27. PADMA

443 81 14
                                        

Bogor, 2013

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bogor, 2013

“Saya tahu, kalian datang ke sini untuk melacak keluarga Belanda yang dulu tinggal di kampung ini.”

Aku dan Lukas duduk beralaskan tikar, berhadapan dengan Abah Ukam di ruang tamu rumahnya. Wulan sudah pamit, pergi untuk membuka warung uwaknya. Dilihat dari dekat seperti itu, sang kepala desa tampak bugar, meski dia bilang usianya sudah 70 tahun. Percakapan kami sudah melampaui basa-basi, dan saat ini kami sudah tiba di topik utama.

“Abah tahu dari mana?” tanya Lukas heran. “Kami belum menceritakan apa-apa pada penduduk kampung ini. Pada beberapa orang, kami hanya bilang sedang meneliti perkebunan teh atau bekas-bekasnya yang mungkin ada di sini.”

Lelaki tua itu tersenyum. “Keluarga Van den Berg punya pertalian dengan keluarga Abah. Bukan pertalian saudara, tetapi pertalian kerja. Nah, tunggu sebentar. Habis ini Abah akan cerita.” Ia bangkit dan beranjak memasuki salah satu pintu kamar di samping ruang tamu. Beberapa saat kemudian muncul lagi dengan sesuatu di tangannya dan menyodorkannya kepada kami.

Selembar foto hitam putih yang lusuh dan penuh bercak yang sudah tak mungkin lagi bisa dibersihkan, mengabadikan bagian depan sebuah rumah dan beberapa orang yang berdiri di depannya. Sepasang orang dewasa berwajah Eropa, seorang lelaki muda, dan seorang gadis remaja, serta beberapa ekor anjing. Ada seorang perempuan pribumi duduk bersimpuh di dekat kaki si gadis remaja. Tangannya terangkat, menggenggam tangan si gadis. Ketiga wanita dalam foto itu berkebaya, dua lelakinya berpakaian lebih resmi. Foto itu nyaris rusak, tetapi salah satu wajah yang ada di sana masih bisa kukenali dari mimpi-mimpiku.

“Abah tidak sengaja menemukan foto ini sebulan yang lalu di bekas rumah Juragan Van den Berg. Waktu itu, entah kenapa Abah sedang ingin melihat-lihat.”

“Ini Mariana….,” bisikku takjub melihat si gadis remaja. Ia mungkin berusia tidak lebih dari 15 tahun di foto itu, tetapi aku mengenali ekspresi wajahnya yang serius, alisnya yang tebal dan rambutnya yang berwarna agak terang dan berombak. “Abah menemukan foto ini di rumah besar di antara pohon-pohon pinus itu?” Kuamati bagian depan rumah di foto itu dan kukenali bentuk pintu dan berandanya.

Abah Ukam mengangguk. “Ya. Kalian sudah ke sana rupanya?”

“Kami melihat rumah itu tidak sengaja waktu baru datang ke kampung ini,” ujarku. Mataku masih belum beralih dari wajah Mariana di foto itu. “Luke, coba kau lihat. Gadis remaja ini yang namanya Mariana.”

Lukas mengambil foto itu dari tanganku. Mengamati wajah yang kutunjuk. Ia menggaruk-garuk kepala sambil mengernyit.

“Perempuan ini yang selalu muncul dalam mimpi-mimpiku, dan terakhir muncul di halaman rumahku.” Aku menatap Lukas. “Sekarang kau percaya, kan? Aku tidak berhalusinasi. Mariana van den Berg itu benar-benar ada.”

Lukas menoleh kepada Abah Ukam, seolah-olah meminta orang tua itu menjelaskan. Lelaki tua itu mengangguk. “Di kampung ini dulu ada sebuah perkebunan teh dan kina,” tuturnya. “Namanya Haur Panjang. Bahkan, kampung yang ada sekarang ini dulunya sisa-sisa pemukiman pekerja perkebunan dan pabriknya. Mariana yang disebut Neng Padma itu adalah anak perempuan Tuan Pieter van den Berg, pemilik perkebunan.”

Along Comes Mariana Cornelia (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang