52.Sangat Rumit

6.1K 483 451
                                        

Gak usah sedih, kamu bisa jadi yang terbaik di mata orang yang tepat

Mentari pagi menyinari lapangan sekolah pagi ini, pengumuman penting tentang ujian nasional sedang di umumkan di depan sana oleh kepala sekolah, kali ini kaki Ferisha seakan ingin terlepas dari tubuhnya sudah satu jam lebih kepala sekolahnya berkomat-kamit di depan sana tanpa memberi jeda, rasanya dirinya seakan ingin mengambil mulut itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah.

Ferisha mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya, dirinya paham pasti semua info dari kepala sekolah selalu menjerumuskan ke dalam omongan bahwa mereka harus terus rajin belajar. Oh Ayolah! Berulangkali pun di suruh belajar rasanya Ferisha ingin minggat saja, pergi dengan langkah tergesa-gesa, namun jika pelajaran matematika dirinya masih tahan dengan hal itu, tapi untuk mata pelajaran lain dirinya angkat tangan.

"Nih Pak Husein kalo gak di bekap tuh mulut gak bakalan bisa di rem. Kaki gue dah mau patah nih, muka gue juga dah kebakar sinar matahari." kata Nada  marah sambil terus melihat ke arah Pak Husein, selaku kepala sekolah mereka.

"Gue capek banget, pengen gue sentil tuh ginjalnya." ucap Ferisha juga, rasanya dirinya sudah tak mengerti dengan semua hal sekarang.

Tiffany melihat ke arah Nada dan tersenyum aneh. "Harus di lakuin misi nih." katanya membuat ketiga sahabatnya menoleh.

"Misi apa-an?" tanya Ferisha bingung tak mengerti, namun yang di tanya hanya tersenyum ke arah Nada, Nada tampaknya mengerti dengan ide dari Tiffany.

"Teriak yang kenceng Nad." aba-aba Tiffany semakin membuat Ferisha serta Bella melihat bersama dengan kebingungan.

"Jangan bikin malu please, gue masih mau lulus, gue udah muak sama sekolah. Tif! Nad! Jangan main-main, gue kepret lo berdua." kata Bella khawatir melihat Nada yang sudah ancang-ancang akan berteriak.

"Pak Husein!" teriak Nada membuat semua atensi terarah ke arahnya, Ferisha dan Bella menutup wajahnya malu melihat kelakuan kedua sahabatnya, biarkanlah mereka hidup tenang sehari saja.

"Bu Zainab nungguin di ruang guru tadi, Tiffany liat Bu Zainab bawa panci penggorengan!" teriak Tiffany membuat Pak Husein terkejut dan terdiam, Bu Zainab merupakan istri dari Pak Husein, Tiffany tahu kelemahan Pak Husein terletak di istrinya, bagaimana ia tahu? Jawabannya adalah Tiffany merupakan tetangga Pak Husein, setiap saat ia tahu Pak Husein dan istrinya bertengkar dan Pak Husein akan berlari ketakutan.

"Serius kamu?" tanya Pak Husein, Tiffany mengangguk. "Serius Pak!" teriaknya menjawab.

"Pengumuman kali ini saya akhiri." ucap Pak Husein lantang membuat semua murid berteriak senang, Tiffany serta Nada memasang wajah angkuh, seakan merekalah penyelamat semua murid.

Ferisha tersenyum senang melihat hal itu dan langsung memeluk ketiga sahabatnya kegirangan, semua murid membubarkan diri dan berjalan ke arah kelas mereka, walaupun pengumuman berakhir tetap saja pelajaran akan terus berlangsung.

Mata Ferisha mencari keberadaan seseorang yang ia cari, ujian nasional akan berlangsung satu minggu lagi, berarti sesuai janji Devian beberapa bulan yang lalu mereka akan pergi berwisata ke Korea bulan ini, ia harus memastikan hal itu.

Namun matanya harus menahan cemburu melihat Devian bersama dengan perempuan yang sempat jadi bahan pertengkaran Devian dengan dirinya kemarin. Kenapa harus bersama lagi? Kapan Devian akan memberitahu siapa perempuan itu?

Katakan dirinya egois dirinya sudah gatal saat melihat perempuan itu memeluk pinggang Devian, tampak Devian tak menolak sedikit pun dirinya hanya tersenyum seakan sudah terbiasa dengan hal itu, ia mengepalkan tangannya kuat menahan emosi.

Married With Cold BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang