Siapa yang bisa dipercaya?

398 38 4
                                        

"Elvano minjem Hp lo," ujar Fiza.

"Buat apa?"

"Gue ganti Hp, ganti kartu juga. Gak ada nomor lo." Elvano memberikan ponselnya pada Fiza. Perempuan itu nampak sedang memasukkan nomor barunya.

"Oke, udah." Fiza mengembalikan ponsel Elvano.

"Hp lama lo emang kenapa Za?" tanya Elvano penasaran.

"Niatnya mau matiin alarm, tapi malah jatoh  mana ancur layarnya," jelas Fiza. Sedangkan Elvano hanya tersenyum kecil.

Bohong.

"Makanya jangan ceroboh."

"Iya, ini bakal gue jaga dengan segenap hati."

"Najis lebay lo." Fiza hanya tertawa lalu kembali pada kursinya.

Kenapa hal sekecil itu harus bohong?

Elvano jadi penasaran, waktu itu Fiza berbicara dengan siapa sampai membuat perempuan itu marah.

***

"Kenapa sih Do? Lo kayaknya kangen banget sama gue minta ketemuan segala. Bosen tau gak ngeliat muka lo mulu," ujar Elvano menghampiri Aldo yang sedang menampilkan wajah serius. Keduanya kini berada di atap sekolah.

"So serius banget lo." Elvano terkekeh pelan.

"Gue awalnya bingung, mau bilang ini ke lo apa nggak." Raut wajah Elvano berubah seketika.

"Maksudnya?"

"Gue kira, yang gue liat belum tentu bener. Tapi kemarin lo bilang dia juga termasuk orang yang dicurigai, gue pikir gue harus bilang ini."

"Langsung aja ke intinya, ini tentang apa?"

"Gue liat Fiza turun dari atap sekolah pas kejadian Naya," ujar Aldo membuat Elvano terkejut.

"Ceritain lebih jelas!"

Hari dimana kejadian Naya, Aldo sedang berjalan di koridor seorang diri. Ia memilih berdiam diri di batas penyangga melihat ke arah lapangan yang ramai. Awalnya tidak ada yang salah, namun ia dikejutkan oleh seseorang yang terjatuh dari atap sekolah tepat di hadapannya. Aldo melihat ke bawah saat merasa ia mengenali perempuan itu.

Benar saja, itu Naya!

Aldo hendak menuju lapangan, tapi ia melihat Fiza sedang menuruni tangga atas dengan terburu-buru. Wajahnya sangat pucat dan terlihat sangat panik. Langsung saja Aldo menahan tangan Fiza.

"Lepas Do!"

"Lo ngapain dari atap?" tanya Aldo tepat pada intinya. Sedangkan tubuh Fiza bergetar, juga air matanya luruh begitu saja.

"Lepasin gue Do."

"Jawab gue Fiza! Lo ngapain dari atap? Kenapa  lo kayak ketakutan gitu hm?"

"Awas Aldo!!" Dengan sekuat tenaga Fiza menghempaskan tangan Aldo kasar kemudian berlari meninggalkan Aldo yang menatap kepergian sosok itu curiga.

"Gak mungkin! Lo pasti bohong! Ngapain juga Fiza ngelakuin itu ke Naya?" sanggah Elvano.

"Terserah lo mau percaya apa nggak, gue udah nyeritain semuanya ke lo."

"Fiza gak mungkin ngedorong Naya."

"Bisa aja ada dendam tersembunyi, atau gak bermuka dua."

"Jaga ucapan lo anjing!" Elvano mencengkram kerah seragam Aldo, menatap lelaki itu sengit.

"Kita nggak tau isi hati orang El," ujar Aldo. Elvano langsung melepaskan cengkraman. Berusaha untuk menahan emosi dan tidak memulai pertengkaran.

"Luna, mungkin aja dia pelaku sebenarnya."

"Gue lihat sendiri El, bisa aja pelaku sebenarnya itu Fiza."

"Gue gak percaya, gue bakal tanya Luna!" Elvano berlalu pergi meninggalkan keterdiaman Aldo. Tujuannya saat ini adalah Luna, ia berjalan menuju kantin untuk mencari perempuan itu.

Mata Elvano menelusuri kantin, tatapannya terhenti pada dua orang perempuan yang tertawa bersama. "Ikut gue!" Elvano menarik tangan Luna kasar.

"Sakit El," rintih Luna. Cengkraman Elvano membuat tangannya merasa sangat sakit.

"Eh Elvano, Luna mau dibawa kemana?!" sahut Abel setengah berteriak.

"Elvano!" Langkah Elvano terhenti ketika melihat sosok Fiza di hadapannya.

"Lo mau kemana?" tanya Fiza

"Bukan urusan lo," jawab Elvano datar.

"Lo lagi ada masalah? Atau gue ada salah?"

"Gue ada urusan Za."

"Lo gak akan makan?" tanya Fiza lagi.

"Gak." Elvano melanjutkan langkahnya masih menarik tangan Luna dengan kasar. Sedangkan Fiza menatap punggung itu nanar.

"Mau kemana El?"

"Diem."

Ternyata Elvano membawa Luna ke taman belakang sekolah yang sepi. Ia menghempaskan tangan Luna kasar. Luna hanya bisa meringis saat melihat tanganya yang memerah. Bahkan ada bekas kuku yang menancap.

"Jawab gue dengan jujur," ucap Elvano. Ia saat ini sedang menahan amarah yang bergejolak dalam dirinya.

"Apa El?"

"Lo dimana pas kejadian Naya?"

"Soal Naya lagi?"

"JAWAB LUNA!"

"Gue di kantin."

"Benarkah?" Salah satu sudut bibir Elvano tertarik.

"Gue tau lo gak di kantin."

"Gue mau ke kantin lebih tepatnya, tapi gue ke toilet dulu."

"Kancing tangan lo, kenapa ilang?" Luna melihat ke arah lengan seragamnya.

"Gue gak tau kenapa bisa ilang, sebelumnya emang kancing itu mau putus."

"Gue mau tanya satu lagi."

"Apa?"

"Lo ngedorong Naya dari atap sekolah?"  Raut wajah Naya berubah seketika.

"Maksud lo? Naya bunuh diri! Kenapa nuduh gue?" tanya Luna tak terima. Elvano terkekeh kecil.

"Darimana lo tau kalau Naya bener bunuh diri? Gue curiga, karena dari awal lo gak suka sama Naya dan lo selalu ngedeketin gue."

"Cuman karena itu? Iya gue emang aku, gue benci Naya tapi gue gak ngedorong Naya!"

"Lo gak bohong kan?" tanya Elvano menatap Luna tajam.

"Ngapain gue bohong? Lo gak percaya gue?" kali ini Luna yang bertanya.

"Nggak."

"Asal lo tau El, gue gak dorong Naya. Gue emang pengen dia mati, tapi gue gak mau jadi pembunuh."

"Kalau lo bukan cewek habis lo di tangan gue," kesal Elvano ketika mendengar ucapan Luna. Luna tidak menghiraukan ucapan Elvano, ia bersikap santai tidak ada ketakutan sama sekali.

"Oh iya satu lagi, jangan terlalu percaya Aldo. Gue liat dia pas kejadian Naya, dia cuman senyum ngeliat Naya dari atas. Padahal semuanya panik, tapi cuman dia sendiri yang senyum ngeliat keadaan Naya yang kayak gitu. Gue gak tau apa arti senyuman itu. Tapi gue cuman ngebilangan, jangan terlalu percaya." Setelah mengucapkan itu, Luna berlalu pergi.

Elvano mengacak-acak rambutnya frustasi. Makin kesini, sungguh makin sulit dan rumit. Ia memang menemukan petunjuk, tapi petunjuk itu abu-abu.

Mana yang harus ia percaya?

NayaVa (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang