Cara menatap langit-langit kamarnya, memperhatikan semburat emas, krem, putih, dan cahaya matahari yang perlahan menerangi kamarnya. Hidup di tempat ini seperti hidup di dalam mimpi, terkadang mimpi indah, terkadang mimpi buruk. Sebuah mimpi tanpa akhir yang bahkan Cara sendiri pun terkadang tidak ingin terbangun darinya.
Tubuh telanjangnya hanya berbalut sebuah selimut, perasaannya kosong. Tidak ada yang bisa menggambarkan apa yang ia tengah rasakan saat ini. Apakah dia membenci pria itu? Mengasihaninya? Cara jelas tidak mencintainya, dia hanya berbagi simpati dan birahinya. Love and lust, terkadang ada sebuah garis yang sangat tipis yang tidak dimengerti oleh orang lain.
Cara menarik napas panjang, matanya mengerjap kembali, kepalanya menoleh ke arah jendela yang terayun pelan mengikuti angin yang berembus dari luar. Entah sejak kapan jendela kamarnya terbuka, ia sendiri tidak tahu. Badannya masih belum bergerak dari atas kasur semenjak ia membuka matanya beberapa jam yang lalu.
Love and lust. Cinta dan nafsu. Sebuah dua hal yang begitu berbeda yang hanya dipisahkan oleh sebuah garis tipis. Berada di tempat ini hanya membuat Cara semakin menyadari perbedaan itu. Dia memahami Ferro sebagaimana pria itu memahami dirinya. Keduanya lahir di dalam sebuah keluarga yang abusif, dengan seorang ayah yang takkan segan mengorbankan anaknya kapan saja dan tanpa seorang ibu kandung.
Cara mungkin punya sosok yang dia anggap sebagai ibu pengganti, seperti ibu Chris, tetapi wanita tetaplah bukan ibunya, wanita itu tidak dapat memeluknya dan mengasihinya seperti anak kandungnya sendiri. Mengingat wanita paruh baya yang ia anggap sebagai ibu itu membuat hatinya meringis nyeri kembali, dia sudah terlalu egois kepada Chris. Pria itu berhak mendapatkan kehidupan yang lebih layak bila ia tidak terjebak di dalam masalahnya, di dalam masalah yang ayahnya buat.
Seandainya saja Christopher tidak mengenalnya, pria itu tentu mampu menarik keluarganya dari jurang kemiskinan. Chris tidak akan tinggal di area kumuh seperti Englewood. Pria itu akan memiliki bengkel mekaniknya sendiri, menyelesaikan kuliahnya seperti yang ia inginkan dan mengenal wanita yang mungkin akan membawanya ke tempat yang jauh lebih baik daripada apa yang bisa ia berikan.
Cara hanya bisa memberikannya sebuah rasa takut tanpa kepastian. Selama dua tahun menetap di rumah singgah bersama Alan, sesekali ia melihat Chris menatap foto ibu dan adik-adiknya. Pria itu tentu merindukan keluarga aslinya, keluarganya yang sesungguhnya, bukan keluarga buatan yang polisi ciptakan untuk keamanannya. Sebuah keluarga palsu yang pada akhirnya runtuh ketika polisi memutuskan untuk menghentikan program perlindungan saksi. Tanpa statusnya sebagai saksi di kepolisian dan posisinya sebagai istri sekaligus comare di Outfit, tidak da seorang pun yang akan percaya kepadanya.
Cara menghela napas, keputusannya meninggalkan Chris malam itu adalah keputusan yang terbaik. Chris tidak membutuhkannya, pria itu akan jauh lebih baik tanpanya. Ferro, walaupun ia tidak mencintai pria itu, dia bisa hidup dengannya, karena Ferro memahami dirinya, mereka sama.
Cara memiringkan badannya lalu duduk di atas kasur. Ia menarik napas dalam lalu terisak pelan, berharap siapa pun yang ada di balik pintu tidak mendengar suara tangisannya yang tertahan.
"Apa aku perlu membangunkannya?" Stella yang berdiri di depan pintu dengan sebuah baki di tangannya menatap Luca.
Luca menggelengkan kepalanya lalu menahan tangan Stella. "Kurasa sekarang bukan saat yang tepat."
"Kau tidak akan pernah bisa menemukan saat yang tepat." Stella berucap pelan, matanya menunduk menatap sarapan yang berada di atas baki.
"Benar sekali." Luca mengangguk. "Tetapi biarkanlah dia untuk saat ini."
***
"Oi." Mack si anjing gila memanggilnya, sebuah rokok tersemat di bibir pria itu. Chris tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat Mack tanpa rokok atau alkohol, pria itu nyaris selalu dalam keadaan setengah teler. Aroma rokok dan alkohol bahkan bisa disamakan dengan bau pria itu. "Apa kau bahkan bisa membunuh seseorang?" Mack bertanya kembali, tubuhnya menyender di kusen pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vendetta | ✓
Aksi"Semua benda punya harga. Bahkan manusia pun punya harga. Sekarang beritahu kepadaku, berapa hargamu?" Sebuah pertemuan singkat dengan pria itu membawa Cara Williams ke dalam sebuah lingkaran setan. Lingkaran yang mengurungnya, menguncinya, karena C...
