"Kau tidak bisa melakukan ini." Cara menatapnya nanar, air mata menggenang di pelupuk matanya, wajahnya memerah, menatap Ferro tak percaya. "Kau tidak bisa melakukan ini, Ferro."
"Kau tidur denganku, kita bercin- .... "
"Kita berhubungan seks." Cara memotong perkataannya. "It is just sex for me."
Ferro tertawa miris, ia mendengkus saat melihat Cara yang menatapnya nanar. "Apa ini karena Chris? Atau karena aku?"
"Chris?" Cara mendongak, menatap langit-langit kantor Ferro, ia mengembuskan napas gusar saat melihat Ferro kembali. "Kau?"
"Kau istriku, Cara." Ferro memperingati wanita yang berada di hadapannya sekali lagi. "Camkan itu baik-baik di kepala mungilmu. Aku memberitahu keberadaan Chris kepadamu karena kurasa akan lebih baik bila aku sendiri yang memberitahunya kepadamu."
"Kau menjebakku." Cara menuduhnya. "Aku memutuskan pergi denganmu karena aku percaya dia akan baik-baik saja tanpaku."
"Apa kau benar-benar berpikir seperti itu? Hah." Ferro mendengkus gusar. "Bergabung bersama Bratva adalah keinginannya sendiri. Apa kau juga akan menyalahkanku atas pilihan yang dia ambil?"
"Bagaimana dengan jebakanmu? Kau sengaja tidak menggunakan pengaman!" Cara menunjuk dada Ferro, setiap detiknya suaranya bertambah semakin keras. Sementara itu hingar bingar para pemain musik yang berada di taman meredam suara keduanya, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu apa yang tengah terjadi di dalam ruang kerja Ferro saat ini.
"Apa kau pikir aku akan melepaskanmu lagi?!" Ferro menahan tangan Cara yang menunjuk dadanya. "Apa kau pikir kau bisa pergi menyusul kekasihmu? Aku tidak akan membiarkanmu, Cara. Bila perlu aku bisa mengikat kedua tangan dan kakimu di atas kasur dan kau tidak akan pernah bisa pergi selamanya. Kau milikku."
"Badan ini milikku!" Cara berteriak di depan Ferro. "Kau tidak bisa memaksaku hamil dan memiliki anak!"
"Apa karena ini anakku?"
"Apa kau benar-benar seegois itu?" Air mata frustrasi turun membasahi pipinya, Cara menepis tangan Ferro yang menahan tangannya. Ia mengusap wajahnya frustrasi, berusaha memahami apa yang Ferro katakan beberapa saat sebelumnya. Hanya karena pria itu tidak menggunakan pengaman selama mereka beberapa kali berhubungan seksual bukan berarti dia telah mengandung anak pria itu, masih ada kemungkinan bila ia tidak hamil.
"Egois?" Ferro memperhatikan wajah Cara yang tampak kalut dan gelisah.
"Apa kau pikir manusia seperti kita berhak untuk memiliki anak?" Cara tertawa mencemooh saat ia melihat Ferro yang tampak tak percaya. "Bukan hanya karena ini anakmu, tetapi karena ini juga akan menjadi anakku."
"Apa maksudmu?"
"Orang-orang seperti kita. Kau dan aku. Orang yang tumbuh besar di dalam keluarga yang hancur, tercerai berai. Apa kau pikir kita layak untuk menjadi orang tua?" Cara menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Dan ini tubuhku, Ferro. Ini badanku. Apa kau mengira kau bisa memaksaku memiliki anak ini?"
Ferro menahan lengan Cara. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Bila anak ini benar-benar ada?" Cara tertawa mencemooh ketika melihat kilat ketakutan di balik mata Ferro, untuk pertama kalinya ia melihat kilat ketakutan seperti itu di balik mata Ferro Belucci, Don Outfit, pria yang tidak pernah takut menghadapi pria lain yang berukuran beberapa kali lipat lebih besar darinya atau hunjaman peluru. "Menyingkirkannya tentu."
"Kau akan menyingkirkannya?"
"Kau pikir aku lebih baik dari ayahku?" Cara tersenyum miris. "Atau kau berpikir kalau kau bisa lebih baik dari ayahmu?" Cara terdiam sesaat sebelum melanjutkan kembali dengan kata-kata yang jauh lebih menyakitkan. "Apa yang membedakan dirimu dan ayahmu, Ferro?" Cara melepaskan tangan Ferro yang menahan lengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Action"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
