Jung Sarang merasa kalau hidupnya selalu saja terkena sial.
Segala hal yang dia lakukan selalu saja tidak berjalan lancar meskipun sudah berusaha untuk menanggulanginya.
Sampai suatu hari ponsel Sarang terpasang sebuah aplikasi aneh bernama Fortune...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kita hidup di dunia yang sama dengan hari-hari sepi seperti biasa, akan tetapi saat aku menangis
tak ada satu bahu pun yang mau menerimaku, perlahan aku hanya ingat pada tubuhku yang gemetar setelah menangis. Namun kedua mataku terbuka saat kau datang dan memelukku."
.....
****
Minju sepertinya tidak kembali ke kelas setelah pertengkaran tiga jam lalu.
Aku menjadi cemas karena dia tidak terlihat di kelas sama sekali, apakah sebaiknya aku mencarinya? Bisa saja sekarang dia sedang takut dan berpikir kalau kami akan menyebarkan kebenaran rumor kepada semua orang.
Dia tidak boleh salah paham.
“Sarang, kau mau ke mana? Sebentar lagi kita akan menonton perlombaan sepakbola,” ujar Ryujin, melihatku berjalan hendak keluar kelas.
“Ah, aku hanya ingin pergi sebentar saja.”
“Baiklah, aku titip jus kaleng.”
“Iya.”
Aku segera pergi dan mencari di mana Minju berada.
Sudah beberapa tempat di sekolah ini yang aku lewati bersama Ryujin, Jake dan Shuhua, tidak ada kehadiran Minju sama sekali pada tempat-tempat itu, aku menjadi berpikir kalau dia masih berada di sisi bangunan sekolah tempat kami bertemu dengannya.
Kakiku segera melangkah menuju tempat itu tanpa memikirkan tempat lainnya lagi.
Selama ini aku memang tidak terlalu mempercayai Minju namun aku tidak ingin berfirasat baik atau buruk lagi, aku hanya tidak ingin dia salah sangka tentang siapapun lagi.
Walaupun kami bukan teman dekat tapi aku yakin Minju akan mendengarkan penjelasan dariku, karena dia adalah orang yang baik.
“Ketemu!”
Rupanya benar, Minju masih ada di tempat tadi.
Dia duduk tenang di atas rumput pada pohon yang tidak terlalu besar, dia sedang berdiam diri tanpa melakukan apapun, segera aku setengah berlari menghampirinya.
Minju mendongak ke atas ketika melihatku datang, dia langsung memasang raut wajah tidak senang, “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau kembali ke sini?”
“Aku hanya ingin menemuimu.”
“Haha, apa kau merasa kasihan padaku?”
Kenapa dia mengatakan itu? Aku datang ke sini bukan untuk mengasihaninya, aku hanya ingin … mengetahui apa yang dia pikirkan.