XLI. Crème de la Crème

13K 1.6K 258
                                        

"Kau benar-benar seperti ayah kita, Luciano Belucci." 

Cara menarik napas saat mendengar tawa serak nan sumbang Carmine. Dia berada di belakang Ferro saat ini, dia bisa melihat setiap detiknya bagaimana Ferro berusaha menahan amarahnya yang menggelegak. Tidak hanya itu, Cara juga bisa melihat bagaimana nama Luciano Belucci menjadi pemantik untuk sumbu emosinya.

"Ferro," dengan nada bergetar dan suara yang ragu, Cara memanggil nama pria itu. 

Mata biru Carmine menatapnya dingin, menilainya. "Apa yang bisa kau lakukan?" Entah ke mana pertanyaan itu ditujukan, ke Cara ataukah Ferro? Apa yang bisa dia lakukan? Carmine menatap kedua bola mata Ferro, menatap adik yang memiliki ibu yang berbeda dengannya itu lurus. "Apa yang bisa kau lakukan? Apa kau akan menjadi seperti ayah kita? Apa kau mau menjadi Luciano Belucci?"

"Diam." Ferro menggeram marah, cengkeraman tangannya di pistolnya semakin erat.

"Apa kau akan menunggu?" Carmine tertawa mengejek. "Apa kau akan melihat dan diam seperti biasanya hingga seseorang mati?"

"Aku bilang diam, Carmine." Ferro menekan setiap patah katanya.

"Apa kau ingin dia melihat seperti apa kau sebenarnya?" Carmine melirik ke arah Cara yang berada di belakang Ferro sekilas, tatapannya kembali terarah kepada Ferro.

Cara melihat Dante yang berdiri di depan pintu putus asa. Apa yang bisa dia lakukan? Ferro bisa meledakkan kepala Carmine kapan saja bila dia tidak kunjung diam, sesuatu akan terjadi bila seseorang tidak melakukan apapun.

"Ferro." Dante yang sedari tadi diam berusaha mendekat. "Biarkan Cara kembali ke kamarnya." 

"Lei è mia [She is mine]." Ferro mendesis marah. 

"Dia hamil, bukan?" Dante berbicara dengan nada pelan, Carmine membulatkan matanya, sekilas pria itu tampak terkejut lalu tak lama kemudian mendengkus. "Kau pikir ini yang terbaik untuknya?"

Ferro menarik napas gusar, pria itu menurunkan pistolnya, melepas dua kancing teratas kemejanya. "Kembali ke kamarmu, Cara."

Cara terdiam, ia tahu tempatnya saat ini, melawan Ferro akan membawa petaka yang lebih besar untuknya. Wanita itu bergerak cepat, turun dari atas meja lalu berjalan cepat menuju pintu. Sebelum meninggalkan ruangan itu, Cara menoleh ke belakang, melihat ketiga pria itu yang memperhatikannya. Ferro melihatnya lurus, napas pria itu terlihat lebih teratur saat ini, matanya memerah karena amarah, sementara Carmine yang berada di sisi Ferro menatapnya dingin, lagi-lagi dengan tatapan menilai. Satu-satunya yang Cara syukuri adalah Dante yang tampak memperingatinya untuk segera pergi sebelum Ferro mengubah pikirannya.

Wanita itu menelan ludahnya lalu menutup pintu, meninggalkan ketiganya secepat yang kakinya bisa bawa.

"Apa itu benar?" Carmine kembali menoleh ke arah Ferro, tatapannya ditujukan ke arah pistol yang berada di tangan kanan Ferro. Adiknya itu tampak jelas lebih manusiawi dan lebih bisa menggunakan otaknya ketika Cara tidak berada di sisinya dan memancing sisi tergelapnya.

"Apa?" Ferro menatap ruang makan yang berantakan, seluruh piring dan sarapan pagi mereka berhamburan di atas lantai. Sebagian piring keramik mahal yang ada di rumah itu dia hancurkan dalam sekali sapuan. Ferro menarik napas panjang, ia berjalan ke arah minibar lalu menuangkan sebotol Sherry ke dalam gelas kristal.

"Alkohol di pagi hari, Ferro?" Dante bertanya. Ini jelas bukan pertama kalinya bagi Ferro menjadikan alkohol sebagai minuman pertama yang ia minum saat pagi dan menjadi minuman terakhir yang ia minum sebelum tidur.

Ferro menimbang gelasnya sesaat sebelum meletakkannya kembali. Ia beralih ke deretan botol air mineral dingin di dalam kulkas, mengambilnya lalu meneguk isinya hingga habis. "Apa yang kau lakukan di rumahku?"

Vendetta | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang