46.Peneror Terungkap

10K 580 110
                                        

Terkadang aku lelah,selalu di pihak yang mengalah,hanya karena takut kehilangan.

TERHITUNG sudah satu minggu Ferisha pulang seorang diri,sejak kejadian kemarin ia tak berani untuk membuka suara atau berkomunikasi dengan Sang Suami,dan sampai sekarang pun sahabat-sahabatnya hanya memandang perihatin ke arah Ferisha.

Tak banyak yang mereka tahu hanya segelintir berita yang tak lengkap yang Gerlan lontarkan disaat melihat gerak-gerik Devian, bahkan Ferisha pun selalu mengalihkan pembicaraan disaat di tanya mengenai hal yang terjadi antara Ferisha dan Devian.

"Jadi lo masih pulang sendiri juga?" tanya Nada sambil menatap ke arah Ferisha.

Ferisha mengangguk. "Yah gitulah,"

"Emang lo ada masalah apa sih Sha?! Tumben banget gak mau cerita, kalo emang ada masalah yah tinggal bilang ke kita, kita bakalan dengerin kok,"

Ferisha mengambil tas-nya dan memakainya ke pundaknya, ia melihat ke arah sahabat-sahabatnya dan tersenyum.

"Kali ini gue susah buat jelasin, gue juga masih belum yakin dengan apa yang jadi masalah gue,"

Ferisha menarik napasnya. "Yang penting kali ini gue harus bisa selesai-in ini sendiri, dan gak mau nyusahin kalian,"

Bella berdiri dari tempat duduknya, kemudian dengan tiba-tiba memeluk erat Ferisha, dan menangis dengan keras, Ferisha jadi gelagapan sendiri melihatnya.

"Lo ngapain nangis?" tanya Ferisha sambil memeriksa keadaan Bella.

"Jangan ngomong gitu dong Sha, hiks...lo gak pernah nyusahin kita,"

"Kalo lo cerita gue dengan senang hati dengerinnya, jangan anggep lo nyusahin, gak boleh hiks..."

Nada melihat ke arah Bella dan Ferisha, matanya kemudian tanpa sadar menjadi berkaca-kaca, setetes air mata jatuh membasahi pipinya, tak kuat dengan rasa sakit di hatinya Nada juga ikut bergabung memeluk Bella serta Ferisha.

"Gue gak mau lo sedih terus Sha hiks..." Nada memeluk sangat erat sambil sesenggukkan.

"Cengeng banget sih lo semua," ejek Tiffany menatap kearah sahabat-sahabatnya sambil menggelengkan kepalanya.

Namun mulut bisa berbohong namun hati tetap tidak kan? Sekuat tenaga Tiffany menahan tangisan dalam dirinya, namun betapa kurang ajarnya air matanya juga ikut keluar.

"Huwaa! Tanggung jawab gue jadi nangis kan!" teriak Tiffany sambil bergabung bersama sahabatnya.

Bersyukurlah hanya ada mereka di dalam ruang kelas ini, kalau tidak bisa di pastikan semua orang akan ikut menitikkan air matanya dan menatap iri pertemanan mereka ini.

•••

Langkah kaki Ferisha terhenti disaat dirinya melangkah di gang yang cukup sepi dan terpencil ini, setelah diantarkan oleh Bella ke toko buku dirinya sekarang harus pulang sendirian karena Bella yang harus pulang ketika mendapat pesan mendadak dari Sang Mama.

Ia melihat ke arah belakang dan tak menemukan seorang pun disana, ia merasa sedang di ikuti, hatinya berdegup sangat kencang, ia menarik napasnya dan memilih untuk tak terlalu perduli, dirinya kembali melangkahkan kakinya ke depan.

Married With Cold BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang