Jangan cuek ya aku gak pinter cari topik pembicaraan.
PEMAKAMAN yang berlangsung haru membuat Ferisha menitikkan air mata sejak pemakaman sudah di mulai, ia menyesali dirinya yang tak bisa menjadi sahabat yang terbaik bagi Gilang, ia tahu betapa menyakitkan kehidupan Gilang sejak kecil, dirinya bisa memahami jika Gilang melakukan hal ini kepadanya.
Gilang sendirian, Gilang terpuruk, bahkan Gilang sangat kehilangan, seharusnya dia dapat terus menemani Sang Sahabat dulu, Gilang butuh dukungan dari orang terdekatnya, jika saja bisa ia akan menolak ajakan kedua orang tuanya untuk kembali tinggal bersama mereka, dirinya berjanji akan terus menemani Gilang.
Ferisha menahan tangis. "Maafin gue Lang." ucapnya menyesal.
Devian yang sejak tadi berada di samping Ferisha menoleh, ia juga ikut tersenyum kemudian langsung merengkuh Ferisha ke dalam pelukannya, membiarkan Ferisha menumpahkan segala kesedihannya.
"Jangan nangis terus," katanya pelan bermaksud menenangkan.
Ferisha mendengar itu, namun tetap saja air mata terus menerus menjatuhi pelupuk matanya, ia tak sanggup, kenangan manis masa kecil mereka kembali terulang, ia juga begitu merindukan masa kecilnya.
"Aku ngerti gimana rasanya kehilangan, aku sama Gilang sama-sama sendirian, kita berdua kehilangan orang tua walaupun dengan cara yang berbeda, aku tau pasti sulit menerima keadaan dalam kondisi Gilang yang dulu masih kecil." ujar Ferisha terus bersedih.
"Gilang gak salah, aku yang salah, aku ninggalin Gilang, aku ingkar janji sama dia, Gilang dulu butuh aku, aku yang anggap Gilang yang gak penting, aku nyesel," Ferisha semakin mengeratkan pelukannya, perih, dirinya butuh pelukan.
"Liatkan bahkan keluarganya hanya Kak Dani yang dateng di pemakamannya, Gilang terlalu kuat jalanin hidupnya,"
Ferisha ingat Dani yang kemarin mengobatinya di rumah sakit ketika Syakira mem-bully-nya dan Gilang membantunya.
Dani adalah kakak angkat Gilang, kedua orang tua Dani tak ingin mengurus Gilang namun Dani lah yang terus berusaha agar kedua orang tuanya mengizinkan, sekuat apapun Dani berusaha tetap saja hati kedua orang tuanya tak luluh, Dani berusaha untuk merawat Gilang walaupun dirinya melawan kedua orang tuanya.
Devian melepaskan pelukannya dan menatap intens Ferisha. "Lo juga kuat, jangan terlalu menyalahkan diri, dengan lo dateng ke pemakamannya pasti Gilang seneng," katanya terus berusaha menenangkan Sang Istri.
"Gak, aku salah, aku tau itu,"
Dani berjalan ke arah Ferisha serta Devian, ia tersenyum dengan wajah sembab di wajahnya, ia memberikan sebuah buku ke arah Ferisha, buku usang berwarna cokelat, Ferisha ingat itu buku milik Gilang sejak kecil, buku yang tak pernah dapat di baca olehnya karena Gilang terus menerus melarangnya.
"Kamu tau buku ini kan?" tanya Dani kepada Ferisha, lantas Ferisha mengangguk sebagai jawaban.
Dani menghela napasnya. "Awalnya saya kira Gilang gak akan ngelakuin hal yang gak baik sama kamu, tapi ternyata dugaan saya salah," ucapnya menatap Ferisha sendu.
"Gilang sering cerita sama saya tentang kamu, dia sejak dulu cinta sama kamu, tapi saya gak nyangka dia akan ngelakuin hal fatal dengan kamu," ucap Dani melanjutkan.
"Karena saya pikir dia sangat mencintai kamu, dan gak akan melukai kamu."
Dani menyodorkan buku yang sejak tadi di genggaman tangannya. "Ini untuk kamu, Gilang sejak dulu ingin memberikan ini kepada kamu, sebuah buku yang berisi tentang kamu, tentang kekaguman Gilang terhadap kamu."
"Saya sebagai salah satu keluarganya Gilang mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian lalu, mungkin tak akan semudah itu untuk memaaf-"
"Gak, Shasha udah maafin semuanya, Gilang sepenuhnya gak salah." Ferisha langsung memotong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Cold Boy
Roman pour AdolescentsDevian Mahendra Wijaya-Cowok jangkung yang memiliki paras sempurna, pandai dalam segala bidang mulai dari akademi sampai bela diri, merupakan ketua OSIS disekolahnya, memiliki sifat dingin dan menjadi most wanted di SMA JAYA NEGERI. Kehidupannya sel...
