Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

XXXIII. Bratva

15.5K 1.9K 92
                                        

Dmitry Ivankov mengisap cerutunya dalam-dalam lalu mengembuskannya di wajah bocah yang berada di hadapannya saat ini. "Siapa namamu tadi?"

Christopher menatap Dmitry, pria paruh baya itu memutar-mutar cincin signet yang ada di kelingking tangan kirinya. Ferro memiliki cincin yang sama, tetapi bukan berarti mereka berada di pihak yang sama bukan? Pertikaian antar dua kelompok mafia terbesar di Chicago ini sudah sering menghiasi koran pagi. "Chris."

"Chris?" Dmitry menatap mata pria yang berada di depannya. "Kau bilang kau mengenal comare Outfit?"

"Nyaris seumur hidupku." Christopher menelan ludahnya saat melihat Dmitry. "Apa kau yang membunuh Tony?"

"Tony Williams?" Dmitry terkekeh, pria itu tertawa hingga tersedak asap rokoknya sendiri lalu menatap Christopher. "Apa hubungannya denganmu, Nak?"

"Dia ayah Cara." Chris mengepalkan tangannya. Dmitry menatapnya sambil lalu, pria paruh baya itu menatapnya dari ujung rambut lalu ujung kaki.

"Lalu? Bukan hanya Bratva yang disinggung oleh Tony, Outfit juga." Dmitry mengibaskan tangannya saat kabut pekat asap cerutunya menghalangi pandangannya.

Chris menghirup udara pekat yang ada di dalam salah satu ruangan di dalam Blue Danube, klub yang dimiliki Bratva. "Apa itu berarti Outfit yang melakukannya?"

"Apa itu penting? Tony membuat banyak masalah dengan banyak orang, Bratva, Outfit, dan jangan abaikan orang-orang lain di luar sana yang tidak terkait dengan keluargaku." Dmitry mengambil segelas wiski yang ada di atas meja, pria itu memutar gelasnya sejenak lalu menyesapnya. "Apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin bergabung  bersama Bratva."

Kali ini Dmitry tertawa terbahak-bahak hingga wiski yang berada di tangannya tumpah mengenai kemeja yang ia kenakan. "Apa usiaku sudah terlalu tua hingga mendengar hal-hal ini?"

"Aku hanya menginginkan Cara, apa pun yang ingin kau lakukan kepada Ferro Belucci, aku tidak peduli."

Dmitry mendengkus. "Apa kau mengenal Ferro?"

Kepalan tangan Chris semakin erat saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Dmitry. "Cukup untuk membuatku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri."

"Apa kau bahkan pernah membunuh seseorang, Nak?" tanya Dmitry penuh nada cemoohan. "Kau tidak mengenal Ferro." Pada akhirnya Dmitry memutuskan, pria itu menandaskan gelas wiskinya lalu menepuk-nepuk kemejanya yang basah.

Melihat Dmitry yang tidak serius menanggapinya, Chris segera berlutut di hadapan pria itu. "Aku bersedia melakukan apa pun."

"Aku mengenalmu." Dmitry melirik Chris yang berlutut di hadapannya, tidak terkesan dengan tindakan pria itu. "Christopher Brown." Chris terdiam, menunggu Dmitry melanjutkan perkataannya. "Kau naif."

"Aku belajar dari kesalahan."

"Aku bisa melihatnya." Dmitry melihat Christopher yang masih berlutut dan tidak bergerak seinci pun. "Polisi tidak melakukan apa pun, bukan?"

"Karena itu aku meminta bantuanmu." Chris benar-benar putus asa saat ini. Christopher Brown sudah mati, dia tidak bisa kembali ke keluarganya seperti dulu. Tidak, dia tidak bisa saat ia tidak tahu apa yang terjadi kepada Cara atau bahkan bertanya kenapa gadis itu memilih kembali bersama Ferro. Apakah karena kesalahannya? Karena dia tidak cukup mempercayai gadis itu? Atau karena Ferro bisa memberikan sesuatu yang lebih daripada apa yang bisa ia berikan kepada gadis itu?

Dmitry menimbang-nimbang sesaat sebelum akhirnya berbicara. "Apa kau mengenal Ferro?"

Chris mengabaikan rasa sakit di lututnya karena berlutut terlalu lama, ia membuka pakaiannya, sebuah bekas luka tembakan yang Ferro berikan kepadanya terlihat begitu mengerikan di dadanya. "Dia memberiku ini."

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang