XXXVIII. Merda

13.7K 1.8K 94
                                        

"Seseorang mati kemarin."

Ferro mengangkat wajahnya dari koran yang ia baca hari ini, matanya melihat Dante yang membawa sekumpulan berkas dan tampak lebih rapi dari biasanya. "Ada apa dengan jas dan dasi?" Ferro mengangkat alisnya, terlihat sedikit terkesan dengan penampilan Dante hari ini yang mengenakan jas dan dasi, berbanding terbalik dengan penampilan hari-hari pria itu yang hanya dibalut kaos hitam polos dan celana jeans.

"Kau memintaku untuk bertemu dengan para petinggi itu." Dante menghempaskan pantatnya ke atas sofa. Ia lalu melempar berkas itu ke atas meja dan melonggarkan dasinya. Kali ini Outfit lebih sibuk daripada biasanya, setelah membeli sebagian saham perusahaan pembuatan senjata, mereka berusaha melobi beberapa petinggi negara untuk memenangkan tender. 

Bisnis senjata berbeda dengan bisnis narkoba atau klub yang mereka miliki, bisnis ini jauh lebih menguntungkan sekaligus lebih kotor. Walaupun legal, bukan berarti mereka bisa begitu saja memenangkan tender dan menjadi penyuplai senjata terbesar di beberapa kota dan negara yang memiliki krisis kemanusiaan dan peperangan. Mereka juga harus berperang dengan pelaku usaha bisnis senjata yang lain, menyingkirkan beberapa orang tidak menghalangi jalan mereka sekaligus mencegah terjadinya perdamaian agar bisnis senjata mereka bisa terus berjalan.

"Hm. Apa ada yang mati?" Ferro bertanya sambil lalu. Bukan hanya sekali mereka berusaha menjebak para petinggi perusahaan atau pun negara. Beberapa dengan skandal seks dan korupsi mereka, sebagian lagi dengan memotong atau menghukum orang-orang yang berada di sekitar mereka.

"Sergei." Dante memperhatikan ekspresi Ferro, melihat tangan Ferro yang memegang koran bergeming sejenak. "Anak buah Dmitry. Seseorang yang bekerja sama dengan Anthony."

"Dia mati?" Ferro meletakkan korannya, tangannya mengambil segelas wiski memutarnya sejenak lalu menyesapnya. "Sudah waktunya, bukan? Aku heran kenapa Dmitry membutuhkan waktu yang lama untuk menyingkirkan bajingan itu."

"Kau tidak ingin tahu siapa yang membunuhnya?" Dante berdecak lalu menjawabnya sendiri. "Chris. Christopher Brown."

Ekspresi Ferro tidak berubah sedikit pun. "Dia membunuhnya?"

"Kau tidak percaya pria seperti itu bisa melakukannya?" Dante bangkit berdiri, kedua tangannya diselipkan ke dalam saku celananya. "Dia mencari Cara setelah istrimu itu meninggalkannya seorang diri di motel."

"Aku tidak menculik Cara." Ferro mengangkat tangannya lalu tertawa kecil. "Dia memilih kembali kepadaku."

"Kau mengancamnya."

"Aku cukup mengenal Cara dan tahu kalau dia tidak akan melakukan apa pun yang tidak dia inginkan." Ferro menarik napas panjang lalu tersenyum kepada Dante. "Bukankah ini berita yang layak dirayakan?"

"Dirayakan? Apa kau mendengar perkataanmu sendiri, Ferro?" Dante mengerutkan keningnya dalam, tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang ada di hadapannya ini. "Kau belum berhasil menyingkirkan Vitali, apa yang kau tunggu? Apa kau menunggu musuhmu menjadi lebih banyak lalu menyingkirkan mereka semua?"

"Seseorang  bisa tanpa sengaja melesatkan pelurunya ke kepala Chris, kejadian seperti itu bukan hal yang biasa." Ferro mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Lagipula alasannya kenapa dia masih hidup hanya karena Cara."

"Dia tidak akan berada di sisimu bila Chris mati."

"Aku tahu." Ferro bergumam pelan, matanya menatap lurus ke mata cokelat Dante, tangannya memutar-mutar gelas wiski.

"Bratva merekrutnya. Kau harus melakukan sesuatu, entah kepada Chris atau Vitali. Mereka akan menghancurkanmu." Dante memperingatinya sekali lagi. Ia memungut lembaran demi lembaran kertas yang tadi ia lempar ke atas meja lalu meletakkannya di hadapan Ferro. "Ku dengar Vitali menemui seseorang di Iran. Kau harus mengawasi pria itu, dia berusaha memotongmu."

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang