33. PADMA

337 69 3
                                        

Bogor, 2013

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bogor, 2013

Setelah sekian lama, aku kembali ke pantai itu, duduk menatap laut dan batas langit. Pantai landai berpasir kelabu, yang diserbu buih-buih ombak, memecah pada tonggak-tonggak beton penahan abrasi. Setiap kali aku berada di sana, pantai itu selalu sunyi. Entah pergi kemana turis-turis yang biasa datang dengan kapal-kapal nelayan bermesin dari daratan Jakarta. Langitnya selalu agak mendung, dan mataharinya oranye redup. Tak ada angin, tak ada burung-burung. Aku seperti berada di dalam dunia yang kosong dan berdenyut menggelisahkan.

“Sudah pernah kukatakan padamu, sesuatu yang ditakdirkan untukmu maka akan menjadi milikmu. Kalau bukan, maka relakanlah. Kau tidak perlu merisaukan apa yang terjadi pada hidupmu, Padma Amala. Segala hal sudah digariskan.”

Perempuan itu melangkah mendekat, entah muncul dari mana. Kaki-kakinya yang telanjang tidak meninggalkan jejak di pasir. Sepasang mata di wajah pucatnya menatapku tajam. Pakaiannya di tempat ini selalu sama. Gaun putih kusut, yang ujungnya melambai-lambai ditarik angin. Perempuan itu duduk di sebelahku. Sikunya menyenggol lenganku. Kulitnya terasa seperti permukaan es.

“Akhirnya dia menikahi perempuan itu.” Mataku mulai berkabut. “Ghea sejak dulu selalu membuatku merasa jadi pecundang. Aku bahkan tidak tahu kenapa dia selalu melakukannya kepadaku. Semuanya selesai sekarang, ia menghancurkannya dengan tuntas. Sakit sekali. Bertahun-tahun mencintai seorang lelaki yang kukira segalanya, ternyata sia-sia.”

“Tidak. Tidak ada yang sia-sia. Kau mempelajari sesuatu. Cinta saja tidak cukup. Ada kebulatan tekad untuk bertahan, ada ketulusan, ada pengorbanan. Kau punya semua itu, tetapi lelaki itu tidak.” Perempuan itu tersenyum sedih. “Nah, lupakan lelaki itu. Kalau dia benar-benar mencintaimu, apa pun yang terjadi dia akan tetap memilihmu, sehingga kau tidak perlu mengucilkan diri seperti ini. Itu yang pernah kukatakan, bukan? Aku sudah mendapat pelajaranku dulu sekali, Schat.”

“Lalu, kenapa kau masih belum beristirahat dengan tenang, dan minta tolong padaku? Kenapa menyuruhku pergi ke bekas perkebunanmu dan menggali-gali kehidupanmu yang sudah berlalu?”

“Karena ini akan menjadi pelajaran hidup bagi seseorang juga. Kalung yang ada padamu itu harus kau berikan pada orang itu dengan semua cerita yang akan kau dapatkan di akhir perjalananmu.”

“Mariana, aku lelah dengan teka tekimu. Ada pembunuhan di perkebunan ayahmu, bukan? Siapa yang melakukannya?”

“Padma, aku tidak bisa memberitahumu tanpa kemarahan yang akan menyertai kata-kataku. Percayalah, kau tidak akan mau melihatku marah dan aku sedang tidak mau membuatmu takut.”

Aku tercenung. “Wujudmu berubah menjadi sangat buruk kalau sedang marah? Seperti waktu kau menemuiku di halaman rumah?”

“Ya.”

“Jadi, apa lagi yang harus kulakukan? Aku bukannya tidak ingin menolongmu, tapi….”

“Dengarkan aku, Padma. Pergilah ke rumahku. Cari sesuatu yang akan menjawab semua pertanyaanmu. Aku meninggalkannya di sana.”

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang