51. Terpesona

7.8K 584 247
                                        

Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan ku, walaupun bahagiamu tanpa bersama ku.

Ferisha mendudukkan diri di bangku miliknya, tangannya bergerak mengambil sebuah pulpen dan menulis beberapa kata disana, ia menulis sebuah harapan yang ingin ia wujudkan untuk masa depan, senyuman tiba-tiba terukir di bibirnya.

Pertama ia selalu memikirkan tentang Devian, tampak disana ia menulis sebuah gambar hati di tengah namanya dengan Devian, menulis tentang keinginannya untuk terus bisa bersama-sama dengan lelaki itu, menulis semua momen special yang sudah ia lewati bersama.

Dirinya tahu bahwa tak selamanya dia harus selalu bertingkah kekanak-kanakan, ia selalu berusaha untuk berpikir dewasa di kemudian hari, ia merasa Devian sangat mampu untuk membuat dirinya bertumbuh menjadi pribadi yang sangat baik.

Senyumannya semakin lebar, ia terkekeh geli sendiri melihat  coretan di belakang bukunya itu, tampaknya dirinya memang sudah di mabuk asmara, semua tentang Devian membuat dirinya menjadi tak karuan.

Nada tanpa berdosa menggebrak meja milik Ferisha, membuat Ferisha terkejut kemudian menatap Nada kesal, selalu saja mengganggu.

Nada duduk di samping Ferisha. "Senyum mulu lo, hati-hati entar kesambet hantu bucin, tau rasa lo." nasehat Nada kepadanya.

Ferisha berdecih dan langsung menutup bukunya. "Gimana mau kesambet orang lo setannya." katanya membuat Nada kesal bukan main.

"Heh setan, gue bukan setan, lo kalo ngomong suka bikin orang terdiam, terpesona gue liatnya." kata Nada sambil mengelus dadanya.

"Terpesona, terpesona, lambe mu terpesona." Ferisha menoyor dahi Nada. "Makin alay lo gue liat." sindir Ferisha kepada Nada.

"Shasha, ini tuh lagi zaman tau, terpesona, papi Chulo, jujur sasu bilang, pokoknya banyak dah, jangan ketinggalan dong sama yang lagi ngetrend." kata Nada sambil memperagakan setiap gerakan membuat Ferisha terdiam.

"Woi!"

Sebuah gebrakan pintu membuat semua orang di kelas Ferisha kaget, disana terlihat Tiffany dan Bella yang masuk ke dalam kelas, namun sebelum masuk Tiffany terlebih dahulu memukul pintu tersebut, memang gabut bukan main.

"Bisa ketelen malu gue jalan sama lo Tif, emang pada gak bener semua sahabat gue." Bella berjalan terlebih dahulu ke arah Ferisha, meninggalkan Tiffany yang masih memarahi teman sekelasnya yang mengganggu akses jalannya.

"Kan gue mau lewat lo ngehalangin gue." marah Tiffany kepada temannya yang sedang piket di dalam kelas.

"Masih ada jalan lain, lo yang gila, udah tau gue nyapu masih aja bersih keras lewat sini." jawab kesal temannya itu.

"Suka-suka gue lah, yang punya kaki gue, kok lo yang sewot, berisik banget jadi orang gak bisa liat gue tenang apa, udah minggir lo sana," Tiffany langsung berjalan ke arah sahabat-sahabatnya setelah diberikan akses jalan oleh temannya itu.

"Woi! Gimana kabar baik kan?" tanya Tiffany kemudian duduk di bangkunya.

"Padahal tiap hari Senin sampe Sabtu jumpa dah, di tambah sering chattan, masih aja nanyain kabar." jawab Nada aneh terhadap tingkah laku Tiffany.

"Kok lo jawabnya gitu sih, emang salah gue ngomong gitu, gak bisa apa liat gue bahagia sehari tanpa ngegas," kata Tiffany kesal sambil mencampakkan buku Ferisha di atas meja itu.

"Kan kena lagi gue, padahal diem doang." kata Ferisha lesu sambil mengambil bukunya di bawah lantai.

"Lo lagi PMS nih, marah mulu perasaan." kata Bella membuat Tiffany langsung menatapnya.

Married With Cold BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang