Kejadian yang sebenarnya (3)

479 37 1
                                        

Fiza menuruni tangga terburu-buru dengan wajah pucat dan sangat panik, hal itu tak luput dari pandangan Aldo yang hendak menuju lapangan. Fiza terkejut ketika ada yang menahan tangannya.

"Lepas Do!"

"Lo ngapain dari atap?" tanya Aldo tepat pada intinya. Sedangkan tubuh Fiza bergetar, juga air matanya luruh begitu saja.

"Lepasin gue Do."

"Jawab gue Fiza! Lo ngapain dari atap? Kenapa  lo kayak ketakutan gitu hm?"

"Awas Aldo!!" Dengan sekuat tenaga Fiza menghempaskan tangan Aldo kasar kemudian berlari meninggalkan Aldo yang menatap kepergian sosok itu curiga.

Aldo mendekati batas penyangga melihat semuanya, ia menatap sosok Fiza yang baru saja datang menenangkan Elvano. Salah satu sudut bibirnya tertarik.

"Akting yang sangat bagus," gumam Aldo pelan. Sedangkan dari bawah, Luna mendongakkan kepalanya. Pandangannya terhenti pada sosok Aldo yang seperti sedang tersenyum. Ia sama sekali tidak mengerti apa arti senyuman itu.

Ambulan datang, mengalihkan pandangan setiap orang. Tubuh Naya sudah dibawa menuju rumah sakit dengan Pak Andra sebagai perwakilan. Di dalam mobil, Naya diberi pertolongan pertama. Pak Andra hanya terdiam tidak menunjukkan kekhawatiran sedikitpun.

Kamu mati saja Naya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Berbahagialah di atas sana, maka saya juga akan berbahagia di dunia ini -batin Pak Andra.

***

Sudah berjam-jam, namun Dokter belum kunjung keluar dari ruang operasi. Orang tua Naya pun sudah berada di depan pintu ruang operasi menunggu kabar sang putri. Begitupula dengan Elvano dan Fiza hanya menatap pintu itu penuh harap.

"Elvano, Fiza, sebaiknya kalian pulang. Biar Bapak yang akan mengabari kalian nanti," ucap Pak Andra. Tatapan Fiza terus tertuju pada Pak Andra.

Sungguh bermuka dua.

"Saya mau disini Pak," ucap Elvano. Sedangkan Fiza hanya diam tidak menanggapi. Pak Andra menghela nafasnya lalu kembali duduk di samping orang tua Naya.

"El, mending lo makan dulu gih," ujar Fiza pada Elvano yang sudah memucat.

"Gak."

"Naya di dalem sana, lo juga mau ikutan sakit?"

"Gue mau tunggu sampe denger kabar," kukuh Elvano.

"El, yaudah kalau lo tetep gak mau. Lo sekarang ke toilet gih, bersihin tangan lo. Mau liat Naya sedih ngeliat lo kayak gini?" Elvano menatap kedua telapak tangannya yang terdapat darah mengering. Memori tentang Naya yang terjatuh tepat di depan mata kembali terputar. Hatinya kembali merasa nyeri.

"Gue ke toilet dulu," pamit Elvano berlalu pergi menuju toilet. Melihat kepergian Elvano, Pak Andra segera menarik tangan Fiza menjauh dari orang tua Naya.

"Kamu tidak lupa dengan perkataan saya bukan?" tanya Pak Andra pelan.

"Bapak membunuh sahabat saya."

"Membunuh? Anak itu yang tidak bisa menjaga keseimbangan. Jadi itu bukan salah saya. Lagi pula kalau dia mati saya sungguh senang."

"Jangan harap Bapak bisa senang. Karena saya tidak bisa membiarkan itu!"

"Kamu sedang beruntung cantik, kita sedang ada di tempat umum. Jika tidak, saya akan habisi mulut nakal kamu itu." Pak Andra mengelus pipi Fiza sebelum pergi tapi Fiza segera menepis kasar.

Dokter sudah keluar, Fiza segera menghampiri untuk mengetahui tentang keadaan Naya. Tubuhnya seketika melemas mendengar yang dijelaskan oleh Dokter.

Koma? Tolong siapapun, katakan jika ini bukan mimpi. Air matanya lagi-lagi luruh. Begitupun dengan ibu Naya yang sudah menangis histeris dipelukan sang suami. Pak Andra? Jangan ditanya, lelaki itu hanya tersenyum kecil.

Datanglah Elvano dengan tergesa-gesa. "Fiza kata dokter apa?" tanya Elvano mencengkram kedua bahu Fiza panik.

"DOKTER BILANG APA ZA!!" Elvano mengguncang-guncangkan tubuh Fiza. Tapi tangis Fiza malah semakin membuncah

"GUE GAK MAU DENGER TANGISAN LO! GUE MAU DENGER KONDISI NAYA!!"

"Elvano pelankan suaramu, ini rumah sakit," ucap Pak Andra memperingatkan. Ingin sekali Fiza meludah di wajah lelaki tua itu. Namun sadar, ia tidak bisa melakukan itu.

"Naya koma," ucap Fiza membuka suara. Elvano melepaskan tangannya dari bahu Fiza.

"Lo bohong kan Za? Lo cuman bercanda kan?"

"Itu bener El. Keadaan Naya sangat buruk, jantungnya sempet berhenti untung aja dia masih mau berjuang buat kembali hidup."

"Sumpah Za gak lucu." Elvano menempelkan punggungnya di tembok, tubuhnya luruh begitu saja. Tatapan lelaki itu nampak kosong.

"El." Fiza mendekati Elvano.

"Diem Za, gue lagi gak mau denger candaan lo. Naya pasti sadar sebentar lagi kan? Gue udah janji bakal bawa dia jalan-jalan minggu ini soalnya." Elvano mengacak-acak rambutnya frustasi berusaha menerima kenyataan.

"Naya udah dipindahin ke ruang ICU. Kita cuman bisa berdo'a supaya dia bisa cepet sadar."

"Za," panggil Elvano pelan.

"Hm?"

"Tolong bangunkan gue dari mimpi buruk ini."

"Elvano ini bukan mimpi." Fiza mensejajarkan tubuhnya dengan lelaki itu.

"Sakit Za, rasanya sakit. Ingatan dia jatoh di depan mata gue terus keinget. Gue gak bisa lupain itu Za, gue bodoh kenapa gue gak lari nyelamatin dia." Elvano menjengut rambutnya.

"Itu bukan salah lo, jadi stop nyalahin diri sendiri! Gue juga sakit El, dia juga sahabat gue!"

'Ini salah bajingan itu, dan gue.'

"Gue sayang sama Naya, Za," parau Elvano.

"Gue juga sayang Naya, El."

'Dan gue sayang lo, jadi maaf. Gue harus lindungin lo dari iblis itu, lo sahabat gue, keluarga gue.'

'Maaf Nay, gue gak mau kehilangan sahabat lagi. Tolong kasih gue waktu buat ngeberaniin diri, ngungkapin kebenarannya.'

NayaVa (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang