Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

XXII. Matrimonio

21K 2.7K 258
                                        

Cara terdiam, berusaha mencerna setiap patah kata yang Ferro ucapkan. "Ayahku mati?" Cara bertanya kembali.

"Ayahmu mati." Ferro berbisik lembut di telinganya lalu memeluknya perlahan. "Aku akan memastikanmu baik-baik saja, Bratva tidak akan menyentuhmu." Ferro mengusap punggung dan rambutnya perlahan sementara Cara diam mematung. Apa yang harus ia rasakan? Sedih? Marah? Lega? Tony William mati, harusnya ia merasa bebas, tetapi hatinya terasa gamang.

"Ferro?" Cara melepaskan diri dari pelukan Ferro lalu menatap mata biru gelap pria itu.

"Hm?"

"Aku ingin pulang." Cara berucap lirih. Ia berada di tengah-tengah ruang ganti yang sempit dengan gaun yang terhampar di kakinya. "Aku ingin pulang."

Ferro mengecup punggung tangannya lalu tersenyum tipis. "Baiklah, kita akan pulang." Ferro terdiam sesaat, melihat Cara yang masih nampak kaget lalu berkata lembut. "Aku akan membeli pakaian yang kau butuhkan. Pakai gaunmu kembali lalu keluar."

Cara hanya mengangguk perlahan ketika Ferro membuka pintu ruang ganti, meninggalkannya sendirian di ruang sempit itu. "Tuhan." Tanpa ia sadari, Cara terisak ketika punggungnya menabrak cermin lalu merosot turun hingga ia terduduk di atas lantai yang dingin.

Entah kenapa ia merasa kalau malam ini tidak akan berakhir dengan tenang.

***

Ferro menatap Cara yang keluar dari ruang ganti dengan gaun birunya yang terciprat darah dan mata yang sembap. Pria itu hanya meraih tangan Cara tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu membawa wanita itu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka sedari tadi.

Cara menatap kosong ke arah jalanan sementara di sisinya ada Ferro yang sedari tadi masih menggenggam tangannya. "Ferro, bagaimana dengan pemakamannya?" Cara menatap lampu-lampu Las Vegas yang terlihat gemerlap di balik bangunan-bangunan yang mereka lewati.

"Polisi menyelidiki kematian ayahmu, Cara. Jenasahnya belum bisa diambil sekarang, tetapi begitu semuanya beres, aku akan memastikan ia dikebumikan dengan layak." Ferro menjelaskan dengan tenang, sementara Cara masih menatap kosong ketika bangunan-bangunan yang gemerlapan itu tergantikan lagi oleh bangunan asing yang gelap.

"Terima kasih." Cara berucap lirih ketika ia merasakan sebentuk senyuman di bibir Ferro ketika pria itu lagi-lagi mengecup punggung tangannya.

"Don." Marc memperingati Ferro ketika menyadari mobil yang mereka kendarai diikuti oleh mobil lain dan beberapa motor.

Cara menoleh ke belakang dan benar saja sudah ada beberapa motor dan sebuah mobil yang diam-diam membuntuti mereka, matanya menoleh ke arah Ferro yang mengeluarkan pistolnya dengan raut kesal sementara Luca juga melakukan hal yang sama.

"Bratva. Menunduk, Cara." Ferro menjelaskan singkat ketika melihat raut bingung Cara lalu memerintahkannya.

"Apa?!" Cara merasa mual tiba-tiba ketika Marc mengemudi semakin kencang sementara Ferro menundukkan kepalanya lalu menembak salah satu motor hingga mereka terjatuh dan tidak bisa lagi mengikuti pengejaran.

"Luca." Ferro memerintahkan Luca dengan satu kata ketika Luca hanya mengangguk, membuka jendela mobil lalu menembak ke arah mobil dengan badan yang separuh keluar dari mobil.

"Tuhan!" Cara berteriak ketika peluru juga menghujani mobil mereka.

"Semakin cepat, Marc. Menunduk Cara." Ferro menembak motor-motor lain yang mengikuti mereka hingga hanya tersisa mobil yang juga mengejar mereka semakin cepat. "Berapa jauh lagi dari Rocco?"

"Sedikit lagi." Marc tiba-tiba memutar mobilnya hingga masuk ke tikungan. "Masuk ke dalam Luca."

"Sisa mobilnya, mungkin ada empat orang di dalamnya. Tidak terlihat jelas, kacanya cukup gelap." Luca memberi laporan singkat sementara Ferro mengganti peluru pistolnya.

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang