Pertemuan Padma dengan hantu perempuan Belanda yang meminta bantuannya, bukanlah sesuatu yang ia anggap penting. Sampai kemudian, orang yang dicintainya melalukan hal yang sangat menyakitkan.
Padma memutuskan menjauh dari orang-orang yang melukainya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 213
“Kenapa mukamu?” Lukas menyambutku di lobby kantornya pagi itu. Terkejut melihat mukaku yang kuyu dan sembap. “Kau nangis semalaman?”
Tidak. Aku tidak menangis. Aku belum menangis lagi sejak malam di Pulau Onrust itu. Aku begini karena kurang tidur.
“Aku mimpi aneh,” sahutku. Membanting pantat di sofa kuning besar yang tersedia di situ. Itu adalah sofa yang sering dipakai tidur staf kantornya kalau sedang lembur.
“Mimpi basah?”
“Berengsek kau! Dasar otak mesum!” Aku melemparnya dengan bantalan kursi bergambar pantat bekantan―ya, kantor Lukas memang se-absurd itu. Ia menangkapnya sambil tergelak. “Ini serius dan menakutkan, Luke. Aku terbangun jam dua pagi dan tidak bisa tidur lagi gara-gara mimpi itu.”
Lukas menyeringai, lalu duduk di sebelah. Memutar tubuhnya menghadap ke arahku. “Well, ceritakan kalau begitu.”
“Kau ingat waktu kau mau memotret rombongan sebelum kita pulang ke daratan Jakarta, tiba-tiba aku tersentak kaget, sampai posenya harus diulang?”
Lukas mengangguk. “Di Pulau Onrust? Ya. Kukira kau digigit serangga, atau sedang bercanda dengan Dini dan Kinar.”
“Aku melihat seorang perempuan di dekat bangunan bekas bengkel. Ia memakai gaun model kuno yang melambai-lambai ditiup angin.”
“Masa? Kau yakin? Mungkin yang kau lihat sobekan kain atau plastik yang terikat di tiang atau pohon…”
Aku tercenung sejenak. Segalanya mulai agak samar-samar setelah satu hari berlalu. Apakah itu cuma ilusi optik? Dan, apakah mimpiku hanyalah bunga tidur?
Tidak. Aku yakin itu bukan ilusi. Aku memang seorang penulis. Aku menulis banyak artikel wisata dan perjalanan, novel-novel petualangan, dan beberapa kumpulan cerita pendek tentang cinta. Namun, tidak pernah sekali pun melintas dalam dunia imajinasiku sosok perempuan cantik, berwajah sedih, dan berpakaian kuno. Khayalanku tidak seromantis itu.
“Aku yakin itu sungguhan,” gumamku. “Aku melihatnya dengan jelas, karena ia memandang ke arahku. Tapi, kemudian ia hilang ketika semenit kemudian, aku menatap lagi ke sana.”
“Hmm…” Ia mengernyit. “Tapi, tidak ada manusia lain di pulau itu selain kita, Ima. Cuma kapal kita yang sedang mendarat di sana. Aku jamin, karena aku dan Sapta berkeliling pulau pagi-pagi sekali, sebelum kalian bangun.”
“Sungguhan, tidak ada rombongan lain? Lalu, itu siapa?” Aku bergidik. “Jangan-jangan hantu. Kau tahulah, cerita-cerita penampakan di bangunan-bangunan peninggalan Belanda? Pulau Onrust dulunya kan, galangan kapal pemerintah kolonial. Mungkin nggak, itu salah satu hantu yang masih gentayangan di sana?”
“Jadi, sekarang kita akan membicarakan hantu, nih?” Seringai di wajah Lukas semakin lebar. Membuatku sebal dan tiba-tiba teringat peristiwa di masa lalu. Ia mengutarakannya sebelum aku. “Kau menjerit-jerit ketakutan karena terkunci di gudang klub basket.” Tawanya meledak. “Kau menggedor-gedor pintunya sekuat tenaga. Waktu aku membukanya, kau menangis dan bilang takut hantu, yang katanya sering menampakkan diri di gudang itu.”