52. EPILOG

574 68 8
                                        

“Mengapa kita harus bertemu di sini, Juragan?”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


“Mengapa kita harus bertemu di sini, Juragan?”

“Di sini kita bisa bicara dengan leluasa.”

Tadi pagi, ia berbisik-bisik agar aku menunggunya di tempat ini. Kau pasti tahu lahan baru yang akan ditanami bibit teh dari Ceylon itu, ujarnya. Ia bilang ada pohon waru besar dan aku harus menunggunya setelah waktu makan siang. Aku  pergi dari rumah diam-diam, menemukan tempat itu dan menunggunya hampir satu jam sebelum akhirnya ia datang.

“Apa yang mau Agan bicarakan dengan saya?”

Ia merogoh bagian dalam jaket berburunya dan mengeluarkan sebuah pistol. Aku menatap benda menakutkan itu.

Tempat kami berada memang sepi dan menyeramkan. Beberapa meter dari tempat kami berdiri, di balik belukar lebat dan pepohonan bambu liar itu, adalah hutan tempat harimau dan macan berkeliaran. Hutan itu juga menjadi sarang kawanan babi hutan dan monyet-monyet liar yang suka menyerang jika merasa terganggu.  Mungkin itulah sebabnya ia membawa pistol.

“Kau tahu Nyonya tidak suka padamu, tetapi anak-anakku menyayangimu,” ujar Juragan. “Belakangan ini Nyonya sudah sampai di batas kesabarannya. Dan setiap kali dia marah, dia selalu pulang ke rumah keluarganya. Suatu hari, mungkin dia akan menolak untuk kembali lagi ke perkebunan, dan aku tidak mau itu terjadi. Tidak! Anak-anakku membutuhkannya, meskipun dia sering bersikap keras dan kurang keibuan. Dan, aku tidak ingin menodai nama baik keluargaku dengan perceraian. Nyonya ingin kau pergi, tapi aku tidak bisa mengusirmu, Mirah. Itu juga akan menodai reputasiku yang baik di mata para kuli dan semua orang yang mengenalku sebagai orang yang adil. Kau juga tidak akan bisa hidup layak tanpa perlindunganku dan orang-orang kampung tidak akan menolongmu. Di luar sana hidupmu akan susah. Benar, bukan?”

“Ya,” jawabku dengan berani. “Agan benar. Saya tidak bisa kembali ke kampung saya, bahkan tidak bisa tinggal di kampung dekat perkebunan. Mereka akan menolak saya karena saya pernah menjadi gundik Agan. Saya... saya dianggap sudah menodai agama saya. Tetapi, kalau memang saya harus pergi, saya akan pergi untuk kebaikan Nyonya dan keluarga Juragan. Saya akan pergi jauh-jauh dari sini dan menghilang. Saya ikhlas.”

Nee,” tukasnya. “Aku bilang kau tidak bisa pergi.”

“Tetapi….”

“Aku sudah memutuskan demi kebaikan semuanya.” Juragan mengacungkan moncong senjata itu kepadaku. Logamnya berkilau memantulkan sinar matahari dari sela-sela pucuk pepohonan.

“Agan…. mau apa?” Aku gemetar. Bingung dan takut.

Het spijt me, Mirah.”

Tahu-tahu saja moncong pistol itu terangkat setinggi mataku. Lalu, sebelum aku sempat bereaksi, pistol itu bergerak. Aku merasakan sesuatu yang panas meledak di dalam kepalaku. Sesaat aku merasa kebas. Lalu, rasa sakit itu datang menderu. Tubuhku melemas dan terbanting ke tanah berbatu-batu. Aku masih sempat melihat ujung sepatu Juragan, kemudian perlahan-lahan semuanya menjadi gelap.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang