Gue nyerah Nay

505 51 2
                                        

Seseorang membuka pintu kamar rumah sakit perlahan, kemudian menghampiri sosok Naya yang masih betah menutup mata dan menduduki kursi di samping kasur. Ia menggenggam tangan Naya erat dan sesekali mengecupnya.

"Kapan bangun hm?"

"Lo benci gue ya Nay?" Lelaki itu menatap wajah Naya sendu.

"Gue lebih seneng lo marah-marah ke gue dari pada tidur kayak gini."

"Maaf gue salah Nay."

"Gue marah, kenapa lo gak pernah liat gue yang tulus sama lo?" Ia menempelkan tangan Naya pada pipinya.

"Gue janji bakal berubah Nay, gue gak akan kasar lagi. Gapapa lo gak terima perasaan gue, asal gue bisa liat senyum lo lagi. Itu cukup buat gue."

"Lo inget gak pertama kali kita ketemu? Pertemuan yang sederhana, bisa bikin gue tertarik sama lo."

Nayara Maheswari terlihat sedang melewati lapangan, dimana eskul basket sedang latihan disana. Naya tampak terburu-buru takut terkena bola, tapi nasib buruk menimpanya saat bola basket mengenai kepalanya sampai terjatuh.

"Woy kalau main yang bener!!" kesal Naya memegangi kepalanya yang terasa pusing.

"Maaf," ujar seseorang. Naya mendongakkan kepala menatap tajam orang di depannya.

"Lo yang lempar bola?"

"Iya."

"Lo bisa main gak sih? Sakit kepala gue."

"Kan gue udah bilang maaf." Naya berdecih.

"Maaf lo keliatan gak tulus banget."

"Gue pergi." Aldo hendak pergi namun teriakan Naya menghentikannya.

"Bantuin gue berdiri dulu bego!! Pusing nih." Aldo menarik tangan Naya kasar agar berdiri tegak.

"Lo gak bisa lembut?" kesal Naya.

"Nggak."

"Cape gue ngomong sama lo!" Naya berlalu pergi meninggalkan area lapangan, sebelum itu Aldo melirik nametag Naya.

"Nayara Maheswari," gumamnya.

Semenjak itu Aldo mencari tahu tentang Naya, dan mendekati perempuan itu secara terang-terangan. Terkadang ia selalu menyuruh orang untuk memberi makanan atau hal apapun kesukaan Naya tanpa Naya ketahui itu adalah pemberiannya.

Namun, Aldo harus menelan pahit ketika mengetahui bahwa Naya dikabarkan berpacaran dengan Elvano. Karena itu ia terlalu dibutakan amarah sehingga selalu berperilaku kasar pada perempuan itu agar menerima perasaannya.

"Gue bakal nyerah Nay. Gue tau, Elvano bisa buat lo bahagia." Aldo tersenyum miris. Rasanya sakit mengeluarkan kata-kata itu.

Aldo mendekat pada telinga Naya membisikkan sesuatu disana.  'Cepet bangun cantik, gue sayang lo.' Kemudian menjauhkan tubuhnya. Saat hendak pergi, ia di kejutkan oleh kedatangan Elvano.

"Ngapain lo kesini?" tanya Elvano bernada tak suka.

"Suka-suka gue."

"Gue mau ngomong sama lo, ikut gue," ujar Elvano berlalu pergi diikuti oleh Aldo. Mereka memilih berbicara di atap rumah sakit.

"Mau ngomong apa? Cepet gue sibuk," ucap Aldo.

"Baju serba hitam yang dateng pas Naya di ICU itu lo kan?" tanya Elvano.

"Gue nggak tau," balas Aldo sekenanya.

"Gue tau itu lo, gue masih inget topi yang di pake itu sama kayak topi yang dipake lo sekarang. Kenapa lo kabur?"

"Mau aja."

"Gue serius!"

"Males." Elvano menghela nafasnya kasar.

"Gue tanya satu lagi, lo diatap sekolah kan pas kejadian Naya?"

"Darimana lo tau kalau gue di atap sekolah?" balik tanya Aldo. Raut wajah Aldo kini sudah tidak bersahabat ketika mendengar pertanyaan terakhir Elvano.

"Lo gak dorong Naya kan? Gara-gara perasaan lo dia tolak, lo gak sampe nekat kan?" ucap Elvano membuat kedua tangan Aldo mengepal menahan emosi.

"Jawab gue Aldo!"

"Lo mau jawaban yang kayak gimana? Lo mau gue bilang, gue yang dorong dia gitu?"

"Gue mau lo ngomong yang sebenarnya!"

"Tapi kenapa di kuping gue lo seakan-akan nganggep gue bener dorong dia?"

"Gue cuman mau denger kebenaran. Karena gue tau, Naya gak mungkin ngelakuin percobaan bunuh diri!"

"Bukan gue," jawab Aldo datar.

"Jangan bohong Do."

"Lo mau denger kebenaran kan? Bukan gue bangsat!" Aldo meninju rahang Elvano sampai tersungkur.

"Gue emang brengsek, tapi gue gak mungkin ada niatan ngebunuh perempuan yang gue suka! Mikir pake otak tolol!"

"Denger gue baik-baik, sebelum lo nuduh orang lain, liat dulu orang-orang disekitar lo," lanjut Aldo kemudian beranjak pergi meninggalkan Elvano yang sedang mencerna perkataan terakhir Aldo.

Orang terdekat gue?

NayaVa (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang