Cara
Ada satu hal yang orang-orang selalu katakan kepadaku. Aku beruntung. Beruntung karena berhasil bertahan hidup di antara ketidakberuntungan. Beruntung karena memiliki Christopher di sebelahku saat gadis-gadis lain seumuranku harus menjual diri mereka, keluar masuk penjara, keluar masuk rumah rehabilitasi, atau menjadi pecandu narkoba. Beruntung karena walaupun rumahku tidak memiliki pemanas di musim dingin atau pendingin di musim panas, aku masih bisa makan dan tertidur dengan nyenyak.
Aku bertanya-tanya kapan keberuntunganku berakhir dan menyadarinya ketika usiaku enam belas tahun kalau keberuntunganku ini bagaikan bom waktu yang pada akhirnya nanti akan menyerang orang-orang yang berada di sekitarku.
Dalam rencana masa depanku tidak ada Ferro. Tidak ada Outfit. Tidak ada Luca. Tidak ada Stella. Tidak ada Marc. Tidak ada Dante. Hanya ada Christopher. Bahkan di dalam rancangan masa depanku Christopher masih belum memiliki tempat yang tetap. Apa dia akan tetap menjadi sahabatku selamanya?
Aku tahu bukan hanya diriku yang bertanya-tanya apa yang terjadi kepada gadis enam belas tahun itu setelah Ferro, bajingan itu, meletakkannya di atas aspal yang dingin di awal tahun juga bulan Januari atau kenapa bajingan itu menculikku ketika ia pun tahu ayahku tidak peduli kepadaku. Percayalah, aku sendiri tak tahu.
Dua tahun berlalu begitu cepat ketika kau menyadari akan ada hal buruk yang menantimu di ujung jalan. Seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja, pria itu ... juga merupakan bom waktu. Satu hari ia akan bersikap seolah-olah kau tidak berada di sana, hanya setitik debu di antara tumpukan batu yang menghalangi jalannya, di hari lain ia akan membuatmu merasa seperti seolah-olah ini semua adalah kesalahanmu, seperti saat ia menciumku. Ia membuatku merasa bersalah karena menerimanya.
Rasa Ferro seperti rokok, rokok dan stroberi. Mengingatkanku hari di mana aku berbicara dengan ayahku, hari di mana aku tidak lagi memanggilnya Papa atau panggilan apa pun yang menunjukkan seolah-olah ia adalah orang tuaku.
Abu rokok tidak hanya berada di dalam asbak, abu rokok ada di mana-mana, di atas meja, di atas karpet, di dalam cangkir kopi. Aku melemparkan cangkir kopi itu hingga pecah berkeping-keping dan menangis sesegukkan di ujung kamarku. Hari itu pertama kalinya aku mencoba rokok milik Tony, menyalakannya dengan gugup menggunakan kompor lalu mengisapnya sekali dua kali, berusaha menikmatinya dalam-dalam sebelum Christopher datang, merebut rokok itu lalu melumatnya dengan ujung sepatunya.
"Apa yang kau lakukan?" Christopher bertanya pada saat itu.
Aku terbatuk keras sebelum menjawab pertanyaannya. "Merokok."
"Kenapa?" Aku melihat raut kecewa di wajah Christopher pada saat itu juga aroma rokok yang pekat dan mengambang di udara, pada saat itu aku memutuskan untuk membenci rokok. Tidak hanya aroma pekat yang membuat napas sesak, tetapi juga raut kecewa di wajah Christopher. "Ada apa? Aku mencarimu, tetapi Tony bilang kau tidur."
"Tidak ada apa-apa." Aku berusaha tersenyum, kini menyadari kalau keberuntunganku memang sudah saatnya berakhir. Sepanjang tidak ada seorang pun yang terluka karenaku, aku tidak apa-apa. "Kau tahu ayahku, dia bajingan."
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, sementara batinku berteriak bagaimana bom waktu itu siap meledak. Bom waktu bernama Ferro Belucci dan aku siap ... siap menjadi tameng untuk orang-orang yang kucintai.
*****
Satu hal yang membuat saya sulit melanjutkan cerita ini adalah bagaimana di Mine, Yours, Ours menggunakan POV pertama dari sudut pandang Cara. Vendetta mungkin terlihat lebih lengkap, tetapi saya melihat adanya kekosongan besar. Ketika ceritanya lebih lengkap karena tidak hanya dari sudut pandang Cara saja, ceritanya kekurangan emosi. Hanya ada cerita. Angst, feeling, apa yang para tokoh rasakan, semuanya kurang.
Kini saya menyadari salah satu cara untuk menghadirkan emosi itu, dengan memberikan pov beberapa tokoh (tidak hanya Cara) di setiap beberapa chapter yang saya rasa memiliki keterikatan yang cukup penting.
Saya harap masih ada di antara kalian, baik yang belum atau sudah membaca MYO series, yang masih menunggu cerita ini.
Terima kasih.
G
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Action"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
