Christopher berjalan perlahan melewati lorong-lorong gelap dengan aneka grafiti yang menempel di dindingnya. Tikus dan kucing saling berkejaran di balik sampah yang menumpuk. Ia juga beberapa kali mendengarkan bunyi pecahan kaca, suara jerit wanita, dan suara amukan laki-laki. Tempat yang ia datangi kali ini tidak ada bedanya dengan Englewood. Hal-hal yang ia lihat dan ia dengar bukan lagi hal yang baru dan seperti yang biasa ia lakukan sepanjang hidupnya, bila tidak ingin mencari masalah, tidak perlu sok bersikap heroik, semua orang dengan masalah mereka masing-masing, semua orang dengan jalan pikirannya masing-masing.
Langkah kakinya berpacu semakin cepat ketika ia akhirnya melihat bangunan tua dengan bata merah kecokelatan yang menjadi ciri khasnya. Tanpa perlu susah payah, Christopher menggeser pintu besi yang seharusnya menjadi pelindung siapa pun yang tinggal di flat itu. Kakinya naik melewati tangga, satu demi satu lantai hingga akhirnya ia tiba di lantai lima.
Christopher berhenti di depan pintu berwarna cokelat bertuliskan angka lima kosong dua lalu menggedor pintunya.
"Tony." Tony Williams membuka pintu flat, wajahnya terlihat lelah dan kusam. Aroma rokok menyengat menyeruak keluar ketika ia membuka pintunya.
Christopher melongokkan kepalanya ke dalam flat dan mendapati ruangan itu kotor dipenuhi dengan abu rokok, tumpukan koran, kaleng bekas bir, dan sandwich yang sisa setengah tergeletak mengenaskan di atas meja. "Apa yang kau lakukan?"
Tony mempersilakan Christopher masuk lalu menghempaskan dirinya ke atas sofa. Uang bertebaran tidak beraturan, ada begitu banyak uang dari yang pernah ia lihat seumur hidupnya, tetapi nasib pria itu begitu mengenaskan. "Apa yang kau lakukan?" Christopher bertanya sekali lagi. "Apa yang kau lakukan brengsek?" Christopher mencengkeram kerah kemeja Tony lalu menggoyangkan tubuh ringkih pria itu. "Kalau kau menjual Cara demi uang-uang itu, kenapa kau tidak bisa hidup lebih baik, hah?!"
"Cara sudah tidak ada, dia sudah mati." Tony menyingkirkan tangan Christopher dengan dorongan lemah. Pria itu kembali terhempas ke atas sofa lalu menatap kosong ke arah tv yang menyala tanpa suara.
"Apa yang kau bicarakan?" Christopher muak melihat pria itu. Seumur hidupnya Tony Williams tidak pernah peduli dengan Cara, gadis itu ditelantarkan di rumahnya tanpa air, listrik, dan makanan. Gadis itu bertahan hidup sendiri dan hanya butuh sekejap bagi Tony Williams untuk menghancurkan apa yang sudah Cara perjuangkan seumur hidupnya. "APA YANG KAU BICARAKAN, BAJINGAN?!"
"Berada di tangan Ferro Belucci tidak ada bedanya dengan sudah mati, Chris." Tony terkekeh lalu mengembuskan napas gusar. "Aku tahu aku salah. Seumur hidupku aku tidak peduli kepada gadis kecil itu. Dia seperti kecoak yang tidak bisa kusingkirkan."
"Brengsek." Christopher menumpahkan seluruh amarahnya kepada Tony, memukul pria itu membabi buta hingga wajah Tony membengkak dan hidungnya patah. "Apa yang aku lakukan sekarang tidak akan pernah bisa menebus apa yang kau lakukan kepada Cara."
"Aku tahu." Tony membiarkan dirinya dipukul berkali-kali oleh Christopher. "Kukira hanya kau .... "
"Apa?" Chris menatap Tony dan uang yang bertebaran di sekeliling mereka. "Kenapa kau tidak bisa hidup lebih baik daripada ini?"
Tony mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya lalu mencari-cari pemantik di antara tumpukan sampah yang berada di sekitarnya. Pria itu lalu menarik napas panjang lalu mengembuskannya gusar. "Lalu apa yang bisa aku lakukan?! Apa kau tidak akan merampas kesempatan yang terpampang jelas di depan matamu?"
"Tapi tidak seperti ini." Ingin rasanya Christopher meninju Tony lagi, tetapi masalah mereka tidak akan terselesaikan hanya karena ia meninju Tony berkali-kali. "Di mana Cara?"
"Bersama Ferro tentu saja." Tony mendengkus, menjawab pertanyaan yang terdengar idiot di telinganya. "Aku tidak tahu dia sudah mati atau belum, tetapi tidak ada kabar adalah hal baik di dalam Outfit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Action"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
