Cara: My Demon

12.3K 1.7K 104
                                        

Ada banyak hal yang manusia bisa lakukan di dalam hidupnya. Mereka bisa bersekolah, bekerja, memiliki teman, melakukan hal-hal yang mereka sukai, mulai dari berenang, membaca, bermain game di komputer mereka, hingga jalan-jalan keliling dunia. Namun, di saat yang bersamaan juga ada banyak hal yang tidak bisa seorang manusia lakukan di dalam hidup mereka karena sebuah garis-garis pembatas yang menghalangi impian mereka, kau bisa menyebutnya kemampuan finansial, fisik, hingga tanggung jawab.

Bagiku hal yang selama ini menghalangi mimpiku adalah kemampuan finansialku yang jelas di bawah rata-rata. Seperti anak-anak lain yang tinggal di Englewood, makan tiga kali sehari menjadi sebuah kemewahan yang tidak bisa dimengerti oleh orang-orang di luar sana. Sebagian anak-anak di Englewood tumbuh dari orang tua yang sama rusaknya, dari orang tua yang merupakan pengedar narkoba, pelacur, hingga pencuri dan perampok jalanan.

Ke mana anak-anak sepertiku dapat mengadu? Ke balai perlindungan anak? Mereka akan membawamu ke keluarga asuh yang bisa jadi tidak lebih baik daripada orang tua kandungmu saat ini. Bukan hanya sekali atau dua kali aku mendengar polisi menangkap orang tua dari anak-anak yang tinggal di Englewood, kebanyakan dari mereka terpisah dari saudara kandungnya, diangkat oleh orang tua asuh yang cukup baik atau foster family yang menganiaya mereka.

Akan lebih baik tinggal sendiri, seorang diri tanpa bergantung pada siapa pun, begitu yang aku percayai selama ini hingga Chris merangsek masuk ke dalam hidupku. Dia memaksa masuk dan hadir ke dalam hidupku yang hampa, membuatku menginginkan lebih dan kembali bermimpi.

Aku dan Chris. Kami berbeda walaupun sama-sama berasal dari salah satu daerah terkumuh di Chicago. Setidaknya dia masih punya masa depan. Ibunya tidak berkutat di kalangan para pengedar narkoba, ibunya tidak berusaha mencuri dari salah satu gembong narkoba terbesar di Amerika.

Tempatku saat ini adalah tempat yang paling tepat untuk orang sepertiku.

"Cara." Aku mendengarnya lagi dengan aksennya yang aneh. Ferro mendekati, menyampirkan sebuah selimut tipis di pundakku. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, dia turut duduk di sisiku, menikmati matahari sore yang perlahan turun berubah menjadi semburat oranye, pink, dan biru. "Kau menikmati ini?" Aku mengangguk.

"Di mana Alana?" Setelah kedatangan Alana tiga hari lalu, wanita itu lebih sering menemaniku. Walaupun dia lebih sering diam dan tersenyum. Ada kesedihan di matanya, aku tidak tahu apa yang dia lihat setiap kali bertemu denganku.

"Mungkin bersama Carmine." Aku mengangguk kembali.

Sejak kehamilanku menginjak minggu ke dua puluh lima, Ferro bersikap lebih protektif, tidak mengizinkanku keluar dari jarak pandangnya sedikit pun. Aku kini tahu alasan kenapa dia memilih kita tidur terpisah dan baru tidur bersama semenjak kehamilanku memasuki trimester kedua. Pria itu selalu bermimpi buruk, sama sepertiku. Perbedaannya, dia tidur dengan sebuah pistol di bawah bantalnya sementara aku tidur dengan pisau roti di bawah bantalku.

"Apa yang kau mimpikan semalam?" Aku bertanya kepadanya. Entah apa yang pria itu mimpikan semalam, dia terbangun dengan keringat dingin dan napas memburu, aku yang tidak bisa tertidur nyenyak karena perut yang begitu besar kontan saja terlonjak kaget dan terbangun. Ferro menodongkan pistol ke kepalaku, untung saja ia segera tersadar beberapa saat kemudian.

"Maafkan aku." Aku tidak butuh maafnya. Aku butuh penjelasannya. Ferro mengusap wajahnya lelah, sebuah kantung mata menggantung tebal di bawah mata biru gelapnya. "Terkadang aku memimpikan ibuku atau Sophia."

"Hm." Aku menggoyangkan kakiku di air, riaknya yang tenang terpecahkan. "Lalu siapa yang kau mimpikan semalam?"

"Kau." Ferro mendesah keras. Aku mengangguk lagi, tidak bisa membayangkan apa yang ia mimpikan sehingga menodongkan pistol di dalam tidurnya. Kita semua, bukan hanya aku dan dia, memiliki setan yang ingin kita enyahkan di dalam pikiran kita. Setan yang terkadang mengikuti hingga ke alam mimpi, setan yang terkadang bercokol di benak kita saat tengah terdiam.

Seperti setanku saat ini, dia tengah berbisik, mengatakan bila semua hal yang terjadi kepadaku saat ini akibat dari pria yang berada di sebelahku saat ini. Seandainya saja Ferro tidak tertarik kepadaku malam itu, hal ini tidak akan terjadi. Seandainya saja ayahku tidak mencuri dari pria ini, aku tidak akan menjadi korbannya. Dia yang memulainya, kenapa harus aku yang menuai akibatnya?

Setan yang berada di kepalaku kembali bernyanyi, menari-nari, melemparkan berbagai umpatan dan makian kepadaku karena goyah. Seperti Luca atau Chris, pada akhirnya aku akan seorang diri nanti, kenapa menggantungkan hidup kepada orang lain?

Ferro dan aku, kita hanya dua orang yang tidak beruntung, memilih untuk mengambil pilihan-pilihan yang tidak umum pada orang-orang lainnya. Mereka yang tidak tumbuh besar seperti aku tidak akan tahu bagaimana rasanya menjadi aku, ketika pilihan dalam hidup yang lebih baik direnggut secara tiba-tiba sehingga kita hanya bisa memilih pilihan lainnya untuk bertahan hidup.

Pembicaraanku dan Ferro hari itu terasa seperti sudah berhari-hari yang lalu, atau mungkin berminggu-minggu yang lalu? Memori demi memori lewat begitu saja, hari terasa lebih lambat terutama ketika kau mendengar suara berisik yang terus menghantuimu.

Setanku kembali berbisik, kali ini seolah berusaha menyadarkanku.

"Nessuno l'ha mai amato. [Nobody has ever loved him]." Kali ini suara seorang wanita berbicara. Aku tidak bisa tahu apa yang tengah ia bicarakan, dia mengatakannya dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti. "Apa kau ingin pergi juga, Cara?"

Apa ada yang salah dengan pergi? Apa yang dia bicarakan?

Wanita itu terisak. Aku tidak pernah mendengar suara seorang wanita terisak untukku sebelumnya. Apa kabar Alan Darlings ya? Dia pernah menangis di hadapanku meski kemudian berusaha menutupinya. Lalu Christopher dan ....

Kilatan di hari itu kembali lagi. Christopher sudah mati. Dia sudah tiada. Dmitry Ivankov membunuhnya setelah memutilasi lidahnya. Tiga tembakan di punggung, lalu Alana juga menerima tembakan di tangan kanannya.

Suara bip bip bip kali ini terdengar begitu cepat, menerjangku bersamaan dengan getaran tak terkontrol dari tubuhku saat ini.

"Pasien mengalami eklamsia." Suara samar seseorang, alat bantu pernapasan, oksigen yang masuk ke rongga paru-paru lalu suara seorang pria yang kini tidak lagi asing bagiku.

"Apa bersamaku begitu sulit untukmu?" Setanku berbisik. Tangan dingin Ferro Belucci meremas tanganku, begitu juga kecupan bibirnya yang dingin di dahiku. Apa sudah waktunya untuk pergi?

*****

Author Note :

Hari ini saya hanya akan memberikan POV Cara saja. Bukan chapter terbaru berhubung saya belum ada waktu untuk memikirkan dan menulisnya. Tolong ditahan bagi siapa saja yang sudah membaca MYO di Storial untuk tidak membagikan spoiler di cerita ini. Setiap spoiler MYO di kolom komentar akan saya hapus.

Terima kasih untuk pengertian dan perhatian kalian.


G

Vendetta | ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang