48.Meninggal

12.9K 663 123
                                        

Belum sampai memiliki, sudah di paksa merelakan.

MENDENGAR semua omongan yang keluar dari mulut Gilang mampu membuat kesabaran yang  Devian miliki habis, ia menatap ke arah Gilang dengan pandangan  membunuh, dan dengan senyum yang tak kalah menyeramkan, melihat Gilang yang tak melihat ke arahnya  langsung saja tangannya ia layangkan ke  arah pipi kanan Gilang membuat Gilang tersungkur ke lantai.

Gilang yang tak sadar akan tindakan Devian membuat pistol yang  berada di genggamannya terjatuh tak jauh dari tempatnya terjatuh, Devian menatap remeh ke arah Gilang yang berada di bawahnya, lalu  kembali berlari ke arah Gilang dan membabi buta wajah Gilang membuat  keluar dari sudut bibir Gilang.

Setelah puas memberi pukulan ke wajah Gilang, Devian berdiri dan  berjalan menjauhi Gilang, ia mengambil pistol yang sejak tadi ia  sembunyikan di belakang tubuhnya kemudian mengarahkannya ke arah Gilang.

"Keadaan berbalik, bitch!" kata Devian sambil tersenyum remeh.

"Silahkan nikmatin masa-masa terakhir lo sebelum waktu kebebasan lo di luar jeruji berakhir," ucap Devian memberi peringatan.

"Anak buah lo akan sama seperti keadaan lo sekarang," matanya  menyusuri keadaan Gilang. "Gue tau lo kerjasama sama Shakira kan, Shakira aja  bisa gue masukin ke penjara apalagi cowok brengsek kayak lo,"

"Gue tau alamat semua anak buah lo, bahkan gue juga tau markas lo dimana,"

"Gue juga tau apa hubungan lo sama Shakira,"

"Cinta lo itu udah bikin lo buta, bahkan dengan nyakitin istri gue,  lo bisa bahagia, itu cinta atau dendam?" tanyanya halus namun mampu  membuat Gilang tersindir.

Devian berjalan dengan membalikkan badannya, bermaksud melihat  keadaan CCTV di ruangan ini, setelah menemukan yang ia cari ia tersenyum  bahagia, hal tersebut dapat ia jadikan sebagai barang bukti.

Barang  yang pastinya akan memperberat masalah yang Gilang perbuat pada dirinya dan Ferisha, hal ini harus ia balas dengan kasus seberat mungkin, ia tak akan bisa melepaskan Gilang semudah itu.

Namun siapa sangka tangan Gilang berusaha meraih pistol dengan  tenaganya yang masih tersisa, Ferisha yang sudah meringis kesakitan dengan  tubuh yang melemah akibat darah yang sudah mengucur keluar menatap  was-was ke arah Gilang.

Dor!

Suara tembakan membuat udara di sekitar Ferisha menipis, di lihatnya Devian yang sudah tergeletak mengenaskan di lantai, di lihatnya lagi  ke arah Gilang yang berusaha untuk berdiri, Gilang berjalan ke arah Ferisha.

"Semoga aja dia mati," kata Gilang sinis.

"Lo jahat Lang!" teriaknya sambil menangis.

Ia menangis ketika melihat Gilang yang berlari keluar dari arah pintu  meninggalkan dirinya seorang diri setelah mengucapkan kalimat itu, ia  menundukkan kepalanya menangis sejadi-jadinya, perih rasanya, ia tak  mampu lagi.

Ia kembali mengangkat kepalanya menatap ke arah sang  suami, tak sanggup, terlalu menyakitkan, lebih sakit lagi ia tak mampu  untuk menolong, mulutnya keluh untuk meminta bantuan.

Tanpa Ferisha mau air mata kembali bercucuran dari pelupuk matanya, lemah sekali dia.

"Udah jangan nangis, nanti tambah jelek,"

Ia mendonggak ketika mendengar suara bariton di depannya, di lihatnya  sang suami yang sudah berdiri dengan keadaan sehat tanpa terluka  sedikit pun, dengan perasaan terkejut dan bahagia Ferisha menatap manik mata Devian dengan air mata yang masih terdapat di mata serta pipinya.

Married With Cold BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang