19. LUKAS

443 67 4
                                        

Jakarta, 2013

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, 2013

Padma sudah tidak lagi menangis, meski kemarin seharian air matanya seperti tidak mau berhenti mengalir. Sekarang ia duduk tenang di sebelahku yang sedang menyetir. Matanya kuyu dan sembap. Tatapannya kosong menerawang jauh ke depan, seolah sedang tak berada di dunia ini.

“Kau yakin tidak ada yang ketinggalan? Mumpung masih pagi dan belum masuk tol, kita bisa putar balik.”

“Tidak, Luke. Aku sudah bawa semua keperluanku.” Ia menyahut tanpa menoleh.

“Jadi, kita mau menginap?”

“Cuma aku saja. Sekalian menyepi. Aku sedang tidak ingin berada di Jakarta.”

“Aku bisa kok, menemanimu sehari-dua hari.”

“Pekerjaanmu gimana? Ini baru hari Rabu. Kau jangan jadi orang yang nggak bertanggung jawab karena aku. Sudahlah, aku menginap. Kau nggak usah.”

Aku angkat bahu dan tidak ingin berdebat lagi. Keadaannya sudah lebih tenang dan aku tidak khawatir jika ia ingin sendirian. Ia punya misi yang ingin diselesaikannya. Asalkan tidak lagi menangisi lelaki berengsek itu.

Kami sedang menuju ke luar kota. Ke Bogor tepatnya. Namun, bukan wilayah tengah kota yang kami tuju. Aku mengarahkan mobilku terus, memasuki pedalaman. Sementara, di sebelahku Padma sibuk dengan pikirannya sendiri. Menjelang siang, kami sudah melewati perkampungan dan lahan-lahan penduduk yang digarap dengan baik. Rumah-rumah sederhana dihiasi jemuran dan anak-anak berkulit kusam yang tampak sangat bahagia bermain kejar-kejaran. 

Mobilku berguncang setiap kali melindas jalan yang tidak rata. Untuk pertama kalinya, Padma menoleh padaku. “Arahnya memang benar ke sini?”

“Ya. Aku sudah mempelajarinya di Google Map semalam dan bertanya pada beberapa temanku yang orang Bogor.”

“Jauh juga,” ujarnya pelan, tetapi bukan keluhan.

“Perkebunan teh selalu berada di kaki gunung, Ima.”

“Ya, aku tahu. Beruntung banget Bu Elisa tahu tempat yang bernama Haur Panjang ini. Mudah-mudahan saja memang ini awal yang benar untuk menelusuri jejak Mariana.”

“Semoga saja,” sahutku, sembari mengganti persneling karena jalanan mulai menanjak. “Kalau bukan yang ini, kita harus mulai lagi dari nol. Mencari lagi tempat atau apa pun yang disebut Haur Panjang.”

“Dasar tukang ngomel.” Padma menatapku penuh selidik. “Kau masih belum percaya ya?”

“Kan, bukan aku yang ketemu hantunya.”

Padma berdecak, tetapi sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Aku sedikit lega. Perjalanan yang entah untuk apa ini semoga tidak sia-sia.

***

Pagi itu aku menemukannya terbaring tidur di atas rumput, di halaman samping rumahnya. Aku terkejut dan membangunkannya, dan ia tak kalah terkejutnya saat kubangunkan.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang