Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Empat bulan kemudian.
Untuk pertama kalinya, sejak aku berpisah dengan Caleb, aku merasa hatiku tidak lagi dipenuhi kesedihan. Hari ini, aku duduk di sebelah Lukas yang sedang menyetir, dengan hati yang riang dan penuh semangat. Aku bahkan ikut bersenandung bersama lagu-lagu dari radio yang diputar Lukas sejak kami berangkat.
“Jangan terlalu bersemangat,” komentar Lukas. “Terkadang negara orang nggak semenyenangkan yang orang lain bayangkan.”
Ia menyeringai. “Habis kayaknya kau senang banget mau meninggalkan semua orang ke Jepang selama sebulan.”
“Hei! Kau yang awalnya kasih saran ke aku untuk daftar workshop menulis ini!”
“Iyaaaa,” sahutnya. “Workshop ini ada gunanya buat pekerjaanmu, ketimbang membongkar-bongkar lantai rumah kosong disuruh hantu.”
Aku menonjok bahunya lagi. “Dan kau masih nggak nyangka aku lulus seleksi, ya? Kau pikir aku bodoh?”
“Enggak dong, Sherlock. Kau kan jago. Buktinya misimu berhasil.”
Aku tersenyum. “Ya. Karena bantuanmu juga.”
“Hu-um.” Lukas mengangguk. “Aku kan memang pesuruhmu yang handal.”
“Omong-omong soal pesuruh, kau jangan lupa kasih makan Tommie, ya. Jangan sampai dia jadi kurus kering waktu aku pulang nanti!”
“Kenapa harus mengadopsi kucing segala? Jadinya aku yang repot sekarang,” gerutu Lukas.
Aku terkekeh. Aku juga tidak berencana memelihara kucing, tetapi anak kucing jantan berbulu hitam putih itu tiba-tiba ada di depan pintu belakang rumahku suatu pagi. Ia tampan bermata hijau besar, hanya saja bulunya kotor dan tubuhnya agak kurus. Waktu melihatku, si kucing mengeong lembut dan menggesek-gesekkan tubuhnya di kakiku. Aku jatuh iba dan memberinya makan. Sejak itu, dia tidak pernah meninggalkan rumahku. Kurasa sebenarnya kucing itulah yang mengadopsiku, bukan sebaliknya.
Aku memberinya nama Tommie, mengabaikan nama usulan Lukas: Oreo. Nama Oreo sudah terlalu umum untuk seekor kucing hitam putih. Sedangkan nama Tommie akan menjadi pengingatku pada kisah Mariana, Thomas dan Sophia.
Kehidupanku berjalan kembali seperti semula, sebelum aku bertemu Mariana. Malam itu, empat bulan yang lalu, aku menceritakan kepada Ghea semuanya tentang Mariana, yang menuntunku kepada kisah Sophia juga. Aku memberitahu Ghea, bahwa Mariana bermaksud baik kepadanya. Kalung perak itu akan menjadi pengingat buat Ghea untuk belajar dari kebaikan hati nenek buyutnya.
Ghea akhirnya kembali ke apartemen yang ditinggalinya bersama Caleb. Mereka kembali hidup seatap sebagai pasangan suami istri, dan Caleb tidak lagi ngotot dengan tuduhannya yang tak berdasar itu. Aku tidak tahu hubungan mereka seperti apa setelahnya, tetapi kuharap kali ini Caleb benar-benar mengubur harapannya untuk kembali padaku, dan belajar menerima takdirnya sebagai suami Ghea. Kuharap mereka tidak bercerai setelah anak itu lahir.