16. MARIANA

521 63 1
                                        

Batavia, 1896

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Batavia, 1896

Kota ini begitu sibuk dan ramai. Udaranya sangat lembap dan panas, dan angin yang berhembus membawa bermacam aroma asing. Campuran antara bau garam, amis, kotoran dan debu. Aku tidak mengira Batavia akan seperti ini. Sama sekali tidak seperti Buitenzorg yang sering hujan, atau Bandung yang pernah kudatangi untuk menonton pacuan kuda. Kedua kota itu berhawa sejuk dan terasa damai. Batavia menimbulkan kesan yang kasar dan garang. Aku mengkerut takut begitu turun dari kereta api.

Untungnya, aku disambut dengan hangat oleh paman dan bibiku, dan beberapa teman keluarganya yang menyempatkan datang. Rumah itu berada di sebuah jalan sempit di tengah kota. Pekarangannya dikelilingi tembok tinggi. Sungguh cara hidup yang berbeda dengan perkebunan.

Aku belum bertemu Constantijn hingga hari kelima keberadaanku di kota itu. Paman Tinus, sepupu Mama, yang menemaniku selama perjalanan kereta api dari Buitenzorg sampai Batavia sudah pulang sejak hari ketiga. Sejak kemarin ia sudah berada di Dramaga lagi dan kubayangkan sedang sibuk membagikan oleh-oleh.

Constantijn sedang pergi ke Semarang, kata Tante Liz. Suaminya, Paman Theo, menunjukkan telegram yang datang kemarin. Constantijn mengirim kabar, ia akan datang hari ini.

“Pakailah gaun biru yang Tante berikan kemarin, Schatje. Di Batavia, sebaiknya kau memakai gaun saja. Kau masih muda. Harus menunjukkan kecantikanmu dengan baju-baju indah, ketimbang berkebaya sederhana.”

Tante Liz memberiku beberapa gaun, salah satunya sebuah gaun berpotongan sederhana dengan kain yang sangat lembut berwarna biru muda, ada hiasan renda Perancis yang manis di leher dan ujung lengan. Gaun itu memang yang paling nyaman dipakai, dan membuatku terlihat lebih dewasa.

“Tante menyimpan gaun-gaun lama yang paling bagus karena ingat padamu,” ujarnya kemarin. “Ibumu tidak terlalu suka berdandan dan seleranya lebih sederhana. Setelah  menikah dengan ayahmu, ia malah lebih menyukai kebaya daripada gaun. Aku senang anaknya perempuan. Aku berharap bisa mendandanimu cepat atau lambat.” Ia tersenyum puas sambil menatapku mencoba gaun-gaun itu satu per satu. “Nah, lihat. Semuanya pas di tubuhmu, kan? Aku membuat gaun-gaun itu dari kain terbaik. Kau terlalu cepat tumbuh dibanding umurmu, Mietje. Sampai-sampai gaunku sudah cukup kau kenakan sekarang.”

Jadi, aku mengenakan gaun itu dan Constantijn datang sekitar pukul tiga sore. Ia dipersilakan masuk ke ruang duduk di mana aku sedang membaca bersama Tante Liz. Senyumnya lebar melihatku.

“Halo, Mietje! Akhirnya kau sampai juga di Batavia!”

Aku menaruh bukuku dan bangkit. Mengangguk dengan kaku, dan ia meraih tanganku dan mengecupnya dengan sopan. Ia melakukannya juga kepada Tante Liz yang berseri-seri.

“Ah. Dokter tampan kesayanganku!” Tante Liz pura-pura merayunya, tetapi senyumnya tenang dan keibuan. “Duduklah, Tijn. Aku akan menyuruh babu kami menyiapkan minuman. Kami punya teh dari India. Enak sekali.”

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang