"Aku berharap kalau suatu hari nanti
ada saat dimana semua orang
menyadari,
tentang isi hati orang lain."****
"Namamu Choi Beomgyu dari kelas 1-nanas?"
Dia menganggukkan kepala pelan sambil terus mengunyah roti.
Aku menunduk sejenak melihat banyak sekali bungkus roti yang mungkin isinya sudah dia makan habis, apakah dia menangis sambil makan? Ah, aku tidak tahu akan hal itu.
"Kenapa kau terlihat sedih sekali? Apa yang terjadi padamu?"
Dia tampak menghapus air mata sebelum menjawab pertanyaanku sambil terus mengunyah, astaga, apakah dia tidak berpikir kalau dia bisa saja tersedak, tidak mungkin dia masih merasa lapar kalau sudah memakan roti berbungkus-bungkus seperti itu.
"Minjeong ... aku membuat Minjeong marah karena memberinya cincin kekecilan."
"Mi-Minjeong? Maksudmu Kim Minjeong dari kelas 1-apel?"
Dia menoleh kepadaku, "Kau mengenal Minjeong juga?"
Seketika aku mengangguk, "Iya ... dia teman sekelasku. Memangnya kau siapa? Apakah kau temannya Minjeong juga?"
Dia tampak memasang raut wajah tidak suka saat aku bertanya seperti itu, dia melotot seperti orang emosi dengan cara yang sedikit mengerikan dengan tubuh sebesar itu dan tubuhku yang sekecil ini, rasanya menyeramkan jika dia sampai memukulku.
"Teman? Apa ini pacar Minjeong!"
Sontak kedua mataku terbelalak lebar seperti dia, pacar? Aku tidak pernah tahu kalau Minjeong memiliki seorang pacar, padahal masih kelas satu SMP, terlebih lagi ... aku tidak menduga kalau dia bisa berpacaran dengan Minjeong.
Dia itu seperti seorang ratu yang cantik, tinggi dan benar-benar pintar tetapi orang di sebelahku ini terlihat sedikit menyimpang dari ciri-ciri lelaki kesukaan Minjeong.
Di dalam kelas Minjeong selalu dikelilingi oleh laki-laki tampan seperti Jay, Chenle, ataupun lainnya sedangkan orang ini memiliki wajah sangat bulat, tubuh besar nan gempal.
Apakah Minjeong memiliki tujuan tertentu?
"Kau tidak percaya kalau aku adalah pacarnya? Lihat ini!"
Dia menunjukkan sebuah foto, yakni foto dia dan Minjeong entah di mana dan di sana lelaki ini tampak tersenyum begitu bahagia sedangkan Minjeong tampak biasa saja, meskipun tetap terlihat cantik.
"Minjeong sangat menyukaiku, dia pasti menerimaku dengan tulus tetapi aku selalu saja membuat Minjeong marah, bahkan kali ini ... bodohnya aku tidak menghafal ukuran jarinya."
Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku alamamter yang dia pakai, yakni sebuah cincin perak indah, kedua mataku lagi-lagi terbelalak, bagaimana bisa seorang anak kelas satu SMP membeli cincin perak untuk pacarnya?
Astaga ....
"Apakah itu perak asli?"
"Tentu saja, aku sampai meminjam uang kakakku untuk membayar sisanya."
Aku benar-benar tidak bisa mengatupkan mulutku saat mendengar dia mengatakan hal itu, sayang sekali, padahal cincinnya sangat bagus dan terlihat mahal, jika aku meminta dibelikan cicin seperti ini oleh orang tuaku mungkin aku harus menunggu beberapa minggu atau beberapa bulan sampai dibelikan.
Dia menyerahkan cicin itu agar aku bisa menyentuhnya.
Padahal Minjeong tidak terlihat besar tetapi dia bilang kalau cicin ini tidak muat di tangannya, akupun mencoba cincin itu dijariku, rupanya sangat pas.

KAMU SEDANG MEMBACA
Fortune Diary [TXT - Beomgyu]
FanfictionJung Sarang merasa kalau hidupnya selalu saja terkena sial. Segala hal yang dia lakukan selalu saja tidak berjalan lancar meskipun sudah berusaha untuk menanggulanginya. Sampai suatu hari ponsel Sarang terpasang sebuah aplikasi aneh bernama Fortune...