Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Sungguh sial. Aku tak bisa memacu mobilku secepat yang kuinginkan menuju ke rumah sakit yang disebut Nadine di telepon. Ada kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan dua truk bermuatan penuh terguling melintang di tengah jalan, yang menyebabkan kemacetan parah. Aku berusaha untuk tetap tenang, meski ingin rasanya menyeruduk semua mobil yang antri di depan mobilku dengan kecepatan tinggi. Hampir satu jam kemudian, ketika akhirnya sampai dan berhasil mendapatkan tempat parkir, aku lari menuju Unit Gawat Darurat, dan menemukan ibuku dan Nadine di ruang tunggu sedang duduk dengan lesu. Rumah orangtuaku memang lebih dekat dengan rumah sakit ini, tak heran ibuku tiba lebih dulu. Keduanya menoleh saat aku mendekat. Wajah mereka yang pucat pasi tampak lega melihatku.
“Mama! Nadine! Apa yang terjadi?”
“Caleb! Syukurlah akhirnya kau datang, Nak!” Ibuku berdiri menyongsongku sambil berurai air mata. “Ya, Tuhan. Ibu takut sekali tadi waktu Nadine menelepon! Kamu juga lama sekali baru sampai.”
“Aku terhadang macet karena ada kecelakaan lalu lintas. Di mana Kak Lana?”
“Bu Lana sudah ditangani dokter, Mas. Tadi sudah mulai sadar, tapi dokter menyuruh kami menunggu dan menenangkan diri dulu. Jadi kami sengaja menunggu Mas Caleb di sini,” sahut Nadine.
Melihatnya keadaan mereka yang kacau seperti itu, aku tahu dokter benar, bahwa mereka memang butuh menenangkan diri. “Aku mau melihat Kak Lana sebentar, Ma.”
“Coba tanyakan dulu pada perawatnya, Cal.”
Untunglah aku diperbolehkan masuk sebentar ke tempat kakak iparku terbaring dengan selang oksigen dan infus yang membuatnya terlihat begitu rapuh. Matanya terpejam, sepertinya ia tengah tertidur. Seorang perawat sedang berdiri di dekatnya, membetulkan tetesan infus. Rupanya, kakak iparku masih dalam pengawasan.
Kutemui lagi Mama dan Nadine di ruang tunggu. “Nad, sudah telepon Elias?”
Ia mengangguk. “Pak Elias akan mencoba datang secepatnya. Tadi waktu saya telepon, beliau masih meeting di Surabaya.”
“Lalu Papa?” Kali ini aku menoleh pada ibuku.
Mama menggeleng. “Papa masih di Makassar. Agak sulit untuk meninggalkan pekerjaannya di sana dengan tiba-tiba, jadi sementara hanya minta dikabari perkembangan apa pun secepatnya. Tetapi yang penting Alana sudah ditangani dokter. Semoga akan baik-baik saja.” Ibuku menghapus air di sudut matanya.
“Nah,” ujarku. “Sambil menunggu Elias datang dan Kak Lana bangun, coba ceritakan apa yang terjadi, Nadine. Aku perlu detailnya. Kenapa Kak Lana sampai kau temukan pingsan? Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kata dokter, Alana pingsan karena keracunan gas, Cal.” Ibuku yang menyahut.
“Keracunan gas?” Aku terkejut.
Dengan terbata-bata, Nadine mulai menjelaskan. “Jadi hari ini saya mendadak ingin menelepon Bu Lana, memastikan keadaannya yang katanya sedang nggak enak badan. Karena acara syukuran dan sebagainya, saya baru bisa menelepon jam tujuh malam, tetapi nggak diangkat. Saya terus mencoba meneleponnya setiap jam dan nggak diangkat juga. Karena mulai merasa semakin nggak enak karena Pak Elias dan Inah juga sedang tidak ada, saya akhirnya pergi ke rumah Bu Lana. Rumah sepi sekali, pintu terkunci dan semua jendela dalam keadaan tertutup. Saya tekan bel dan memanggil-manggil, Bu Lana tidak muncul-muncul. Jadi, saya memutuskan langsung masuk dengan kunci cadangan. Ternyata…. ternyata Bu Lana sudah tergeletak di sofa ruang duduk.”