30. MARIANA

466 66 6
                                        

Batavia, 1898

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Batavia, 1898

Enam bulan kemudian.

“Non, non….!” Sepasang tangan menggoyang pelan kakiku. “Bangun, Non. Non Mietje sakit?”

Aku membuka mataku dan mengerjap karena silau. Jendela di seberang kamarku sudah dibuka, tirainya sudah disibak ke samping. Udara hangat dan lembap masuk dari luar, membawa aroma pesisir Batavia. Wajah seorang inlander yang berdiri di ujung tempat tidurku sedikit buram dalam penglihatanku. Namun, aku tahu ia sedang menatapku khawatir. “Non Mietje tidak bangun-bangun. Sekarang sudah hampir siang. Non Mietje tidak enak badan?”

“Oh?” Aku memaksa diriku bergerak. Tubuhku pegal semua, dan kepalaku terasa berat. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ada pesta malam tahun baru yang meriah di rumah ini. Rumah keluarga Visser. Rumah tempat aku tinggal sekarang. Perempuan inlander ini adalah Kesih, salah satu babu tanteku.

“Maaf saya harus membangunkan Non Mietje. Saya disuruh Nyonya Griet dan Nyonya Liz yang khawatir, mengira Non sakit.”

“Aku baik-baik saja, Kesih. Cuma capek.”

“Non Mietje mau sarapan apa? Nanti saya kasih tahu koki di dapur.”

“Sebentar lagi waktu makan siang, bukan? Sudah tanggung. Aku minta roti dengan pindakaas saja untuk mengganjal perut.”

“Non mau minum susu?”

Aku menggeleng. “Kopi,” ujarku. “Kau sudah tahu takaran kopi dan gula yang kusukai, kan?”

“Ya, Non.”

“Sudah, sana. Aku mau mandi.”

“Baik, Non. Nanti saya suruh jongos menyiapkan air mandinya.” Kesih tersenyum dan meninggalkanku sendirian.

Aku mandi cepat-cepat karena tubuhku lengket dan berbau asam sisa pesta yang ingin kubersihkan segera. Terlebih, suasana hatiku begitu buruk. Jangan sampai Mama menegurku, karena aku tidak akan tahan mendengarnya.

Ya. Mama sedang di sini. Mengunjungiku di Batavia sejak sebulan lalu. Ia langsung cerewet begitu melihatku menyambutnya.

Mijn God! Kenapa kau kurus sekali?” Matanya membelalak. “Liz, kenapa kau tidak memaksa keponakanmu makan lebih banyak?” tegurnya pada Tante Liz.

Aku kasihan pada Tante Liz yang terbata-bata menjelaskan kepada kakaknya yang gusar bahwa makanku sudah sangat banyak, tetapi ia tidak tahu mengapa beratku terus berkurang. Mama memanggil dokter, yang memberiku banyak tonik dan tablet vitamin. Aku meminum semuanya tanpa protes.

Namun, saat aku mencoba menghabiskan sarapanku yang terlambat di meja makan, aku tak melihat Mama dan orang-orang rumah. Om Theo pasti sudah berangkat ke kantornya sejak pagi. Ia gila kerja dan hampir tak mengenal kata libur. Mama dan Tante Liz sedang pergi untuk mengambil gaun pesanan di toko langganan mereka, kata Kesih. Sisa-sisa pesta tahun baru sudah dibersihkan dan tak berbekas, padahal semalam begitu ramai dan meriah.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang