Mimpi terasa 'nyata'

500 48 2
                                        

Fiza membuka pintu rumahnya lesu, wajahnya nampak sangat kusut. Ia berjalan memasuki kamarnya dan melempar tasnya ke segala arah. Fiza terduduk di lantai dengan kasur sebagai sandaran. Lagi-lagi air matanya turun tanpa permisi. Kilasan memori mengenai Naya kembali terngiang, Fiza menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan dengan kaki menekuk.

Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Hingga suara pintu terbuka menghentikan tangisnya, Fiza mendongakkan kepala melihat seseorang yang memasuki kamarnya.

"Kamu kenapa Za?" tanya Rere, ibu Fiza.

"Mah," panggil Fiza dengan mata berkaca-kaca.

"Ada apa Za?" Bukannya menjawab Fiza malah mendekal tubuh Rere erat.

"Fiza takut Mah," ucap Fiza di sela tangisnya.

"Takut kenapa?" tanya Rere lagi.

"Fiza takut..."

"Fiza gak salah..." Rere mengusap rambut anaknya bermaksud menenangkan.

"Itu bukan salah Fiza!!"

***

Semenjak kejadian kemarin, satu sekolah dibuat ramai oleh topik jatuhnya seorag perempuan dari atap sekolah. Banyak asumsi-asumsi tak mengenakkan perihal Naya. Sepanjang koridor, pasti membicarakan itu. Elvano hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang bergejolak mendengar nama Naya selalu disebut-sebut.

Elvano memasuki kelas dengan raut wajah datar, kedatangannya membuat kelas yang asalnya ribut menjadi hening. Mereka menatap Elvano dengan belas kasihan.

"Elvano," panggil Luna menduduki kursi sebelah Elvano yang kosong.

"Jangan sedih ya, kan ada gue. Gue siap ko gantiin posisi Naya." Elvano menatap perempuan di sebelahnya tajam.

"Atas hak apa lo ngomong gitu?" tanya Elvano, namun Luna hanya terdiam .

"ATAS HAK APA LO NGOMONG GITU!" Nada suara Elvano meninggi.

"Elvano...," lirih Luna ketakutan.

"Asal lo tau, gak ada siapapun yang bisa gantiin Nayara Maheswari di hati gue!"

"Mending sekarang lo pergi, gue muak liat muka lo," sarkas Elvano menenggelamkan kepala di balik lipatan tangan di atas meja. Sedangkan Luna sudah ditarik Bela agar kembali ke kursi untuk menghindari amukan Elvano yang bisa saja kembali meledak.

Berbeda dengan Elvano, Fiza hanya terdiam menatap ke arah depan dengan pandangan kosong. Kejadian kemarin membuat dua orang itu menjadi rapuh.

"Polisi dateng!" heboh Rey memasuki kelas. Beberapa orang mendekat ke arah jendela untuk melihat, benar saja beberapa mobil polisi sudah terparkir di lapangan sekolah.

"Kita bakal diinterogasi gak sih?" tanya salah seorang perempuan.

"Kayaknya yang paling deket sama Naya aja deh," jawab temannya.

"Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Andra memasuki kelas. Beberapa orang segera kembali ke meja masing-masing melihat kedatangan wali kelasnya.

"Pagi Pak!"

"Bapak minta tolong pada Gavin, agar teman-temannya tidak keluar kelas dulu ya. Dikarenakan ada pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Mungkin kalian sudah tahu kondisi Naya kan? Doakan dia agar cepat sadar dan kembali belajar bersama kita disini."

"Oh ya, Fiza bisa ikut Bapak sebentar?" Tanpa berucap apapun, Fiza berlalu keluar kelas tidak memperdulikan Pak Andra yang masih berada di kelas.

"Gavin, tolong ya. Kalian jangan berisik juga." Pak Andra berlalu keluar kelas. Semua orang nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Berbeda dengan Elvano, lelaki itu sudah terlelap karena semalam ia sama sekali tidak bisa tertidur. Kilasan memori kemarin selalu terbayang maka dari itu Elvano sama sekali tidak tidur.

Di bawah rindangnya pohon terlihat seorang perempuan sedang membaca buku dengan kedua telinga disumpal oleh headset. Kedua sudut bibir perempuan itu tertarik membuat simpul yang sangat cantik.

Elvano menatap sosok itu tidak percaya, ia segera menghampiri dengan langkah tergesa-gesa.

"Naya!!" panggil Elvano sedikit kencang. Naya mendongakkan kepalanya lalu melambaikan tangan pada Elvano. Perempuan itu sudah melepaskan headset dan menyimpan bukunya.

"Gue kangen sama lo!" Elvano mendekap tubuh itu erat, sampai-sampai Naya dibuat terkejut oleh perlakuan mendadak dari pacarnya. Elvano melepaskan dekapannya kemudian menatap wajah yang ia sangat rindukan.

"Muka lo kenapa pucet Nay?" Kedua tangan Elvano menangkup pipi Naya yang terasa dingin.

"Kulit lo juga kenapa dingin?" panik Elvano. Sedangkan Naya tersenyum, ia mengusap tangan Elvano di pipinya lalu menggenggam tangan itu erat.

"Elvano."

"Apa Nay?"

"Selamat tinggal."

"Jangan bercanda Nay!" Elvano mendekap tubuh Naya lagi, kali ini lebih erat.

"Selamat tinggal Elvano Mahendra." Setelah mengucapkan itu, tubuh Naya lenyap di dekapan. Air mata Elvano turun, ia menatap udara dengan berkaca-kaca. Sosok itu hilang, tepat di hadapannya.

"Naya!!!"

Elvano terbangun, ia mengusap pipinya yang terasa basah. Mimpi itu terasa sangat nyata, ia segera menghubungi seseorang.

"Halo Mah?"

'Kenapa El?' tanya seseorang dari seberang.

"Mamah lagi di rumah sakit?"

'Iya.'

"Kondisi Naya gimana?"

'Kondisinya masih buruk El, malah jauh lebih buruk.' Elvano terdiam mendengar itu.

'Tapi kamu jangan khawatir, Naya pasti sembuh. Kamu berdo'a aja ya. Mamah juga mau calon mantu cepet sadar. Kamu belajar aja, jangan terlalu dipikirin ya. Mamah gak mau liat nilai kamu turun Elvano. Mamah tutup.' Sambungan diputus secara sepihak, Elvano menatap layar ponselnya nanar.

Semakin buruk? Lo berniat nyerah Nay? -batin Elvano.

NayaVa (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang