Seorang lelaki yang sedang terlelap mulai membuka matanya perlahan ketika merasakan ada yang menyentuh pipinya pelan.
"Za, gue ngantuk banget loh," ucap Elvano belum sepenuhnya sadar.
"El," panggil seseorang dengan nada lemah. Kesadarannya langsung pulih ketika mendengar suara itu, Elvano melirik kearah Naya yang sudah melemparkan senyuman kecil padanya.
"Naya," ucap Elvano tidak percaya. Perempuan yang ia nanti-nantikan untuk bangun, akhirnya membuka matanya kembali.
Elvano segera memencet tombol interkom, tak lama datanglah Dokter beserta suster untuk mengecek keadaan Naya. Ia dapat bernafas lega ketika Dokter mengatakan bahwa kondisi Naya baik walaupun kaki dan tangannya membutuhkan waktu untuk bisa kembali melakukan aktifitas karena Naya koma tidak sebentar.
Setelah Dokter dan para suster pergi, Elvano langsung mengecup kening Naya dan mengelus-elus rambutnya. Sungguh ia sangat bahagia bisa melihat senyuman perempuan itu lagi.
"Terima kasih telah berjuang," bisik Elvano pelan.
Elvano menatap wajah Naya penuh rindu. "Terima kasih karena telah memilih untuk hidup. Gue takut banget Nay, gue takut lo pergi ninggalin gue."
Kedua sudut bibir Naya tertarik, kemudian berucap, "Maaf udah buat El nunggu lama."
"Gue rela nunggu, asalkan lo janji bakal balik ke gue. Jangan kayak gini lagi Nay, karena itu bikin gue hancur." Elvano kembali mengecup kening Naya kemudian menjauhkan tubuhnya, lalu membantu Naya untuk minum.
Ia segera memberi tahu kabar bahagia ini pada keluarga, dan sahabatnya. Mereka yang mendengar itu merasa senang, dan mengatakan akan segera kesini.
"El?" panggil Naya lemah.
"Apa Nay?" jawab Elvano mengenggam tangan Naya erat.
"Lemes."
"Istirahat lagi aja, nanti orang tua lo sama Fiza, Aldo, mau kesini."
Naya mengerutkan dahinya, lalu bertanya, "Aldo?"
"Dia khawatir banget sama lo Nay, dia juga ngebantu gue ngungkap kebenarannya. Jangan khawatir, katanya dia mau lupain perasaannya ke lo."
"Pak Andra gimana?"
"Lagi tahap penyelidikan. Semuanya udah selesai Naya. Pak Andra gak akan berani deketin lo lagi, karena dia bakal membusuk di penjara."
"Fiza? Dia gak kenapa-napa kan?" tanya Naya lagi yang dibalas gelengan pelan dari Elvano.
Tangan Elvano terulur mengelus rambut Naya. "Sekarang istirahat dulu."
"Gak mau."
"Kenapa?"
"Masih kangen," jawab Naya.
"Iya gue juga, tapi lo baru bangun dari mimpi panjang lo. Sekarang istirahat, jangan banyak gerak dulu," ucap Elvano menarik selimut sampai ke dada Naya.
Pandangan Naya tak teralihkan dari wajah Elvano. Tangannya balik menggenggamtangan lelaki itu erat. "Jangan pergi. Temenin."
"Gak akan pergi ko." Elvano menempelkan pautan tangan itu pada pipinya sembari memandangi wajah damai Naya yang masih pucat.
Ah..., rasanya hari ini sangat bahagia.
***
Pintu ruangan terbuka, menampilkan orang tua Naya memasuki ruangan dengan tergesa-gesa. Mereka langsung datang ketika mendapat kabar dari Elvano. Bahkan Deno sampai tidak memperdulikan rapat penting hari ini di perusahaan demi melihat kondisi anaknya.
"Naya," ucap Andin tidak percaya. Ia langsung mendekap tubuh Naya erat. Air matanya bahkan sudah luruh saat melihat putrinya sudah terbangun. Sedangkan Naya terdiam mendapatkan pelukan yang sudah lama ia tidak terima. Ternyata sangat hangat dan nyaman berada dipelukan seorang ibu. Ia tidak mengingat kapan terakhir kali pendapat pelukan dari ibunya.
"Maafin Mamah. Mamah menyesal Naya, Mamah hanya bisa memberi kamu luka."
Air mata Naya juga ikut keluar membasahi pipi. "Naya kangen Mah."
"Mamah jauh lebih kangen sama kamu Naya. Hati Mamah sakit ngeliat kamu tidur lama banget." Andin melepaskan dekapannya. Pandangan Naya teralihkan pada seorang pria paruh baya yang hanya menatapnya sendu.
"Pah," panggil Naya lemah. Pertahanan Deno runtuh, ia mendekap tubuh Naya erat. Dirinya selalu terbayang-bayang oleh rasa bersalah. Perlakuannya pada gadis kecilnya itu sungguh keterlaluan dan pasti meninggalkan luka yang cukup lebar.
"Maafin Papah juga, Papah salah. Mungkin kamu sulit memaafkan Papah sama Mamah, kami paham itu. Pasti hati kamu terluka cukup parah," ucap Deno, lalu melepaskan dekapannya.
"Bisakah kita memulai kembali Naya? Papah sama Mamah mau menebus kesalahan yang telah diperbuat," lanjutnya.
Naya menatap orang tuanya, ia sangat merindukan kehangatan seperti ini. Naya mengangguk setuju dengan air mata terus mengalir.
Deno dan Andin kembali mendekap tubuh putrinya. "Terima kasih sayang, karena telah memberikan kesempatan untuk menebus kesalahan."
"Naya udah maafin Mamah, Papah dan Naya juga sayang kalian berdua!"
"Mamah sama Papah juga sayang kamu Nayara Maheswari," ujar Deon.
Dari ujung ruangan, Elvano menatap keluarga itu dengan senyuman. Ia senang, apa yang diharapkan oleh Naya terkabul. Harapan yang sangat sederhana, yaitu ingin keluarganya kembali seperti dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NayaVa (END)
Teen FictionIni tentang sebuah kisah dimana semua orang berjalan melewati jalan berduri untuk sampai keujung jalan yang penuh kejutan. Semuanya pasti terluka, secara fisik maupun batin. Tapi kelak akan tersenyum ketika sampai pada tujuan. Sudah siap berkelana d...
