18. MARIANA

442 66 0
                                        

Batavia, 1896

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Batavia, 1896

Suratku untuk Thomas. Ditulis di akhir minggu kedua liburanku di Batavia.

Thomas yang baik,

Aku minta maaf baru sempat mengirim kabar kepadamu. Aku baik-baik saja di sini, di kota bernama Batavia yang sering kita impi-impikan untuk dikunjungi bersama. Kota ini tidak sesejuk kampung kita. Cuacanya panas, lembap, beraroma sedikit amis dari air laut dan kanal-kanal yang membelah kota.

Di sini, aku melihat begitu banyak orang yang berbeda-beda. Para inlander, orang-orang Cina, orang-orang Eropa dari berbagai negara, pegawai pemerintah dari berbagai tingkatan, kaum pedagang dan importir, juga prajurit-prajurit yang hilir mudik, yang beberapa di antaranya berkulit hitam, berasal dari Afrika. Percakapan di antara mereka yang berbeda bangsa menggunakan bahasa Melayu pasar yang dicampur dengan bahasa Belanda. Sungguh membingungkan, Tommie. Banyak kata-kata Melayu yang tidak kumengerti karena seumur hidup kita di kampung hanya berbahasa Belanda atau bahasa Sunda saja. Aku terpaksa hanya berbahasa Belanda di sini, dan mulai belajar sedikit Melayu pasar dari babu-babu Tante Liz. Oh, sungguh membingungkan!

Belum lagi soal pakaian. Orang-orang Belanda dan Eropa lainnya di sini penuh gaya. Pakaian mereka bagus-bagus dengan model terkini. Gaun-gaun wanitanya terbuat dari kain-kain impor kelas satu yang didatangkan oleh kapal-kapal besar yang berlabuh di Sunda Kelapa. Selain membawa pakaian jadi dan kain-kain mahal, kapal-kapal itu juga membawa berbagai macam barang mewah. Arloji dan jam duduk buatan Swiss, sepatu, bahkan minyak wangi dari Perancis didatangkan dari kapal-kapal yang datang di pelabuhan itu. Sungguh suatu kemewahan!

Supaya aku bisa menyesuaikan diri, Tante Liz memberiku gaun-gaun cantik, menata rambutku dengan jepit dan pita, kemudian membawaku ke pesta-pesta para kenalannya. Ia akan berseru-seru senang setiap kali aku selesai berdandan. “Kau cantik sekali, Schatje! Kau tidak mirip aku, tidak mirip ibumu!”

Bukankah itu agak aneh? Lalu, aku mirip siapa? Papa? Aku kan, perempuan.

Kau tak akan percaya kalau kubilang aku mulai merindukan kain dan kebaya katun yang nyaman, dan sanggul sederhana dari rambutku yang tipis dan lemas ini. Ya, Tommie, kurasa kau sedang tertawa sekarang.

Apakah selama aku pergi, kau bertemu Mirah? Tinggal di Batavia membuatku lebih mandiri. Tak ada yang selalu ikut kemana-mana dan mengerjakan ini-itu untukku. Aduh! Aku rindu pada Mirah yang cerewet itu.

Tante Liz punya tiga orang babu rumah, satu babu cuci, satu koki dan tiga jongos yang bisa disuruh menjadi kusir Paman Theo sewaktu-waktu. Terlepas dari rasa rinduku kepada Mirah, sebenarnya aku tidak keberatan mengerjakan keperluanku sendiri sebisa mungkin. Kau tahu, aku bukan gadis manja dan cengeng. Aku baik-baik saja dengan cara hidup di sini. Terutama jika aku harus membandingkan hidupku dengan hidup Pauline Bruyn.

Ah, aku harus menceritakan tentang teman baruku itu. Pauline Bruyn sebaya denganku, tetapi sikapnya jauh lebih dewasa. Ia tenang dan keibuan, mengingatkanku kepada Sophia Both, meskipun mereka ada bedanya. Bagiku, Sophia membosankan. Sedangkan Pauline pandai bercerita. Ia dengan senang hati menceritakan hal-hal yang belum kuketahui tentang Batavia. 

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang