya. Ayo, ikut aku, Padma. Aku akan menunjukkan sesuatu padamu.”

“Tidak. Aku harus bicara dengan temanku Ghea. Ada sesuatu yang harus kupastikan.”

“Soal Sophia, bukan? Bukankah seharusnya kau memastikannya kepadaku yang tentu lebih tahu?”

Aku terdiam, menyadari bahwa ia benar. Mariana tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Kita mau kemana?” Aku menatap kabut tebal yang tiba-tiba datang bergulung-gulung mengaburkan langit jingga di atas kami. Anehnya, aku tidak lagi merasa takut. Aku semakin terbiasa dengan segala keanehan yang ditimbulkan Mariana.

Mariana meraihku. Menggenggam tanganku dengan tangannya yang dingin. Aku bergidik, tetapi memilih pasrah. Kabut itu semakin mendekat. Bergulung-gulung menelan kami, lalu mendadak aku seperti sedang menonton kilasan episode-episode film berbeda, dengan pemeran yang sama.

Sophia. Gadis bermata kucing,, berambut hitam dan senyum yang tertahan itu ada di sana dalam berbagai adegan. Duduk di beranda dengan Mariana. Berfoto beramai-ramai setelah makan-makan di teras Rumah Besar. Mengobrol dengan anak-anak lelaki. Bermain di tepi sungai. Belajar dengan adiknya dan Thomas. Matanya yang berbinar setiap kali menatap Thomas. Petualangannya mencari bunga-bunga untuk herbarium. Berjalan dengan Mariana di tepi hutan. Bros bermata biru di peti kayu Jepara. Berlari-lari sendirian di tengah padang. Menangis di kamarnya setelah tak sengaja melihat Mariana dan Thomas bergandengan di tepi sungai. Lalu, aku melihat adegan itu. Sophia memberikan kalung perak berbandul salib bizantium kepada Mariana.

“Ini, bawalah olehmu.” Gadis itu mengulurkan kalung perak itu kepada temannya. “Kalau Tommie tidak membawanya, kau saja yang bawa. Semoga Tuhan melindungi kita, Mietje. Aku sungguh-sungguh berdoa.”

Tiba-tiba, kabut menghilang. Aku kembali berada di sebuah pantai yang dinaungi langit jingga. Mariana berdiri di sebelahku. Tangannya masih menggenggam tanganku.

“Kau sudah mengerti sekarang, Padma. Sophia gadis paling baik dan tulus yang pernah kukenal. Ia mencintai Thomas, tetapi memilih mengubur perasaannya dan tetap menjaga Thomas dengan doa dan kebaikannya. Kalung perak itu, tolong kembalikan kepada keturunannya. Itu bukan lagi hakku.”

***

Ketika aku terbangun, tubuhku sedang terbaring di bawah sebatang pohon, beralaskan sehelai kain pantai. Tiga wajah menatapku seksama, yang kemudian kukenali sebagai Lukas dan Ghea. Satu wajah lagi gadis tak kukenal, yang nantinya kuketahui dialah Hana, asisten Ghea.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang