44. MARIANA

336 60 7
                                        

Batavia, 1897

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Batavia, 1897

Lieve Karel,
Suratmu membawa kabar kesedihan yang membuatku tak bisa tidur sejak membacanya. Jadi rupanya nasibku telah ditentukan. Rasanya seperti vonis mati saja. Beberapa surat lainnya datang berurutan setelah itu. Surat dari Papa yang isinya menegaskan vonis mati yang tak terelakkan itu. Namun, ada satu surat lainnya dari Sophia.

Sophia bilang, ia sudah bicara denganmu dan mengetahui hari pernikahanku sudah dirundingkan. Ia masih menanyakan apakah ada kabar tentang Thomas, meskipun tahu pertanyaan itu sia-sia jika diajukan kepadaku. Satu hal lagi, rupanya ia mengetahui kegiatanku berjalan-jalan di kawasan pelabuhan. Aku menduga ia mengetahuinya darimu. Seperti semua orang, ia memperingatkanku akan bahayanya tempat itu bagi seorang perempuan muda Belanda seperti aku.

Aku memang akhirnya tidak lagi pergi ke sana, Karel. Namun, bukan karena aku menuruti nasehat kalian. Aku jatuh sakit. Sudah satu minggu aku menderita demam. Tubuhku jadi lemah dan cepat lelah. Om Theo sudah mendatangkan seorang dokter, yang memberiku banyak pil dan menyuruhku untuk banyak beristirahat. Tetapi kau tidak perlu khawatir. Kurasa, aku cuma kelelahan dan banyak pikiran.

Kau dan Papa tidak perlu datang ke sini. Aku akan segera sembuh dengan begitu banyaknya pil yang harus kuminum ini. Kesih juga memberiku obat kampung, seperti madu, air jahe dan kuning telur ayam kampung mentah. Membuatku teringat Mirah, yang selalu memberi kita obat kampung yang sama setiap kali kita jatuh sakit di masa kanak-kanak.

Aduh, aku tidak akan memperpanjang surat ini dengan kenangan yang menyedihkan. Sudah cukup kalut hatiku karena keputusan Papa untuk tidak menghalangi pernikahanku dengan si tua itu. Bisakah aku melarikan diri saja? Bisakah aku mati saja? Terkadang terlintas dalam pikiranku hal-hal buruk seperti itu. Namun, yang bisa kulakukan hanya berusaha untuk tabah, karena aku tidak ingin menambah penderitaanmu dan Papa. Aku menyayangi kalian berdua.

Kalau begitu, tolong doakan saja supaya aku segera sembuh.
Oh, tolong sampaikan pada Bedah, tiba-tiba aku merindukan frikadellen-nya yang sedap itu.

Groetjes van je arme zus,
Mariana Cornelia

***

“Nyonya! Nona batuk darah!”

Aku mendengar teriakan Kesih, yang baru saja berlari meninggalkanku di kamar. Hari itu masih pagi. Aku sedang terbatuk-batuk ke sapu tangan yang sempat disodorkannya. Titik-titik merah menyebar menodai sapu tangan putih dari sutra itu.

“Oh, Tuhan!” Tante Liz masuk ke kamarku, diikuti Kesih di belakangnya. Ia menatap ngeri pada sapu tangan bernoda darah di tanganku. Sementara batukku sudah berhenti, namun tenggorokan dan dadaku masih terasa aneh. “Schat, apa yang kau rasakan? Mana yang sakit?”

“Tidak ada yang sakit, Tante. Tapi kurasa, dadaku agak nyeri setelah batuk-batuk tadi.”

“Kesih, suruh seorang jongos menyusul Tuan. Dia pasti baru saja tiba di kantornya. Beritahu keadaannya darurat, dia harus kembali ke rumah. Lalu, suruh satu jongos lagi menyusul Dokter Stapel! Beritahu dokter itu kalau Nona batuk darah! Cepat!”

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang