"Chris." Cara memanggil namanya lirih, menatap pria itu lalu menggelengkan kepalanya. "Kau tidak perlu melakukannya."
Chrisopher menatap matanya lama lalu tersenyum kecil. "Aku tidak akan membiarkanmu sendiri, Cara. Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat kau menyendiri di kamar ini? Apa kau pikir aku tidak akan sedih bila kau pergi, Cara?"
"Tapi setidaknya kau akan baik-baik saja." Cara mencoba untuk membantahnya. "Kau ... tidak akan kesakitan." Cara mencoba untuk menyentuh bekas luka tembakan yang pernah Ferro berikan kepada pria itu, tetapi Chris menahan tangannya lalu menggenggamnya
"Aku rela menerima luka itu ribuan kali asal kau baik-baik saja, Cara. Rasanya jauh lebih sakit saat aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu."
"Berhenti. Apa kau tidak memikirkan ibumu? Adik-adikmu?"
"Cara, apa kau lupa kalau Christopher Brown sudah mati? Hanya ada Christian Darlings sekarang, keponakan Alan Darlings, sepupu Hailey Darlings." Chris tertawa sinis lalu menatap Cara. "Akan lebih baik begini, ibuku baik-baik saja dengan uang asuransi kematianku, adik-adikku tidak kelaparan, mereka bisa bersekolah dengan baik, dan mereka ... ibu dan adik-adikku, tidak perlu terlibat dengan Outfit. Mereka jauh lebih baik daripada saat aku ada, Cara."
Cara menyentuh pipi Chris lalu memaksa pria itu menatapnya. "Apa kau lupa apa yang selalu kau katakan kepadaku? Namamu masih Chris, Christopher. Jangan biarkan orang lain mengambil identitasmu."
"Hanya kau, Cara. Hanya kau. Hanya kau yang bisa mengingatkanku siapa aku sebenarnya." Chris mengecup telapak tangan Cara. "Ayo kita pergi sebelum Alan terbangun dan menyadarinya."
Cara mengangguk lalu menggenggam tangan Christopher, bersama mereka akan pergi meninggalkan tempat ini dan tidak membiarkan seseorang terluka lagi karenanya.
***
Mereka berjalan kaki cukup jauh melewati halaman belakang rumah orang-orang hingga tiba di jalanan besar yang memisahkan area perumahan dengan downtown. Christopher memanggil salah satu taksi yang menunggu di depan sebuah hotel kecil lalu masuk ke dalam taksi itu bersama Cara.
"Ke mana kita akan pergi?" Chris bertanya kepada Cara ketika gadis itu memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di jendela.
"Sejujurnya aku tidak berpikir sejauh itu." Cara mengerutkan keningnya. Ia berusaha mengingat-ingat apa saja yang teman-teman kuliahnya pernah sebutkan tentang liburan mereka atau kota asal mereka. "Aku tidak tahu. Bagaimana menurutmu?"
"Hmm ... " Chris menatap ke luar jendela, melihat pemandangan kota malam yang tertidur. Ia melihat lampu-lampu yang gemerlapan di salah satu bagian kota, sisi yang bersinggungan dengan bagian tergelap Chicago, tempat mereka berasal dulu. "Bagaimana dengan Kanada?"
"Kanada?" Cara menolehkan kepalanya menatap Chris.
"Hm." Chris mengangguk. "Aku tidak pernah ke sana. Apa menurutmu Ferro bisa meraihmu sejauh itu?"
"Aku tidak tahu, apa bisa?"
Chris tersenyum ke arah Cara lalu mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Kenapa tidak mencobanya lebih dahulu?"
"Mari mencobanya."
Taksi yang mereka naiki membawa mereka hingga ke perbatasan Chicago, ke satu-satunya motel yang berada di tempat itu. Christopher merogoh sejumlah uang lalu membayarnya ke sopir taksi yang menggerutu, ia lalu meraih dua tas, miliknya dan Cara, kemudian menarik Cara turun dari atas taksi.
"Ayo, kita akan beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan kembali."
Cara mengerjapkan matanya yang lelah lalu melihat langit yang masih gelap dan motel tua yang mereka singgahi. "Berapa lama kita akan menginap di sini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Action"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
