14. THOMAS

473 63 3
                                        

Buitenzorg, 1896

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Buitenzorg, 1896

Mietje sudah berangkat ke Dramaga dan kemudian akan meneruskan perjalanannya ke Batavia dengan kereta api, diantar salah satu kerabatnya. Sehari sebelumnya, ia mencariku ke perkebunan, ke barak kuli, bahkan ke rumah keluarga Both, untuk berpamitan. Namun, aku sengaja menghindar agar tidak bertemu dengannya. Entah bagaimana, aku sangat kecewa mendengar rencana pertunangannya dengan dokter dari Batavia itu. Aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu. Aku berpikir, aku ini sangat bodoh, karena pernah berjanji untuk selalu berada di sisinya dan menjaganya.

“Kau tidak perlu sedih, Tommie.” Tadi pagi, Sophia menghiburku. “Mietje hanya berlibur dan bermaksud lebih mengenal calon suaminya. Kemudian dia akan pulang lagi ke sini dan bertemu lagi denganmu.”

Betapa sederhananya cara berpikir Sophia. Mietje memang akan kembali lagi ke perkebunan untuk sementara sebelum hari pernikahannya dilangsungkan. Setelah itu, tentu ia akan tinggal di Batavia bersama keluarga Van Heuvel. Akan sulit bagi kami semua bertemu dengannya lagi. Akan lebih sulit lagi bagiku.

Sophia sudah tahu tentang perjodohan Mietje. Hari itu, ketika ia menemukan aku dan Mietje sedang berbicara di tepi sungai, Mietje bahkan tidak menjawab sapaannya. Mietje berlari meninggalkan kami, diikuti Mirah di belakangnya.

“Ada apa dengannya?” Sophia terkejut, menatapku. “Ada yang tidak beres?”

Mietje pantang menunjukkan kelemahannya di depan orang lain. Satu-satunya orang yang diizinkannya melihat luapan emosinya adalah aku. Sophia tidak termasuk dalam daftar teman yang seperti aku. Karena itu dia pergi. Aku tahu, ia akan pergi ke saung ayahnya di atas bukit dan menangis kesal di sana.

Malam setelah Mietje memberiku kabar itu, Sophia mengetuk pintu kamarku. “Ssst, Thomas, kau belum tidur, kan?”

Aku membukakan pintu dan ia masuk begitu saja ke dalam, lalu duduk di kursi dekat pintu. Aku mengangkat alis melihat kelakuannya. Pintu itu kubiarkan tetap terbuka saat aku duduk di seberangnya, di atas ranjangku. “Ada apa? Memangnya tidak bisa bicara besok pagi? Apa kata orangtuamu nanti melihatmu di kamarku?”

Ia menyeringai. “Tenang saja. Mereka sudah tidur lebih awal. Lagipula aku tidak akan berlama-lama. Aku cuma mau bertanya.”

Aku menguap karena sangat mengantuk. Namun, seperti Mietje, Sophia memiliki sifat keras kepalanya sendiri. Aku tak mungkin bisa mengusirnya dan menyuruhnya kembali ke kamarnya.

“Tentang Mietje?”

Ja. Tadi siang ia tidak seperti biasanya. Wajahnya kelihatan sangat kesal. Kalian bertengkar?” Ia menatapku dengan prihatin.

“Bukan begitu.” Aku merasa harus memberitahu Sophia. Gadis ini baik dan ia bukan seorang penggunjing. “Mietje terkejut karena baru saja diberitahu dia akan bertunangan dengan seorang dokter dari Batavia.”

“Hebat sekali! Bukankah itu berita bagus? Tapi mukanya tadi kelihatan kesal sekali.”

“Mietje tidak suka mendengarnya.”

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang