Jung Sarang merasa kalau hidupnya selalu saja terkena sial.
Segala hal yang dia lakukan selalu saja tidak berjalan lancar meskipun sudah berusaha untuk menanggulanginya.
Sampai suatu hari ponsel Sarang terpasang sebuah aplikasi aneh bernama Fortune...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Di antara orang yang dilempari batu ataupun orang yang melempar batu terasa begitu besar perbedaan dari sebuah kedudukan. Meskipun kau tidak tahu jati dirimu kau pasti tahu kedudukanmu."
....
****
Aku berbaring diam di dalam kamar tanpa berbicara atau melakukan kegiatan tertentu.
Satu-satunya hal yang kulakukan hanyalah menatap langit-langit kamar, satu-satunya suara di dalam kamar ini hanyalah detak jam dinding.
Karena hari ini aku sakit, terpaksa aku tidak masuk sekolah.
Lagipula suasana hatiku sedang tidak baik sama sekali, tadi pagi dokter datang ke rumah dan dia berkata kalau aku harus banyak istirahat serta tidak boleh melakukan apapun seperti aktifitas di sekolah.
Semua itu karena jantungku yang lemah berdetak kencang sekali hingga terasa sakit.
Semalam aku tidak bisa tidur, jantungku rasanya seperti meledak, aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungku sendiri hingga membuatku semakin ketakutan.
Aku tidak bisa tidur memikirkan jika nanti stalker itu tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa aku sadari.
Sebagai persiapan aku meletakkan pisau buah di bawah bantal agar jika suatu hari nanti stalker itu benar-benar masuk ke dalam kamar, maka aku bisa melindungi diriku sendiri lalu mengusirnya dari kamarku.
Namun ada satu hal lagi yang kupikirkan, yakni Beomgyu.
Kejadian kemarin masih benar-benar teringat olehku, tidak hanya membawa rasa canggung dan malu tetapi juga rasa takut dan khawatir.
Mengingat sorot mata Beomgyu persis seperti sorot mata stalker yang beberapa kali kulihat, rasanya aku menjadi sedikit ketakutan.
“Sarang, teman-temanmu datang untuk melihatmu.”
Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar suara dari Kak Jaehyun, tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekat lalu pintu kamarku dibuka oleh Ryujin dan Jake.
Bibirku menyungging senyum untuk mereka berdua seakan menyambut, akan tetapi raut wajah Ryujin dan Jake terlihat berbeda, mereka berdua menghampiriku dan langsung duduk di karpet di samping ranjang.
“Sarang, orang-orang sekarang sudah benar-benar gila!” ucap Ryujin seperti gusar.
“Memangnya ada apa?” tanyaku bingung.
Jake membuka ponsel lalu dia menunjukkan sebuah foto padaku, yakni fotoku sendiri bersama Beomgyu di Namsan Tower, gambar itu diambil saat aku dan Beomgyu sedang berjalan di dekat toko sufernir.
“Minjeong mengatakan ke orang-orang kalau kau merayu Beomgyu!” ucap Ryujin lagi.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kau bisa terlibat dengan Beomgyu?” tanya Jake.