2. MARIANA (revisi)

1.3K 140 11
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Buitenzog, 1896

Sejak kedatangan dua lelaki Perancis dua hari yang lalu, Papa selalu marah-marah. Sejak dulu, ia memang tidak menyukai orang Perancis. Orang-orang Perancis pernah menaklukkan negeri Belanda. Selain itu, menurutnya, mereka punya sifat pelit dan sombong. Aku tidak tahu untuk apa kedua lelaki Perancis itu datang menemui Papa. Sepertinya, berkaitan dengan lahan perkebunan mereka yang berbatasan dengan lahan perkebunan kami.

Aku mendengar Papa mengomel-omel di beranda. Bukan berarti setiap hari ia bersikap begitu. Biasanya, ia lebih tenang dan agak tidak peduli dengan hal-hal yang terjadi di rumah, karena menurutnya rumah adalah urusan Mama. Yang dipedulikan Papa hanyalah perkebunan. Biasanya, ia tidak peduli dengan sepatunya yang sudah terlalu tua untuk dipakai menginspeksi lahannya. Itulah alasan yang kudengar dari tempatku duduk di depan piano. Ia kesal dengan sepatunya.

Sejak tadi, Mama tidak keluar dari kamarnya. Padahal, ia pasti mendengar suara berisik itu. Ia sudah lama tidak mau ikut campur dengan hal-hal seperti itu.

Suara Papa menggelegar kemudian. Terdengar ia menyuruh Amat, pekatik kepercayaannya, menyiapkan kuda. Kudengar, sayup-sayup suara lembut menimpali suara Papa yang keras. Itu suara Mirah, pembantu rumah tangga di rumah kami. Tugasnya bersih-bersih dan terkadang diperintah Mama untuk menjahitkan baju-baju yang koyak, karena hasil jahitannya sangat rapi. Waktu aku dan abangku masih kecil, ia yang mengasuh kami. Sampai sekarang pun, ia masih menjagaku.

Di rumah ini, cuma Mirah yang bisa menghadapi kemarahan Papa. Ia sangat pandai membujuk, dan Papa lebih menurut kepadanya ketimbang Mama. Aku tahu Papa menyayanginya. Umurku sudah enam belas tahun. Aku sudah besar untuk mengerti hubungan semacam itu.

Papa masuk ke dalam. Langkahnya yang lebar-lebar terdengar semakin dekat ke ruang keluarga, tempat aku duduk menguping. Tadinya aku hendak memainkan beberapa lagu, ketika Papa mulai marah-marah. Sepertinya, hari ini tak mungkin aku memainkan lagu-lagu kesukaanku.

Papa muncul dan berhenti sebentar tak jauh dari tempat dudukku. Ia melirikku seraya mengerutkan kening. “Jangan sampai kau menikah dengan orang-orang Perancis atau Inggris, Mietje,” katanya. “Mereka itu bandit-bandit yang tidak bisa dipercaya.”

Aku cuma bisa mengangguk. Sama sekali tak memahami maksud kata-katanya. Kenapa Papa bilang begitu? Di perkebunan terpencil ini, aku toh tidak mungkin bertemu dengan banyak orang. Selain itu, aku memang lebih suka berteman dengan orang Belanda, atau orang setengah pribumi. Seperti Karel, abangku.

Ah, sekarang aku baru teringat, Karel tidak terlihat sejak tadi pagi. Ia bahkan tidak ikut sarapan. Kemana dia? Aku seringkali iri kepadanya. Karena ia lima tahun lebih tua dariku, jauh lebih dewasa. Papa memberinya kepercayaan untuk membantunya mengurus pabrik pengolahan teh dan kina yang dihasilkan perkebunan kami, dan Mama sedang mencarikan calon isteri untuknya.

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang