Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 2013
Caleb datang pagi-pagi. Aku mengenali bunyi-bunyian yang ditimbulkannya setiap kali berada di dapurku. Denting barang-barang pecah belah, keletak sendok, suara kompor dinyalakan, pintu lemari es yang ditutup. Semuanya menjadi irama yang kukenal, menandakan kehadirannya.
Ia mendongak dan tersenyum melihatku di ambang pintu dapur. Aku hanya sempat mencuci muka dan menggosok gigi setelah sholat subuh, lalu melanjutkan menulis artikel di depan laptop. Penampilanku pasti sangat acak-acakan saat muncul di depannya. Aku hanya mengikat rambutku ke belakang tanpa menyisirnya, dan masih mengenakan piama usangku yang kedodoran.
“Morning, Sleeping Beauty!”
Aku menguap. Kegelisahanku yang kemarin belum lenyap. Namun, bersikap buruk kepada Caleb juga tidak pantas. Ia toh sudah sangat baik dan menerima kemarahanku dengan sabar. Hari ini aku juga harus bersikap positif. “Pagi.” Aku melangkah masuk ke dapur. “Sedang apa?”
Ia memberi isyarat dengan tatapannya ke arah meja makan. Oh, yeah. Seharusnya aku tidak perlu bertanya. Ia sudah menyiapkan sarapan pagi. Hal yang selalu ia lakukan kalau ia tahu aku sedang bad mood atau punya masalah.
“Bubur ayam spesial, favoritmu sepanjang masa,” ujarnya. “Mama membuatnya khusus untukmu.”
“Mama yang membuatnya?” Aku mengerutkan kening, membayangkan ibunya membuatkan bubur ayam itu pagi-pagi sekali. “Kasihan Mama. Kau harusnya tidak membuatnya kerepotan membuatkan bubur untukku.”
“Aku tidak memintanya. Waktu tahu aku akan ke sini pagi-pagi, Mama langsung memasak untukmu. Mama titip salam dan tanya, kapan kamu main ke rumah. Katanya, Mama punya resep kue baru yang mau dipraktekkan denganmu.”
Aku tidak menyahut. Dari kata-katanya barusan, sudah jelas bahwa hari ini pun Caleb belum bercerita apa-apa kepada orangtuanya tentang kelakuan Elias.
Aku memperhatikannya sedang menuangkan air panas ke cangkir untuk menyeduh kopi. Ia menoleh, kedua alisnya terangkat. “Kenapa, Ima? Duduklah. Buburnya dimakan mumpung masih hangat.”
Aku malah berjalan ke kulkas dan mengambil sebotol air dingin dari dalamnya. Meneguknya langsung dari mulut botol, dan kudengar ia menggumam bahwa itu kebiasaan jorok. Aku tak mempedulikannya dan duduk di kursi di bagian kepala meja, masih memegangi botolku. “Kalau kau sedang berusaha menghiburku, percuma.”
Ia menaruh secangkir kopi di depanku. Uapnya menguarkan wangi yang kusukai setiap pagi. Ia menghela napas, sebelum ia meneguk isi cangkirnya sendiri, lalu duduk di kursi yang lain.
“Aku hanya melakukan apa yang biasa kulakukan untukmu, Ima,” ujarnya. “Omong-omong, aku melihat mobilmu di garasi. Kapan kau mengambilnya dari kantor Lukas?”
“Lukas yang mengantarkannya ke sini kemarin sore.”
“Ah, sudah kuduga.” Ia meneguk lagi kopinya. “Kau menceritakan masalah ini padanya?”
“Kau pasti tidak berharap aku menyangkal, kan? Tentu saja aku menceritakan semuanya pada Lukas. Sejak ia kembali dari Amerika, persahabatan kami tersambung lagi. Persahabatan yang lebih lama dari hubungan kita. Kuharap, kau tidak akan membicarakan Lukas dengan nada sinis atau apa.”
“Hei, aku tidak pernah merasa terganggu dengannya,” tukasnya. “Aku sangat mengerti persahabatan kalian.”
Sejak aku bertemu lagi dengan Lukas dan menyambung persahabatan kami yang sempat terputus karena ia pindah ke Amerika, Caleb tampaknya merasa sedikit tersisihkan. Aku merasa itu konyol, karena bagiku Caleb tetap prioritasku. Lelaki yang kucintai dan akan kunikahi untuk seumur hidup. Alih-alih marah, aku menertawakan kecemburuannya yang tak berguna.
Setelah segala yang dilakukannya untukku selama ini―mencintaiku, menjagaku dan melindungiku setelah aku menjadi yatim piatu, seharusnya sudah tak ada lagi keraguanku terhadap sikap dan perasaannya. Seharusnya, saat ini aku tidak meragukannya. Namun, itulah yang sedang kulakukan.
Meragukannya.
“Aku tidak tahu apa yang sedang kau coba lakukan saat ini, Cal. Kau bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sangat tidak masuk akal, kalau tenang-tenang saja seperti ini. Kau lupa tuntutan Ghea kemarin? Aku tidak pernah berhenti memikirkannya, bahkan sampai detik ini. Katakan padaku, apa kau benar-benar tidak ambil pusing, atau kau hanya berpura-pura tidak memikirkannya?”
Caleb menggeleng. “Aku tidak mau membicarakan ini pagi-pagi.”
“Lalu kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya? Kita tidak bisa menghindari topik ini dan menganggapnya tidak pernah ada. Semakin cepat dibicarakan semakin baik. Perut Ghea akan segera membesar. Ia menuntut keluargamu bertanggung jawab. Lebih tepatnya Elias. Ghea punya pilihan alternatif, yaitu kau. Tetapi, itu tidak masuk akal. Itu membuatku marah.”
Caleb meneguk kopinya. Baru kusadari sekarang, penampilannya kusut dan lusuh. Ia tidak memakai pakaian yang rapi. Pagi itu, ia memakai pakaian seadanya―celana panjang katun dan kaus yang warnanya sudah pudar.
“Aku bukannya tidak memikirkannya,” sahutnya. “Aku sedang memikirkan cara agar Elias bisa membujuk Ghea untuk menerima tawarannya menyepi sementara di luar negeri sampai anaknya lahir. Aku yakin, Elias tetap pada pendiriannya untuk tidak menikahi Ghea. Dua hari lagi Elias kembali. Kuharap akan ada solusi.”
“Bagaimana kalau….” Aku berhenti. Menenangkan hatiku yang tiba-tiba merasa takut. “Bagaimana kalau Ghea tidak menerima keputusan Elias dan benar-benar menuntut tanggung jawab itu padamu?”
“Ima….” Caleb mengulurkan tangannya, meraih tanganku di atas meja dan menggenggamnya erat-erat. Mataku terasa panas dan tenggorokanku seperti tersumbat luapan perasaan yang kutahan sejak semalam. “Ima, tenanglah. Jangan khawatir. Aku tidak akan mengambil keputusan apa pun tanpa melibatkan pendapatmu. Aku janji.”
“Menurutmu, kenapa aku khawatir?” Suaraku serak dan tersendat. “Karena kau sendiri tak pernah menunjukkan penolakanmu terhadap ide gila Ghea!” Tangisku pecah. Itu tangis ketakutan.