Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

XVIII. Cucciolo

25.2K 2.7K 136
                                        

Cara menatap lampu neon di Asphere, berharap salah satu orang di kerumunan itu mengenalinya sebagai gadis yang hilang, gadis yang dicari oleh kepolisian. Ferro berada di depannya melangkah tegap dan pasti seperti tak ada orang yang mampu melawannya sementara ia berjalan di belakang, mencari-cari seseorang di balik kerumunan itu, seseorang yang memiliki mata cokelat dan rambut yang sama cokelatnya, seseorang seperti Chris.

"Cara." Cara mendongakkan kepalanya lagi dan melihat Dante yang berjalan di sisinya, tangannya menyentuh sikunya sekilas, matanya menatapnya tajam seolah memperingatinya. Peringatan terakhirnya berupa gelengan kecil tanpa suara.

Ferro atau Chris. Chris atau Ferro. Pilihan yang mudah. Cara memilih untuk bungkam dan mengikuti Ferro masuk ke dalam mobilnya tanpa kata.

Demi Chris.

Demi Chris.

Demi Chris. 

Ia menggumamkan mantra itu di dalam hati sembari melihat kesempatan untuk kabur terlewat begitu saja karena ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tidak berteriak. Tidak berusaha menarik perhatian. Tidak meminta tolong atau berusaha keluar dari penjagaan ketat di sekelilingnya.

"Aku terkejut kau tidak berusaha untuk kabur, Cucciola." Suara Ferro mengagetkannya, mengaburkan mantra yang sudah ia ucapkan berulang kali di dalam hati.

"Apa kau berharap aku kabur?" Cara balas menatap Ferro, melihat sebuah senyuman terbentuk di bibir pria itu atau bagaimana mata biru gelap pria itu menyembunyikan rasa humor yang ia temukan di balik perkataan Cara. Bagaimana bisa seorang pria berwajah seperti malaikat adalah seorang iblis yang sesungguhnya? Cara mengalihkan pandangan matanya lalu melihat ke arah jalanan yang cukup ia kenali di Chicago.

"Mungkin." Ferro tidak mengalihkan pandangan matanya sekalipun wanita itu lebih dulu memilih untuk menghindarinya dan memperhatikan jalanan di Chicago. 

"Mungkin?" Cara mengulangi perkataan Ferro dengan sebuah tanda tanya di belakangnya.

"Mungkin." Ferro mengeluarkan sebuah kain hitam dari balik jaket kulit yang ia kenakan. "Waktunya menutup matamu, Cara."

Cara menatap Ferro sebelum pria itu menutup matanya lagi dengan kain hitam itu. "Aku membencimu, Ferro."

Ferro mengikat kain hitam itu dengan sebuah simpul rapi yang tak mudah dilepas lalu tersenyum kecil melihat kepasrahan wanita itu. "Aku tahu." Ferro mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir wanita itu. 

Dia tahu seberapa besar rasa benci yang wanita itu miliki untuknya, hanya karena ia ingin bermain-main dengan wanita itu lalu menyingkirkannya setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

***

Christopher mengernyitkan dahinya sembari meringis ketika ia membuka lilitan perbannya dan melihat luka jahitannya yang telah mengering. Bajingan sialan itu pasti salah satu suruhan Ferro Belucci. Pria itu menyerangnya saat ia lengah dan sekarang ia terpaksa harus menghentikan pencariannya untuk sementara.

"Tak bisakah kau menyerahkan semuanya ke kepolisian?" Ibunya menatapnya khawatir. Entah sudah berapa lama Chris tak pulang ke rumah, entah karena mencari Cara atau menghabiskan waktunya melakukan berbagai pekerjaan. "Kau bisa beristirahat, Chris. Aku bisa melakukan beberapa pekerjaan tambahan."

"Ma, itu yang mereka inginkan." Christopher mengabaikan seruan ibunya yang memanggilnya kembali masuk ke dalam rumah.

"Chris! Kau anakku!" Ibunya berseru dari pintu tahu bila Christopher tidak akan berhenti seberapa kerasnya ia berusaha menahan anaknya itu.

Christopher memutar badannya lalu menatap ibunya. "Benar. Aku masih punya kau, Ma. Tapi Cara tidak punya siapa pun."

Bila ia berhenti mencari, tidak ada seorang pun yang akan mencari Cara. Gadis itu akan terlupakan dan menghilang ditelan bumi.

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang