47.Teman Masa Lalu

9.6K 553 153
                                        

Bermula dari candaan berakhir dengan perasaan.

SUDUT  bibir Gilang tertarik ketika melihat Ferisha yang sudah menatap takut  kearah-nya, Gilang menghela napasnya pelan, lalu berjalan kembali kearah Ferisha, ia mengelus pipi Ferisha pelan, dan sedikit merapikan anak rambut Ferisha pelan, Ferisha mengubah arah wajahnya tak ingin menerima perlakuan Gilang.

"Kenapa di palingin mukanya sayang?" tanya Gilang sambil terus tersenyum.

Apa tadi dia bilang? Sayang? Cih! in your dream Boy. Pekik Ferisha dalam hati.

Tanpa Ferisha sadari sejak tadi ia terus menatap ke arah Gilang dengan  pandangan sinis, dengan kesal Gilang menarik kasar pipi Ferisha untuk  kembali menatapnya, ia tak suka ini, Gilang sudah terlalu kelewat batas  memperlakukannya.

"Aww, sakit Lang, lo kasar banget!" lirihnya kesakitan.

"Sakit yah maafin gue," ucap Gilang pelan lalu mengelus pipi Ferisha dengan perhatian.

Plak!

"Aww..."

Ferisha terkejut saat perhatian Gilang yang lembut tadi kini telah  berubah kembali perlakuan semula, kasar dan tak berperasaan, dari sini  ia tahu bahwa Gilang memiliki sifat yang aneh, kadang baik dan kadang  bisa buruk juga.

"Lo jangan terlalu berharap gue perlakuin lembut sekarang, mungkin  dulu gue emang berharap buat ngasih lo segala kelembutan, tapi untuk  sekarang jangan harap begitu,"

"Lo kenapa berubah si Lang? lo itu orang baik," kata Ferisha menatap Gilang tak mengerti.

Gilang melihat kearahnya lalu terkekeh. "Orang baik? lo salah menilai  gue Sha, jangan anggep gue baik, gue jahat, liat sekarang yang gue  lakuin, atau lo masih butuh pembuktian?"

Gilang kembali berjalan kearah meja cokelat dihadapannya, kemudian  membuka laci meja tersebut, betapa terkejutnya Ferisha saat melihat Gilang yang sudah berjalan kearahnya dengan pisau yang baru saja ia ambil dari  laci tadi.

"Lang jangan lakuin hal yang bahaya? Please, gue mohon, cukup hidup gue udah terlalu menyakitkan, jangan tambihin luka lagi," ujarnya memperingati, membuat Gilang terkekeh.

"Emang kenapa? Lo pikir gue akan iba dengan hidup lo itu, bahkan hidup gue lebih menyedihkan, kalo lo tau itu."

"Lo tau gue udah gak punya siapa-siapa lagi, semua orang yang gue  sayang ninggalin gue, orang tua gue udah gak ada dari gue kecil, hanya  nenek yang gue punya dari dulu, semenjak gue kecil hanya seorang  perempuan kecil cantik yang terus nyemangatin, ngasih tau gue kalo hidup  gue berharga, gue gak boleh terlalu terperuk, hanya karena itu"

"Tapi dia ninggalin gue tanpa kabar apapun, tanpa pesan apapun, dan  tanpa ngucapin kata terakhir apapun, gue sedih, hidup gue hancur, gue  bingung harus apa, selang beberapa tahun nenek gue yang ninggalin gue,  gue gak punya siapa-siapa sampai sekarang,"

Gilang menarik napasnya saat mengingat masa lalunya. "Dan saat gue  menemukan perempuan kecil cantik itu, dia udah berubah, jadi perempuan  yang tumbuh menjadi perempuan dewasa yang cantik,"

"Tapi apa?! Dia bahkan gak ngenalin gue sama sekali! Dan malah ngejar  cowok yang sama sekali gak pernah suka sama dia, emang cewek bodoh,"  katanya terkekeh kembali mengingat betapa bodohnya perempuan itu.

"Lo tau dia siapa?" tanya Gilang bertanya ke arah Ferisha, "Ah gue salah bertanya sama lo,  begitukan Caca?" lanjutnya bertanya.

Caca?

Nama yang tak asing di pendengarannya, ia seperti sering mendengar  nama itu, ia kembali mengingat-ingat, namun Ferisha membuka matanya lebar  tak percaya dengan kenyataan.

Married With Cold BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang