Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bogor, 2013
Di depanku, berdiri sebuah bangunan yang mulai runtuh dimakan waktu. Aku melihat tembok-tembok kusam yang tertutup ilalang tinggi dan tumbuhan menjalar. Jendela-jendelanya besar, yang menghadap ke arah dari mana kami datang, tertutup rapat oleh dua bilah daun jendela dari bilah-bilah kayu yang disusun serong. Atapnya tinggal separuh. Yang terlihat dari kejauhan adalah bagian yang masih utuh di salah satu ujung. Ujung lainnya menganga terbuka, menjadi jalan masuk hujan dan matahari.
Aku mencari-cari pintu, karena sepertinya kami berada di samping bangunan. Lukas yang berhasil menyusulku sudah berjalan mendahuluiku, memutar ke kanan, ke bagian di bawah atap yang masih utuh.
"Kau harus melangkah hati-hati. Ular senang bersembunyi di antara rumput tinggi!" serunya.
Aku tidak takut ular. Waktu aku masih kecil, seorang teman Papa memelihara berbagai jenis reptil termasuk ular. Aku sering diajak main ke rumahnya dan diajari bermain dengan reptil-reptil itu. Ada seekor ular piton albino yang dipeliharanya. Aku menyukai ular itu dan suka mengelus-elus kulitnya yang licin. Sejak itu, aku tak pernah takut ular, karena binatang itu tidak akan mengganggu jika tidak diganggu.
"Ular akan pergi sendiri kalau tahu ada manusia di dekatnya," ujarku, seraya berjalan di belakangnya.
"Kata siapa?"
"Aku diajari orang yang paham soal ular."
"Tetapi, kalau kau nggak sengaja menginjak ekornya, dia akan berbalik dan menggigitmu."
"Itu kan, beda lagi masalahnya."
"Omong-omong, kurasa ini pintu depannya!" Lukas melompati sebatang dahan besar yang melintang menghalangi jalan. "Lompat saja!" suruhnya. "Jangan kau injak. Di baliknya mungkin ada ular!"
Aku menahan senyum. Baru menyadari kalau Lukas ternyata begitu takut terhadap ular.
Kami berdua berdiri di depan undakan menuju beranda yang lebar. Kubayangkan dulu ada seperangkat kursi dari jati dengan jok dan sandaran dari anyaman rotan berpelitur halus, dan sebuah meja rendah dari kayu jati yang berat dan kokoh. Lalu, ada dipan di ujung sana, untuk duduk sembari menatap pekarangan. Di dindingnya mungkin pernah ada foto-foto pemilik rumah, hiasan kerajinan lokal seperti kain tenun, atau kulit binatang buruan―kenang-kenangan yang berharga dari berbagai acara berburu yang dilakukan tuan rumah. Aku sering melihat interior rumah kolonial semacam itu di buku-buku atau arsip saat sedang melakukan riset untuk tulisan-tulisanku.
Namun, tak ada apa pun di beranda itu sekarang, selain dua daun pintu kayu―peliturnya sudah sangat kusam, yang terbuka lebar memperlihatkan bagian dalamnya yang remang-remang.
"Masuk, yuk!" ajakku.
"Biar aku duluan." Lukas mendahuluiku menuju pintu. "Kau lihat atapnya, kan? Itu kayaknya sudah mau runtuh. Aku harus cek dulu, berbahaya atau tidak."