32. KAREL

330 57 7
                                        

Buitenzorg, 1897

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Buitenzorg, 1897

Karel yang baik,
Aku tahu, tidak mudah menerima penolakan yang begitu lugas dari orangtuaku, terutama ayahku. Namun, penolakan itu bukan karena asal usul dan latar belakangmu yang separuh inlander. Ayahku, seorang ilmuwan, menginginkan calon menantu yang sama dengan dirinya. Seorang laki-laki yang tergila-gila pada ilmu pengetahuan, dan karenanya bisa ia warisi dengan pemahaman-pemahaman tentang alam semesta yang selama ini sering ia bicarakan kepada aku dan Mama, yang tak pernah bisa memahaminya.

Karel,
Percayalah, aku ingin menjadi istrimu. Tidak seperti saudara-saudaraku dan para sepupuku yang tidak berminat tinggal di kampung selain berlibur, aku selalu berpikir bahwa Haur Panjang, hutan, dan gunung-gunung di sekitarnya adalah kehidupan yang tenang dan menakjubkan. Aku selalu berpikir bahwa kehidupan di kota terlalu melelahkan. Kami di sini dikelilingi kesibukan yang tiada habisnya, dan harus selalu berpura-pura bersikap luar biasa manis demi menghindari cemooh dan gunjingan orang lain.

Karel,
Aku selalu memikirkan dirimu. Tolong jangan terlalu kecewa. Aku bukannya tidak berusaha. Saat ini, aku sedang mencoba mengajak Papa bicara, untuk meluluhkan hatinya. Kau harus bersabar. Aku tidak tahu sampai berapa lama kita harus menunggu.

Dunia ini begitu penuh dengan ketidakpastian. Semoga Tuhan mengasihani kita dan membukakan hati Papa. Betapa menyedihkannya kalau kita harus berpisah. Aku tidak ingin bernasib seperti adikmu. Aku sungguh kasihan pada Mietje, dan berdoa agar ada jalan keluar yang baik demi kebahagiaannya.
Berdoalah juga demi kebahagiaan kita, Karel.

Sampai bertemu lagi.

Salam,
Catherine Isidora Matelief

Surat itu sudah kubaca keempat kalinya, dan setiap kali selalu membuatku menghela napas berat. Aku teringat keraguanku berbulan-bulan saat memikirkan Cateau dan keinginanku untuk melamarnya menjadi istri. Kami sudah saling mengenal sejak kecil, ketika Griet masih sering mengajak aku dan Mietje mengunjungi rumah Tante Lijs Matelief, dan di sanalah aku bertemu Cateau dan saudara-saudaranya yang juga sedang berkunjung. Ia gadis yang periang dan tabah, dan sangat mencintai alam. Ia menjadi satu-satunya yang paling senang ketika Griet mengundang mereka menginap di perkebunan kami.

Sejak beranjak dewasa, kami tidak lagi bertemu. Cateau sibuk dengan pelajaran-pelajaran privatnya, karena ayahnya menginginkan semua anaknya tumbuh menjadi orang-orang terpelajar. Kemudian, kami bertemu lagi di Bandung, dan aku melihatnya telah menjadi seorang gadis yang lebih menarik dari sebelumnya. Aku langsung jatuh cinta, tetapi memiliki keraguan yang sangat besar untuk melamarnya.

Keraguanku sangat beralasan, karena aku mengenal baik keluarga Matelief dan karakter mereka. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang terpelajar yang menduduki jabatan di bidang politik maupun ilmu pengetahuan. Henry Matelief, ayah Cateau, adalah seorang dokter dan ilmuwan, menjadi orang kepercayaan Gubernur Jenderal, yang selalu meminta nasehatnya di bidang kesehatan.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang