Bersama mu, aku berada dalam ketidakpastian antara bertahan dan melepaskan.
"Keadaan jantungnya semakin memburuk, sejak Tuan mendengar perusahaan sudah hampir bangkrut tiba-tiba saja Tuan langsung pingsan."
Ferisha mengacak rambutnya kasar sambil mendengar penjelasan dari Bodyguard Sang Papa, memang sejak dulu Sang Papa mengidap penyakit jantung namun dulu tak separah ini, dulu dialah yang selalu mengingatkan Sang Papa untuk meminum obatnya walaupun Ferisha tahu Sang Papa tak akan memperdulikannya.
"Sudah dua Minggu Nyonya pergi meninggalkan Tuan, saya sudah berusaha untuk menyarankan Tuan untuk check up dan meminum obatnya setiap hari, namun Tuan menolak membuat saya tak dapat melakukan apapun." kata Bodyguard itu lagi, Ferisha mengeratkan kepalan tangannya mendengar bahwa Sang Papa tak di urus oleh istri barunya yang sekarang.
"Semenjak perusahaan sedikit demi sedikit mengalami penurunan Nyonya mengambil beberapa uang dan emas, ia pergi meninggalkan Tuan sendirian, sejak pelaporan perusahaan bangkrut disaat itu juga surat perpisahan pengadilan sampai di tangan Tuan." Bodyguard itu tampak sedih menjelaskan keadaan Sang Papa.
Sebuah tangan mengelus punggungnya berusaha untuk mengingatkan dirinya untuk terus tetap tenang, Ferisha menoleh ke samping menemukan Devian yang tampak tersenyum menguatkan dirinya.
"Dokter menjelaskan Tuan sebentar lagi akan siuman, walaupun Tuan sering memperlakukan Nona kasar saya tahu bahwa Tuan selalu memikirkan Nona, Tuan sudah menyiapkan semua hal yang Nona butuhkan, dulu Tuan selalu mengirimkan Nona bunga sewaktu kecil, namun Nyonya besar selalu membuangnya sebelum Nona mendapatkan semua itu. Saya pikir sekarang yang hanya di butuhkan Tuan hanya Nona." ucap Bodyguard itu sambil menatap harap kepadanya.
Seorang Suster mendatangi mereka. "Maaf mengganggu pasien sudah siuman," kata Suster tersebut.
"Apakah saya boleh melihat keadaan pasien Sus?" tanya Ferisha meminta persetujuan dari Sang Suster.
"Keadaan Pasien masih belum stabil, saya memperbolehkan dua orang saja yang memasuki ruangan." jawab Suster itu membuat Ferisha langsung mengangguk.
"Baik Sus, saya yang akan masuk sekarang," kata Ferisha memberi tahu. "Pak, saya pamit, terima kasih sudah membawa Papa saya tepat waktu ke rumah sakit." kata Ferisha berterima kasih.
"Iya Nona, itu kewajiban saya." balas Sang Bodyguard.
Tanpa aba-aba Devian langsung mengeratkan genggaman tangannya kepada Ferisha. "Jangan khawatir sendirian, gue bakalan nguatin lo sama seperti lo yang selalu nguatin gue." kata Devian lalu langsung berjalan mengikuti Suster ke ruangan Sang Papa.
Tepat saat itu disana dapat Ferisha lihat Sang Papa yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit sambil menatapnya sangat teduh, tatapan yang dari dulu sangat susah untuk ia dapatkan bahkan semenit pun.
"Gimana keadaan Papa? Masih sakit?" tanya Ferisha tersenyum kaku dengan nada yang sangat lembut, Sang Papa menggeleng sebagai jawaban.
"Yaudah, Papa istirahat aja dulu, biar Shasha jagain." katanya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Sang Papa, setelah selesai ia hendak menjauhi tangannya namun sebuah tangan menahannya.
Sang Papa menarik tangannya dan mencium sekilas telapak tangan Ferisha. "Maafin Papa sayang, Papa terlalu mikirin diri sendiri Papa terlalu egois untuk semua hal yang terjadi dulu." kata Sang Papa sedikit tersendat-sendat.
Ujung bibir Ferisha tertarik mendengar penuturan Sang Papa. "Udah Pa, semua hal yang terjadi di masa lalu udah Shasha lupain, sekarang yang terpenting kesehatan Papa, Papa gak boleh kebanyakan pikiran, sekarang yang harus Papa lakuin adalah istirahat yang cukup." katanya tulus sambil mengelus kepala Sang Papa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Cold Boy
Ficção AdolescenteDevian Mahendra Wijaya-Cowok jangkung yang memiliki paras sempurna, pandai dalam segala bidang mulai dari akademi sampai bela diri, merupakan ketua OSIS disekolahnya, memiliki sifat dingin dan menjadi most wanted di SMA JAYA NEGERI. Kehidupannya sel...
