Ditutup

433 40 0
                                        

Semua orang berbondong-bondong menuju kelas masing-masing setelah upacara sudah dilaksanakan.

"Lo tau gak soal kasus Naya yang kemarin jatuh itu loh."  Elvano menajamkan telinganya ketika mendengar nama Naya dibawa-bawa oleh dua orang perempuan di depannya.

"Apaan emangnya?"

"Kepala sekolah paman gue kan, nah dia bilang  kalau Naya itu ngelakuin percobaan bunuh diri."

"Terus terus?"

"Bahkan udah ada bukti jelas kalau dia emang ngelakuin bunuh diri tapi masih selamat."

"Eh yang bener?" Kedua tangan Elvano mengepal mendengarnya. Sekuat mungkin ia berusaha tenang dan kembali mendengarkan lanjutan pembicaraan mereka.

"Paman gue milih kasus ini di tutup aja, orang tua Naya juga setuju dan pihak sekolah memilih tutup mulut dari media. Soalnya kalau sampe tercium media, reputasi sekolah ini bakal di cap buruk sama orang-orang."

"Apa?" sahut Elvano tidak percaya. Kedua perempuan itu menolehkan kepala menatap Elvano bingung.

"Pihak sekolah nutup mulut?" gumam Elvano sembari terkekeh kecil.

"Wah gue gak percaya ini."

"S*alan!!" Elvano segera berlari menuju ruang kepala sekolah sesekali ia menabrak oramg-orang di depannya. Elvano langsung membuka pintu ruang kepala sekolah tanpa prmisi. Emosinya terlalu menguasai.

Orang-orang yang berada di ruangan terlonjak kaget. "Apa-apaan kamu ini!" seru Kepala Sekolah menatap Elvano tajam. Disana juga sudah terdapat beberapa orang polisi yang sempat menangani kasus Naya.

"Kenapa kalian menutup kasus seenaknya!!"

"Naya gak mungkin bunuh diri Pak, pasti ada yang ngedorong dia!" lanjutnya.

"Bukti sudah jelas," jawab Kepala Sekolah.

"Gak mungkin Pak."

"Kelas berapa kamu hah? Kembali ke kelas kamu!" titah Kepala Sekolah yang tidak digubris sama sekali.

"Tolong Pak, lanjutkan lagi kasus ini," ucap Elvano pada Fajar dan rekannya.

"Saya sudah bilang Naya gak mungkin bunuh diri Pak."

"Tolong beri keadilan pada Naya, saya mohon," lirih Elvano. Bahkan lelaki itu sudah bertekuk lutut memohon. Fajar dan rekanya segera membangkitkan Elvano.

"Kamu jangan seperti ini, bukti sudah jelas. Dan orang tua Naya sudah menyetujui kasus ini agar ditutup saja," ucap Fajar.

"Naya gak akan sebodoh itu Pak."

"Sekarang kamu ke kelas ya?" Elvano menggeleng pelan.

"Yang kamu harus lakukan adalah belajar, dan menunggu Naya siuman."

"Tolong percaya saya Pak, saya kenal dia dari kecil."

"Iya saya percaya kamu, sekarang kamu ke kelas ya?" Akhirnya Elvano mengangguk.

"Oh iya Pak, saya miris. Pihak sekolah memilih reputasi ketimbang nyawa seseorang. Saya permisi." Elvano berlalu keluar dari ruangan Kepala Sekolah. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.

Nay gue harus gimana?

***

"El?" panggil Fiza khawatir akan kondisi lelaki itu yang sedang menenggelamkan kepalanya diatas liapatan tangan.

"Lo kenapa El?" tanyanya lagi namun tidak ada balasan sama sekali.

"Elvano."

"Gue gak berguna Za," ucap Elvano membuka suara.

"Gue gak berguna." Elvano mendongakkan kepala menatap Fiza sendu.

"Bodohnya gue yang gak bisa ngelakuin apa-apa buat Naya."

"Gue harus gimana Za?" Fiza menghela nafas kasar. Ia mengelus rambut Elvano pelan.

"Lo jangan ngomong gitu El, akan ada saatnya semua rahasia terungkap. Yang harus lo lakuin adalah selalu berdo'a agar Naya cepet sadar dan jangan sampe nilai lo turun gara-gara mikirin soal ini terus."

"Tapi gue percaya Naya gak mungkin bunuh diri Za. Gue tau Naya gak mungkin senekat itu. Tapi kasus itu ditutup gitu aja. Dengan teganya pihak sekolah memilih tutup mulut dan ngebiarin masalah ini gitu aja."

"Kasian Naya, Za."

"Lo juga percaya kan Naya gak mugkin ngelakuin itu?" tanya Elvano menatap perempuan itu penuh harap. Namun Fiza hanya tersenyum kecil.

Gue percaya dia El-batin Fiza, enggan membuka suara.

NayaVa (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang